Dibalik Kelambu Kemelut Garuda

38
Garuda
Foto: Busana Kebaya Garuda baru Anne Avanti

Masalah Maskapai Garuda menjadi banyak perhatian orang dalam satu minggu ini. Kasusnya bukan main-main, “Make Up Laporan Keuangan”, sebuah usaha melakukan rekayasa angka laporan keuangan dengan memasukkan piutang sebagai realitas pendapatan. Kasus ini yang sebenarnya hanya persoalan interpretasi dari sudut standar Akuntansi lantas melebar jadi  “Politicking di internal Perusahaan” yang gemanya sampai ke luar. Persoalan menjadi semakin serius ketika “market” di Pasar Modal mulai mengendus bahwa tuduhan yang disampaikan oleh sebagian komisaris dan pihak-pihak otoritas terkait menjadi sumir, harga saham yang sebelumnya anjlok malah menguat, “market” seakan paham ke mana kasus Garuda ini bergerak, ketika Menteri BUMN Rini Soemarno buka suara dan secara perlahan tersibak permainan untuk menguasai saham Garuda dengan harga murah.

Lalu siapakah yang ingin menguasai saham Garuda, dan pihak-pihak yang ingin mengendalikan Maskapai Garuda sehingga Maskapai ini secara tak langsung lepas kontrol dari kebijakan negara soal industri penerbangan yang terkait langsung dengan industri Pariwisata. Membicarakan Garuda tak lepas dari “situasi rilis IPO” tahun 2011 yang berantakan dan gara-gara gagal strategi IPO harga saham IPO Garuda ambruk. Ambruknya saham Garuda ternyata juga membawa beban bagi tiga sekuritas negara seperti PT Danareksa Sekuritas, Mandiri Sekuritas dan Bahana Sekuritas, tiga perusahaan BUMN Pasar Modal itu terpaksa membeli saham yang tak terserap di pasar IPO karena perjanjian full commitment pada IPO Saham Garuda.

Menteri BUMN saat itu dijabat Mustafa Abubakar, kemudian digantikan Dahlan Iskan yang juga pening soal saham Garuda ini, kemudian muncullah CT yang seakan menyelamatkan puyengnya Menteri BUMN Dahlan Iskan. Saat ini tercatat grup CT memiliki 25,62% saham Garuda.

Foto: Busana Kebaya Garuda baru Anne Avanti

Setelah negara, maka  Chairul Tanjung atau CT menguasai saham Garuda, dan CT menempatkan orang-orangnya di internal Garuda yang operatornya adalah Donny Oskaria dan Chairal Tanjung (adik kandung Chaerul Tanjung) sebagai komisaris.

CT yang mengambil saham Garuda saat bentuknya “Itik Buruk Rupa” tiba-tiba mendapati Garuda seperti “Angsa Telur Emas”. Pada masa Pemerintahan Jokowi jilid dua diperkirakan harga saham Garuda melesat cepat karena “politik konektivitas Nusantara” digenjot habis-habisan oleh presiden serta adanya lonjakan turis asing seiring dengan dibukanya beberapa destinasi wisata yang menyebar ke pelosok Nusantara, belum lagi politik tata ruang kota yang menjadikan 10 wilayah sebagai daerah metropolitan baru. Jelas potensial gain saham Garuda seperti Elang Jawa yang melesat cepat.

Baca Juga:  Nasi Goreng

Menilik susunan pemegang saham dan benturan-benturan berita yang berkembang tercium adanya konflik kepentingan antara CT dengan Rini Soemarno selaku Menteri BUMN. Di sini Rini berjuang untuk membawa visi Jokowi dalam pembenahan restrukturisasi Garuda, sementara CT ditengarai memiliki agenda lain atau agenda-agenda tersembunyi dalam menguasai saham Garuda, atau dengan kata lain ada kemungkinan pihak CT melakukan aksi “Hostile Take Over” Saham Garuda dengan harga murah.

