Belakangan jihad dan hijrah menjadi semboyan yang diteriakkan kaum fundamentalis agama, dengan maksud kembali ke tegaknya syariat Islam. Formalitas agama dalam bingkai menegara, menjadi cita-cita mereka. Seolah agama itu selalu hukum Tuhan yang wajib diterapkan.
Mereka mengambil diksi hijrah sebagai perlawanan atas globalisme yang diotaki liberalisme. Hijrah bagi pehamahannya adalah meninggalkan Barat ke Islam. Semua kembali ke Islam. Bahasa, seni, gaya pakaian, dan perilaku semua harus Islam. Terutama simbol terlebih dahulu. Strukturisasi agama atas negara adalah harapan besar mereka, cita-cita luhurnya. Ini artinya mewujudkan negara agama adalah perjuangan utamanya.
Jihad bagi kalangan fundamentalis (kaum panasan) adalah perlawanan atas golongan yang pro atas pemerintahan yang sah. Siapa pun pemerintahan jika tidak sepaham, maka adalah musuhnya. Logika begitu mirip Khowarij, dengan maksud firqoh satu ini selalu bersikap memaksa hukum Tuhan menjadi hukum negara. Meski juga bukan dimaksud Teokratisme. Anggapan dosa besar adalah tafsir sepihak untuk menghukumi muslim lainnya yang tidak mengikuti kehendaknya.
Dua diksi hijrah dan jihad saling kolaboratif satu sama lainnya sebagai “mainan” isu agama yang mereka perjuangkan bersama “invisible hand” kaum kapitalis yang juga berkepentingan dalam menjaga aset dan pundi-pundi eksploitatifnya. Yang utama adalah menjaga aset biar sekalipun moral bobrok.
Hijrah dihembuskan untuk menyokong cara pandang mereka terhadap eksistensi agama dengan klaim paling islami, paling syar’i. Tanpa terpikirkan perlunya sistem nilai dalam agama. Bahkan seruan jihad seperti puncak dari keberhasilan kapitalisasi atas benturan antar agama untuk kemudian menutupi “senyapnya” penjajahan dan dehumanisasi atas manusia. Kapitalisme adalah fenomena kekejaman yang didambakan oleh penganut paham karbitan dari ajaran agama yang sempurna.
Kaum intelektual yang ada di “menara gading” kampus mungkin perlu mencerahi artikulasi berbangsa dan bernegara ke semua pihak, agar ke depan bangsa Indonesia menemukan kembali jati dirinya sebagai bangsa Nusantara yang Bhinneka Tunggal Ika. Sikap kongkret dari mereka mutlak diperlukan sebagai tapal perjuangan ideologis.
Jihad kita hari ini adalah mujahadah melawan kebodohan dan keterbelakangan. Sebab keduanya menjadi pintu masuk kemunduran suatu bangsa. Jihad kita, khususnya kader NU adalah total gerakan pencerahan.
Agama jangan sampai dinodai oleh kebodohan dan jangan dikeberi oleh keterbelakangan. Agama adalah kebenaran ilahiyat, bukan kebenaran insaniyah. Sementara Tuhan menganjurkan untuk berbuat Hanif dalam beragama. Sebab kemanusiaan itu ditinggikan oleh cara kita beragama yang Hanif.
Jihad kita pula adalah membela kebenaran, meski dirasakan getir dan pahit. Kebenaran adalah jalan terang yang disediakan Tuhan untuk dilalui.
Jika boleh saya mengambil makna spritualitas dari mujahadah ini, maka ingin sekali mengambil kalimat bijak dari Sufi Besar Syaikh al-Arif Billah Ibnu Athoillah al-Iskandary dalam kitabnya Syarah Hikam (matan).
او رد عليك الوارد ليتسلمك من يد الاغيار و يحررك من رق الاثار. الاغيار و الاثار هي الاغرض الدنيوية و شهوة النفوس فهي غاصبة لك لحبك لها و سكونك إليها و اعتمادك عليها فاورد عليك الوارد ليتسلمك من يد من غصبك و يحررك من ملكية من استرقك فلا يكون للمخلوق فيك نصيب و لا شركة و تكون سالما لله عز و جل للحضور معه
Sang Syaikh ini, telah memberi arahan ke kita untuk mampu menyelamatkan diri dari kuasa makhluk dan membebaskan dari tipisnya pilihan keinginan. Keduanya adalah tujuan duniawi dan hawa nafsu yang tengah mengambil cintamu dari tujuan hidup di dunia. Bahkan tidaklah bagi makhluk (manusia) pada keadaan sendiri dan tidak bersama-sama kecuali mereka yang selamat karena ada bersama Tuhan.
Dengan pitutur di atas, maka sebaiknya jihad kita adalah jihad “membersamai” Tuhan di saat dan dalam kondisi apapun. Kita butuh Tuhan. Meskipun tanpa kita pun, Tuhan tetap akan jadi Tuhan.
Wakil Ketua PW Ansor Banten
Menyukai ini:
Suka Memuat...