SERIKATNEWS.COM – Jumlah Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. ODHA di DIY per Juni 2022 berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY, jumlahnya mencapai 6214 kasus. Dari ribuan kasus HIV tersebut, 1966 di antaranya terdeteksi AIDS. Hal ini mendorong upaya untuk melakukan pengendalian dan pencegahan terhadap kasus HIV/AIDS.
Lusiani, perwakilan dari Dinkes DIY dalam acara “Pertemuan Peningkatan Kapasitas Jurnalis Terkait HIV & AIDS,” menjelaskan bahwa upaya pengendalian dan pencegahan HIV/AIDS di DIY salah satunya dapat dilakukan dengan menurunkan stigma dan diskriminasi pada fasilitas pelayanan kesehatan melalui kegiatan workshop IPSD (intervensi penurunan stigma dan diskriminasi).
“Karena tidak bisa kita pungkiri juga bahwa masih ada petugas-petugas di fasilitas kesehatan yang masih memberikan stigma terhadap pasien penderita HIV/AIDS,” jelasnya pada Kamis, (1/9/2022).
Diskriminasi dan stigma negatif pada ODHA tak jarang juga ditemukan dalam kehidupan masyarakat. Contohnya, dalam kehidupan sehari-hari anak penderita HIV/AIDS tidak diterima sekolah karena status medisnya, dalam lingkungan kerja ODHA mendapatkan pemutusan hubungan kerja sepihak, atau sulitnya mengakses berbagai fasilitas.
Bila terus berlanjut, hal ini memberikan dampak seperti hilangnya hak ODHA sebagai masyarakat pada umumnya. Juga membuat ODHA tidak memiliki kesempatan yang sama seperti masyarakat lainnya. Padahal dalam BAB III Pasal 8 Peraturan Daerah DIY No. 12 Tahun 2010 tentang Penanggulangan Human Immunodefficiency Virus (HIV) dan Acquired Immuno Defficiency Sindrome (AIDS) disebutkan bahwa ODHA berhak terbebas dari stigma diskriminasi.
Diskriminasi dan stigma negatif yang ada di masyarakat disebutkan terjadi akibat minimnya informasi tepat yang diterima masyarakat terkait HIV/AIDS. “Sampai hari ini, HIV masih dianggap menjadi penyakit kutukan, penyakit homoseks, tidak ada obat untuk menyembuhkan, padahal sekarang sudah ada obat meski tidak untuk menyembuhkan, tapi untuk menurunkan virus yang ada di dalam tubuh namanya obat anti retroviral,” kata Komisi Penanggulangan AIDS DIY, Laurensia Ana Yuliastanti Iriani.
Menyukai ini:
Suka Memuat...