Fenomena “Bullying” Pada Anak Dan Remaja

79
Bully

Kasus “bullying” di lingkungan remaja kembali terjadi. Bukan saja verbal tetapi merambah kekerasan fisik. Kasus Audrey siswi SMP di Pontianak, Kalimantan Barat yang menjadi korban perundungan atau “bullying” dengan tindak kekerasan pengeroyokan sejumlah siswa SMA menjadi satu kasus yang perlu menjadi perhatian bagi semua lapisan masyarakat maupun orang tua. Tentu saja, kasus bullying ini langsung menghebohkan dunia maya dan viral dengan tagar #JusticeForAudrey. Sebenarnya kasus bullying atau perundungan ini sudah sering terjadi di lingkungan sekolah, bukan saja bullying dalam bentuk verbal, emosional terkadang secara fisik dan cyber bullying pun kerap terjadi. Fenomena ini ibarat gunung es, dan ini hanya puncaknya saja yang terlihat. Artinya masih banyak kasus bullying atau perundungan yang kasusnya tidak tampak di permukaan. Dan hal ini bukanlah masalah yang sepele. Data dari UNICEF Indonesia di tahun 2016 menyebutkan bahwa 41 hingga 50 persen remaja di Indonesia dengan rentang usia 13 sampai dengan 15 tahun pernah mengalami tindakan cyber bullying. Bahkan data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan sejak tahun 2011 hingga 2016 ditemukan sekitar 253 kasus bullying, di antaranya sekitar 122 anak menjadi korban dan 131 anak menjadi pelaku. Data lain dari Kementerian Sosial pun tidak jauh berbeda, hingga di pertengahan tahun 2017, laporan yang masuk sebanyak 967 kasus. Sebanyak 117 kasus di antaranya kasus “bullying atau perundungan” dan tentu ini di luar kasus bullying yang tidak dilaporkan. Pada tahun 2018 data KPAI menyebutkan dari total 455 kasus pada data bidang pendidikan bahwa kasus bullying atau perundungan terdapat 161 kasus dan di antaranya 41 kasus adalah kasus anak pelaku kekerasan dan bullying, sekitar 228 kasus kekerasan dan selebihnya kasus tawuran pelajar dan kasus anak korban kebijakan.

Pelaku bullying atau perundungan traditional maupun cyber bullying banyak didominasi para remaja dan ini cukup naik signifikan di kalangan remaja pengguna internet dan media sosial termasuk dengan body shaming. Mengapa hal ini sering terjadi di kalangan remaja yang notabenenya tergolong generasi milenial? Para remaja milenial ini butuh sebuah pengakuan dari lingkungan sekitar maupun sebuah komunitas atau kelompok untuk bisa diterima, dan para pelaku bullying atau perundung cenderung merasa puas apabila korbannya ketakutan. Di sini pelaku merasa kuat dan berkuasa sehingga menjadi populer di kalangannya. Mereka dengan komunitas atau kelompok yang diikuti cenderung mengikuti isu atau tren yang lagi populer di kalangan remaja, baik yang viral di dunia media sosial maupun di lingkungan nyata sosial masyarakat. Sayangnya tindakan ini tidak diimbangi dengan kemampuan remaja dalam mengontrol emosi mereka sendiri. Remaja pada fase ini mengalami perubahan pergerakan emosi dan sosial lingkungannya, merasa selalu ingin terdepan dan tidak mau tersaingi mendominasi perilaku remaja tersebut. National Academies of Science, Engineering and Medicine mengklasifikasikan bullying atau perundungan sebagai masalah kesehatan masyarakat serius yang terjadi di seluruh dunia. Bullying dapat merusak mental dan kepribadian seseorang, korban akan merasa malu, frustrasi, dan depresi, bahkan dengan pikiran-pikiran bahwa mereka tidak mempunyai teman dan susah bergaul di sosial masyarakat karena menjadi tertutup dan kesepian. Bahkan pada tingkatan tertentu korban akan merasa tertekan sehingga kecenderungan bunuh diri akan muncul pada pikiran mereka.