Maskapai Garuda Indonesia punya posisi sangat penting bagi kepentingan Pemerintahan Jokowi-Amin 2019-2024, Maskapai Garuda adalah “Great Branding” bagi Jokowi dalam menjadikan Indonesia sebagai pemain bisnis pariwisata jajaran atas di Asia. Garuda juga menjadi pertaruhan besar bagi Pemerintahan Jokowi dalam mengembangkan “Persepsi Posisi Negara” dalam kancah geopolitik. Para pengamat industri penerbangan juga para analis-analis saham di Pasar Modal mengerti posisi emosional Garuda bagi orang Indonesia adalah intangible aset sangat tinggi sekali. Maskapai Garuda bagi orang Indonesia adalah “Nasionalisme itu sendiri”, sebuah pesan pembawa bendera merah putih di sepenjuru dunia. Di jaman Jokowi, BUMN mendapatkan pengawasan ketat sehingga tidak ada lagi BUMN menjadi cash cow (sapi perah) bagi para pemain politik. Penempatan CEO–CEO didasarkan pada kemampuan profesional, sehingga ketika Ari Ashkara naik, maka saham Garuda melejit cepat dari posisi Rp230,- melejit sampai posisi Rp635,- sebelum kemudian ada semacam “kambing hitam” perbedaan interpretasi laporan keuangan yang kemudian menjadi bernuansa politis.

Persoalan Garuda hanya pada “berantakannya manajemen” dan ketidakjelasan arah perusahaan, juga banyaknya “tikus-tikus” yang bermain di pengadaan sehingga Garuda tidak efisien, artinya Garuda ini punya prospek jangka panjang bila CEO-nya mampu membereskan soal itu. Kasus Emir Satar, eks Dirut Garuda menjelaskan bagaimana tikus-tikus bagian pengadaan bermain sangat ganas, ditambah lagi beban berat Garuda di masa lalu sebagai perusahaan sapi perah para pemain rente dan politisi sehingga harga sahamnya saja sangat jelek, bagaimana bisa sebuah perusahaan yang jadi etalase Republik, lebih murah dari harga tahu sumedang. Inilah yang menjadi basis pemikiran Jokowi merestrukturisasi Garuda sebagai “Perusahaan Etalase Republik”. Pola pembangunan Jokowi yang berbasis konektivitas Nusantara dan terciptanya wilayah-wilayah perkembangan baru, jelas membutuhkan maskapai penerbangan yang bisa menjadi motor atas konektivitas itu, dan Garuda menjadi sentral penting atas peran itu. Harga saham Garuda sekarang jelas kelewat murah (underprice) bila dikorelasikan dengan visi Jokowi, di mana politik perpindahan ibukota dan politik tata ruang kota berbasis percepatan wilayah-wilayah metropolitan baru dibentuk membuat saham Garuda seperti gadis manis di tepi kali—cantik sekali.

Baca Juga:  Belajarlah Seperti Joko Widodo

Lalu bagaimana dengan Ari Ashkara, yang namanya tiba-tiba menjadi bahan pembicaraan bukan saja di kalangan elite BUMN tapi sudah menjadi diskusi publik ramai di media-media nasional. Jawaban soal Ari Ashkara ini sebenarnya sudah dijawab ringkas oleh Rhenald Kasali, dengan bahasa lugas: Ari ditugaskan melawan ‘logika-logika lama’. Ini artinya bicara Garuda, sama seperti perusahaan-perusahaan besar lainnya, semuanya mengalami ‘great shifting’, pergeseran besar, Garuda bukan lagi sebuah perusahaan berkultur priyayi, di mana kita ingat dulu di tahun 80-an waktu bandara masih di Kemayoran atau awal-awal Bandara Sutta berdiri, kalau kita naik Garuda seperti orang mau lebaran, semua pakai baju rapi. Tapi sekarang naik Garuda seperti hal yang biasa, hanya saja Garuda punya kelebihan dibandingkan maskapai-maskapai lain, ia seperti kebanggaan orang Indonesia bila menumpang Garuda. Karena Garuda memberikan nuansa lebih ‘tidak sekedar terbang’  Garuda sudah bagian dari selfie-selfie generasi baru, sudah menjadi bagian dari kehidupan sosial media milenial. Lebih jauh lagi, Garuda menciptakan ruang destinasi baru tapi juga membangun kultur perusahaan yang fast growing atau tumbuh cepat, ini yang kurang dibaca para otoritas dalam melihat Garuda sebagai sebuah “Great Shifting” dari jaman full birokrasi menuju jaman digital milenial.

