Ampunan Kepada Bukan Acmad Zaky, Kebesaran Hati Jokowi dan Pil Introspeksi

637
BukaLapak
Ilustrasi (Net)

Kasus cuitan Acham Zaky, bos BukaLapak yang dianggap ingin mengganti presiden sekarang dengan presiden baru menuai badai dengan ramainya tagar #UninstallBukalapak. Kita tidak tahu persis seberapa banyak orang yang melakukan himbauan itu. Beruntung Bapak BukaLapak tidak marah terhadap orang yang LupaBapak sehingga pintu istana terbuka dan pengampunan dianugerahkan. Namun, apa kasusnya berhenti sampai di situ? Dampaknya masih terasa sampai saya menulis opini ini.

Achmad Zaky dan Cuitannya

Entah motivasinya apa, yang jelas Achmad Zaky men-tweet begini: “Omong kosong industri 4.0 kalau budget R&D negara kita kaya gini (2016, in USD) 1. US 511B 2. China 451B 3. Jepang 165B 4. Jerman 118B 5. Korea 91B 11. Taiwan 33B 14. Australia 23B 24. Malaysia 10B 25. Spore 10B 43. Indonesia 2B. Mudah2an presiden baru bisa naikin.”

Apa salah Acmad Zaky? Data yang tidak akurat dan tidak up to date. Kata ‘mudah2an ganti presiden?” Tidak salah! Itu pilihan dia pribadi. Dia boleh memilih Jokowi. Dia boleh memilih Prabowo. Itu demokratis. Lalu, di mana ‘salah’-nya?

Kalau dikatakan salah adalah karena namanya melekat dengan BukaLapak. Orang yang tidak senang dengan istilah ‘presiden baru’ tentu saja menjadi seterus. Itu pun hak mereka. Jika mereka merasa bahwa lebih baik memboikot produk atau jasa layanan orang yang tidak sekubu dengan mereka memuaskan dahaga mereka, Ahmad Zaky juga tidak bisa apa-apa. Itu pun sah-sah saja.

BukaLapak Mengharapkan Pintu Maaf Dibukakan

Kemarahan netizen yang pro-Jokowi dengan cuitan Achmad Zaky membuat mereka ramai-ramai memasang tagar #UninstallBukaLapak. Bola salju menggelinding semakin besar dan membangunkannya dari tidurnya. Bangun-bangun bola salju itu sudah menutupi sebagian lapaknya. Saat menyadari kerusakan yang sudah dia timbulkan, bos BukaLapak itu segera meminta maaf:

Baca Juga:  JIHAD DALAM MENERIMA TANTANGAN RADIKALISME

“Saya, Achmad Zaky selaku pribadi dan sebagai salah satu pendiri Bukalapak, dengan ini menyatakan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas pernyataan yang saya sampaikan di media sosial. Saya sangat menyesali kekhilafan tindakan saya yang tidak bijaksana tersebut dan kiranya mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya,” kata dia.

Saat Bantal Terlanjur Dibedah

Seorang wanita menyebarkan hoax jika seorang rohaniwan berzinah dengan umatnya sendiri. Begitu tahu bahwa berita bohongnya menghantam—maaf—bokongnya sendiri, dia buru-buru minta maaf kepada rohaniwan yang sangat dihormati umat itu.

“Sebelum Ibu datang, saya sudah memaafkan Ibu,” ujar rohaniwan itu bijak.

“Namun, hati saya tidak tentram. Rasa sesal membuat saya tidak bisa tidur,” kata si ibu memelas.

“Apa yang bisa bantu?”

“Tolong saya dihukum agar saya lega,” ujar ibu itu memelas.

“Baik kalau itu keinginan Ibu sendiri. Tolong besok pagi datang ke sini dan membawa bantal serta gunting,” ujar bapak rohani itu dengan kalem.

Meskipun kebingungan, ibu itu datang keesokan harinya sambil membawa bantal dan gunting.

“Apa yang harus saya lakukan?”

“Ayo ikut saya naik ke menara lonceng.”

Dengan kepala dipenuhi tanda tanya, ibu itu ikut naik satu anak tangga demi anak tangga berikutnya. Sesampai di atas, ibu itu bertanya, “Apa yang harus saya lakukan?”

