KLAIM
Virus korona baru atau covid-19 muncul karena adanya rapid test dan tes PCR (polymerase chain reaction). Klaim ini beredar di media sosial.
Pengguna Facebook Lois Lois membagikan klaim tersebut pada 28 Januari 2021. Akun itu mengunggah foto hasil tangkapan layar status yang berisi narasi bahwa negara Tanzania tidak memiliki kasus covid-19 karena di negara Afrika itu tidak pernah mengadakan rapid test dan tes PCR. “Gara2 ada alat setan Rapid dan PCR yg di sumbang Bill gate..Dunia kacau balau meyakini ada virus hanya karena adanya alat setan ini!!!!! Masih Main2 alat setan” tulis akun itu. ” tulis akun itu.
FAKTA
Dari hasil penelusuran, klain bahwa virus korona atau covid-19 muncul karena adanya rapid test dan tes PCR adalah salah. Faktanya, rapid test dan tes PCR merupakan metode yang berlaku untuk mendeteksi covid-19. Dilansir pemberitaan Medcom.id, ada tiga metode diagnosa covid-19 saat ini, yakni swab PCR, rapid antigen dan rapid antibodi. Ketiganya dianggap mampu mendeteksi seseorang terpapar covid-19, meski begitu swab PCR merupakan metode yang paling mendekati akurat dan masih menjadi gold standar dalam deteksi covid-19.
Sebab, antigen virus bisa dideteksi setelah beberapa hari setelah tertular. Sedangkan antibodi akan terbentuk tujuh hinga 14 hari setelah terpapar. Hal itu dikemukakan oleh dokter spesialis patologi klinik dari Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM dr. Titien Budhiaty, M.Sc., Sp.PK., dalam diskusi yang bertajuk Rapid Antibodi, rapid Antigen dan PCR apa bedanya?, Kamis, 28 Januari 2021.
Seperti diketahui, pemeriksaan lewat swab PCR dilakukan dengan mengambil sampel usap di hidung dan tenggorokan. Rapid antigen dilakukan dengan mengambil hasil usap di hidung. Sedangkan rapid antibodi dilakukan dengan mengambil darah si pasien.
Titien menjelaskan, bahwa ketiga alat deteksi cepat covid-19 ini sebenarnya bertujuan untuk mengetahui perjalanan penyakit covid-19 yang masuk ke dalam tubuh seseorang. Meski demikian untuk memastikan tertular dan tidaknya, hasil deteksi lewat swab PCR dianggap paling menentukan.
Sebab, lewat PCR bisa menentukan ada tidaknya virus, “Sementara dua alat deteksi lainnya lebih mengarah pada antigen virus dan terbentuknya antibodi,” katanya.
Namun begitu, pilihan untuk menggunakan alat deteksi lewat PCR untuk saat ini dirasakan biayanya cukup mahal untuk sekali pemeriksaan, sehingga masih memberatkan sebagian masyarakat. Menurut Titien, jika merasa ada gejala seperti demam, pilek atau batuk, tidak selalu mengarah pada gejala covid-19, namun tetap perlu dikonsultasikan ke dokter karena hampir banyak penyakit menimbulkan gejala yang mirip.
“Perlu periksa ke dokter, arahnya ke mana, jika perlu ada faktor pendukung seperti pemeriksaan di laboratorium,” ujarnya. Namun, gejala paling umum ditemukan pada penderita covid-19, menurut Titien, adalah munculnya flu, batuk, indera penciuman berkurang, diare atau badan terasa letih atau muncul sesak napas. “Namun, di penyakit lain juga ada seperti itu, yang penting tetap waspada, selalu berpikir yang baik-baik saja, jangan sampai stres,” katanya.
Pula, klaim Tanzania satu-satunya negara yang terbebas dari pandemi covid-19 juga salah. Berdasarkan data dariworldometers, Tanzania memiliki total kasus covid-19 terkonfirmasi sebanyak 509 kasus, per Jumat, 5 Februari 2021. Dengan rincian, 21 kasus meninggal dan 183 dilaporkan sembuh.
Referensi:
https://www.medcom.id/telusur/cek-fakta/zNA3aXvk-cek-fakta-benarkah-covid-19-muncul-karena-adanya-rapid-test-dan-tes-pcr-ini-faktanya
https://www.medcom.id/rona/kesehatan/3NOGEy3N-beda-polymerase-chain-reaction-pcr-dengan-rapid-test
https://archive.md/YY0Hy
SerikatNews.com adalah media kritis anak bangsa. Menyajikan informasi secara akurat. Serta setia menjadi platform ruang bertukar gagasan faktual.
Menyukai ini:
Suka Memuat...