Garuda memang punya masalah soal harga tiket, tapi masalah itu akan selesai bila kemudian akumulasi keuntungan dan perluasan wilayah bisnis bisa tercipta, karena bisnis airlines sekarang bukan sekedar “jual tiket” tapi lebih jauh soal akumulator terciptanya arus manusia baik sebagai destinasi wisata maupun terbentuknya pusat-pusat kota baru.

Salah satu lompatan keberhasilan Ari Ashkara justru ketika ia menggandeng perusahaan start up dengan model bisnis yang menguntungkan, bayangkan dalam setahun perusahaan seperti Garuda, Citilink dan Sriwijaya mencapai 45 juta orang/tahun, jadi berapa banyak potensi nilai iklan yang didapat dengan jumlah seperti ini. Ditambah lagi kebutuhan penumpang pesawat terhadap internet di tengah laju jaman seperti ini. Bila kemudian dibangun jaringan wifi, perlu biaya lagi. Ada perusahaan masuk tanpa meminta biaya justru memberikan nilai kontrak berupa pemasukan atas jaringan internet sebesar $4 sementara potensi pendapatan dari sana berupa US$54 juta dollar/tahun. Di sinilah Garuda membalikkan kerugian menjadi keuntungan, Garuda tidak sekedar sebuah armada penerbangan, tapi ia bagian besar industri periklanan yang melayang di udara, namun hal ini tidak masuk ke alam pikiran generasi lama, great shifting tidak dipahami kemudian muncullah kasus perbedaan interpretasi soal-soal akuntansi, namun yang meledak di publik tuduhan jahat adanya rekayasa laporan keuangan.

Baca Juga:  Mengembalikan Jiwa Parpol Alat Perjuangan Rakyat

Ari Ashkara, jelas digebuk  karena punya potensi menaikkan saham Garuda oleh mereka yang punya kepentingan saham Garuda di harga rendah agar secara senyap bisa dikuasai. Kontraknya dengan Mahata menjadi titik kunci melajunya saham Garuda. Belum lagi perluasan bisnis Garuda seperti jaringan hotel-hotelnya yang dikelola anak perusahaan Aerowisata mulai menggeliat. Bisa saja bila Ari berhasil menciptakan kontrak jaringan konektivitas, malah menambah landbank-landbank untuk pembangunan hotel dan resort sebagai destinasi wisata khusus dibuka Garuda, maka maskapai Garuda menjadi maskapai papan atas di Asia.

Cibiran Rini Soemarno kepada dua orang komisaris Garuda di kubu CT, harus dibuka ke publik kemudian munculkan pertanyaan besar “ada kepentingan apa kubu CT mencuatkan kasus laporan keuangan. Apalagi setelah masuknya Ari ke Garuda, harga saham melonjak. Market percaya terhadap Garuda. Kasus laporan keuangan sebenarnya sudah dijawab oleh Menteri BUMN Rini Soemarno, dan dialokalisir menjadi persoalan persepsi standar-standar akuntansi, jangan kemudian melebar menjadi soal-soal politis seperti hukuman pada direksi, bagaimana bisa soal laporan keuangan itu bagian dari problem KAP (Kantor Akuntan Publik) kemudian disebarluaskan menjadi ‘pencopotan direksi’.

Sayang bila orang-orang pintar macam Ari Ashkara ini digebukin karena ingin BUMN maju.