“Gunting saja bantal itu menjadi dua dan hamburkan isinya.”

Dengan segera kapuk beterbangan.

Setelah bantal itu tinggal kain kosong, ibu itu bertanya, “Apa lagi yang perlu saya lakukan?”

“Turunlah dan ambil kembali semua kapuk yang Ibu keluarkan tadi.”

Tiba-tiba wanita itu pucat. “Mana mungkin? Bukankah kapuk tadi diterbangkan angin ke mana-mana?”

Sampai di situ wajah yang sudah pucat itu semakin pasi. Hukuman itu menyadarkannya bahwa berita bohong yang sudah dia sebarkan mustahil untuk ditarik kembali.

Baca Juga:  Perang Di Zaman Milenial

Menghentikan Bola Salju

Saat saya secara acak membuka berbagai situs media online mainstream cuitan Zaky ini memuncaki trending topic berhari-hari lamanya. Artinya suara bola salju yang menggelinding itu semakin kencang dan—jika tidak dihentikan atau dialihkan—bisa menjadi avalanche dan benar-benar mengubur lapak yang sudah dibangunnya bertahun-tahun.

Apa yang Achmad Zaky dan jajarannya yang seharusnya lakukan? Permintaan maaf memang sudah dia sampaikan secara terbuka. Apa cukup? Tentu tidak! Kerusakan sudah terjadi. Saya percaya, saat saya  menulis bagian ini, manajemen BukaLapak sedang bekerja keras memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi di sana sini.

Dari kasus boikot terhadap produk atau jasa tertentu, kita bisa pelajari benang merahnya. Pertama yang harus dilakukan—dan sudah dilakukan Acmah Zaky—adalah meminta maaf. Permintaan maaf ini harus benar-benar tulus dan tidak ada bulus di belakangnya. Soalnya saya membaca artikel yang menganggap permintaan Zaky tidak tulus. Saya percaya, permintaan maaf yang dilakukan dengan tulus pasti diluluskan.

Kedua, kompensasi. Jika ada perusahaan yang merasa dirugikan, salah satu dari klausul damai adalah memasang iklan permintaan maaf. Besar kecil dan seberapa kali iklan itu dimuat tergantung dari besar kecilnya kesalahan. Tim Zaky sendiri yang memutuskan.

Ketiga, di dalam klausul itu ada janji untuk tidak mengulangi lagi perbuatan itu. Bagian inilah yang paling sulit karena harus dibuktikan. Netizen yang sakit hati tidak begitu gampang diobati. Luka yang menganga membutuhkan usaha ekstra untuk menjahitnya. Rasa sakitnya pasti dahsyat. Ahmad Zaky perlu membuktikan bahwa tidak ada udang di balik rempeyek dengan ucapannya: “Mudah2an presiden baru bisa naikin.” Siapa presiden baru itu?

Keempat, orang yang sadar dari kesalahannya—istilah rohaninya bertobat—biasanya akan meminta ampun kepada Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap akal budi. Jadi, metanoia ini harus benar-benar nyata dan bukan fatamorgana apalagi kamuflase. “Rakyat sudah cerdas, Bung!” begitu kata yang sering kita dengar.

Baca Juga:  Energi Nuklir, Kunci Keberhasilan Ekonomi Kerakyatan, Berwawasan Lingkungan

Jadi, apakah BukaLapak akan terus membuka lapaknya? Saya kira pasti. Di samping yang anti cuitannya, pasti ada yang senang dengan kicauannya itu. Ada juga yang mampu memisahkan antara pemilik dan bisnisnya. Toh masih banyak orang yang menafkahi dan dinafkahi saat lapak terus buka.

Menurut saya, yang paling penting bagi Achmad Zaky adalah pelajaran di balik terlalu cepatnya jari mengetik dan terlalu dini burung berkicau. Kicauan bisa membuat orang senang dan terhibur, bisa juga membuat orang terbangun dari tidurnya, merasa terganggu dan ribut. Untung orang yang yang seharusnya terganggu justru melakukan tindakan yang teduh dengan harapan, lain kali jangan lagi membuat gaduh.