Connect with us

Opini

Bung Aziz yang Saya Kenal: Menjejaki Politik Gagasan Aziz Syamsudin

Published

on

Dok. Serikat News

Paska dilantik di Gedung Kura-Kura Parlemen, Aziz Syamsudin, nama yang tak asing di kancah politik nasional hari ini, resmi menjadi pimpinan DPR periode 2019-2024, dengan membidangi fungsi Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Korpolhukam). Segudang pengalaman dan rekam politik Bung Aziz –sapaan akrabnya– memang cemerlang, meski sosoknya tak galib dibincangkan.

Dua kali terpilih menjadi anggota dewan, Bung Aziz tetap konsisten pada pikirannya yang muda: prinsipil tapi bersahaja, berani tapi tak anti kritik. Gagasan Bung Aziz selalu menawan, tapi namanya kadang dilupakan. Memang, sejak awal berkiprah di altar praksis politik, namanya tak terlalu terngiang di telinga publik. Bila hendak mencari nama politisi yang tenar, Bung Aziz mungkin akan jadi sosok eksepsi. Tapi bila hendak menilik ketangguhan pikiran politisi, Bung Aziz di antaranya.

Figurnya memang bukan selebriti politik. Capaian karier politik hingga kini bukan ‘bim-salabim’: ritme pengalaman dan pengabdiannya telah secara kontinu disusun jejak per jejak. Sejak 1994 hingga medio 2004, Bung Aziz adalah pengacara di Gani Djemat & Partner. Ilmu hukum memang menjadi konsentrasi akademiknya sejak di strata satu hingga doktoral. Fokus akademik itu juga ia bawa hingga ke parlemen: pada 2014-2019 Bung Aziz menjabat Ketua Komisi III DPR RI yang membidangi hukum, HAM, dan keamanan; sekarang menjabat sebagai Wakil Ketua DPR RI dengan bidang fungsi yang sama.

Bahkan, dalam politik, Bung Aziz adalah sosok yang autentik. Setiap identitias ‘arus bawah’ yang dibangun selalu mencerminkan keluwesan pikiran. Karakter ideologis dirinya ditampilkan dalam setiap aktivitas sosial-politik, sehingga setiap perjuangan gagasan terlihat berisi. Perjuangan gagasan yang ditempuh Bung Aziz memang beroperasi seolah tidak tampak (invisible), tetapi usahanya untuk merekonfigurasi identitas politik baru dengan diseminasi ide selalu terlihat dalam tindakannya. Barangkali karena alasan inilah, nama Aziz juga sempat santer diberitakan sebagai bakal calon Gubernur Jakarta 2012-2017.

Baca Juga:  Hilangnya Akal Sehat DPR

Bagi dirinya, politik gagasan adalah raison de etre. Nalar politik publik dinilainya mesti dirawat tidak sekadar melalui hak suara lima tahunan, tetapi dengan semaian ide-gagasan. Bung Aziz adalah sosok yang hendak merawat kecakapan nalar politik publik dari dalam, melalui sistem. Sampai kini, Aziz tak pernah jengah melakukan usaha pemberdayaan (machtvorming) masyarakat kecil, sehingga keras tanpa kompromistis pada kebijakan yang mengerdilkan masyarakat– yang oleh dirinya disebut ‘komunitas makna’.

Dalam seni politik, rekam historik Aziz Syamsuddin mampu memadukan dua gagasan kunci, sebagaimana diistilahkan Nietzsche dalam The Birth of Tragedy: Apollonian dan dyonisian. Dulu, Nietzsche menggunakan dua istilah seni itu melalui semangat arkaik masyarakat Yunani. Apollonian mencerminkan keindahan, kekuatan, dan keharmonisan. Ia cenderung gigantis, mapan, indah, dan penuh keteraturan. Sementara dynosian selalu mencerminkan ironi, kecemasan, melankolia, dan gugatan atas kemapanan.

Dua variabel itulah yang diyakini Aziz selalu menyatu dalam praksis sosio-politik. Politik, sebagaimana disebutkan banyak pemerhati, menjadi siasah demi membangun kemaslahatan publik. Ia juga menjadi seni apollonian yang dipercaya banyak orang sebagai cara taktis kesejahteraan. Namun di sisi berbeda, laku politik tak jarang juga dibumbui pengorbanan, melankolia, dan perjuangan anti status quo.

Denyut Politik Pemuda

Dedikasi dan militansi Bung Aziz mencerminkan ghirah seorang muda. Tetapi, muda tidak hanya diukur melalui angka dan umur, melainkan dengan pikiran yang jauh ke depan. Sejarawan Arnold Toynbee mengistilahkan ghirah itu sebagai ‘the creative minority‘. Memang benar: Aziz adalah bagian dari kelompok kecil pemuda dengan semangat menggelora, sebagaimana pekik semangat pemuda dulu mengusir agresi Belanda.

Di tengah merebaknya floating mass pemuda emoh politik waktu itu, Bung Aziz tampil sebagai sosok yang menolaknya. Pemuda, kata dia, menjadi tonggak politik nasional dengan gelora juang yang tak habis-habisnya. Ia memang tandas menolak gerontokrasi, tetapi semangat muda baginya tak diukur melalui umur. Denyut politik pemuda diasahnya saat Bung Aziz menjadi Ketua Umum Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) yang dijabatnya pada 2008 hingga 2011.

Baca Juga:  Jangan Hanya Berisik Di Medsos!

Tanpa mengunggulkan klasifikasi muda-tua, pemuda dalam politik selalu mendedahkan kreasi segar dan menggelora. Sejarah juga telah menulis dengan tinta emas soal keunggulan garda perjuangan kaum muda. Tak heran, keberanian anak muda melahirkan decak kagum intelektual cum Indonesianis Benedict Anderson yang dituangkannya dalam buku Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance.

Meski begitu, Bung Aziz tak hendak ‘selesai’ dengan sejarah nostalgik perjuangan pemuda masa lampau. Tantangan hari ini akan sangat berbeda di tengah era post truth yang tampak semua terlihat kabur. Menurutnya, perjuangan pemuda hari ini bukan melalui bambu runcing dan bedil, tetapi ketangguhan gagasan dan optimisme demi membangun manusia Indonesia unggul: canggih berdaya saing global tapi beradab dan tak menihilkan kemanusiaan.

Perlawanan pikiran kalangan muda juga pernah ditampilkan founding father masa lampau. Bung Karno, misalnya, menantang koloni dengan pledoi-nya yang populer, Indonesia Menggugat. Pada 1913, Ki Hajar Dewantara melontarkan kritik kepada penjajah dalam artikelnya “Seandainya Aku Orang Belanda”. Hal yang serupa juga dilakukan Tan Malaka dalam karyanya yang masyhur, Naar de Republik. Pikiran semacam itu, bagi Aziz, yang mesti tetap konsisten digandrungi sebagai spirit politik pemuda.

Advertisement

Popular