Baca Juga:  Tragedi Dramaturgi Politik “Kardus” 2019

Hal ini perlu menjadi perhatian khusus dari para orang tua dalam mengawasi tindak dan perilaku si anak, ditambah dengan pengawasan penggunaan internet dan media sosial anak perlu ditingkatkan, sebab video yang beredar atau viral di media sosial cenderung mempengaruhi perilaku si anak seperti fire challenge atau tantangan membakar diri yang sempat viral di media sosial menjadi salah satu dampak negatif pada perilaku remaja. Sebab dengan viralnya video challenge ini para remaja melakukan pembuktian diri mereka di komunitas atau kelompok bahwa mereka , sebab kecenderungan para remaja milenial adalah mengikuti tantangan serta unjuk keberanian lalu memviralkan untuk mencari popularitas. Terjadinya bullying atau perundungan ini juga disebabkan lemahnya pengawasan dan peran orang tua dalam kehidupan si anak. Dampak dari kurangnya kasih sayang, perhatian dan komunikasi dengan anak menjadi salah satu penyebab bullying atau perundungan pada anak. Pertanyaannya adalah sejauh mana peran orang tua dan masyarakat dalam menghadapi kasus bullying atau perundungan ini?

Upaya Mencegah Bullying atau Perundungan

Memahami peran dalam lingkaran bullying atau perundung pada anak perlu dilakukan bagi orang tua, guru dan masyarakat. Ada berbagai peran di antaranya perundung adalah remaja atau siswa yang berperan aktif dan berinisiatif di dalam bullying dan dia dikategorikan pemimpin. Asisten Bully atau perundung biasanya terlibat aktif pada bullying, namun cenderung mengikuti perintah si pemimpin. Reinfocer adalah mereka yang ada di tempat ketika kejadian bullying atau perundung terjadi dan biasanya ikut menyaksikan dan menertawakan korban, bahkan mengajak siswa lain untuk menonton. Defender adalah orang-orang yang berusaha untuk membantu dan membela korban, namun pada akhirnya dia pun ikut menjadi korban juga. Outsider adalah orang-orang yang tahu hal itu terjadi, namun tidak melakukan apa pun, dan seolah-olah tidak peduli.

Baca Juga:  Istana, Benda Seni dan Ruang Budaya

Hal yang dapat kita lakukan selaku orang tua adalah dengan memperbaiki, membangun dan meningkatkan komunikasi dengan anak dan memberikan perhatian serta kasih sayang. Komunikasi yang perlu dibangun bukan saja satu arah, tetapi komunikasi dua arah. Di sini orang tua berperan aktif mengajak anak bercerita atau menceritakan kegiatan mereka di sekolah, serta melakukan pengawasan dalam penggunaan internet dan media sosial dengan memberikan pemahaman literasi media digital pada si anak. Orang tua diharapkan mampu memberikan gambaran penggunaan internet dan media sosial mana pengaruh yang baik bagi si anak dan mana pengaruh yang buruk bagi kehidupan perilaku si anak. Dan tentunya dengan mengubah pola asuh pada anak diharapkan juga dapat mencegah anak menjadi pelaku bullying atau korban bullying. Peran guru dalam memberikan pendidikan kecerdasan emosional pada anak di sekolah pun perlu dilakukan. Sebab sebagian besar waktu anak adalah berada di sekolah. Sehingga para guru pun perlu meningkatkan kualitas diri dengan mengikuti pelatihan untuk mengajarkan kecerdasan emosional tersebut ditambah peran aktif guru dalam berkomunikasi dan mengawasi anak didik di sekolahnya perlu juga ditingkatkan. Sedangkan bagi masyarakat perlu untuk lebih berperan aktif apabila melihat suatu tindak bullying atau perundungan maupun kekerasan lainnya untuk segera melerai, sehingga tindakan tersebut dapat dicegah.

Perlu diingat kembali bahwa upaya mencegah bullying atau perundungan  ni bukan lagi menjadi PR pemerintah, namun sudah menjadi PR bagi kita semua. Sebab kasus bullying atau perundungan sudah menjadi masalah kesehatan serius pada lingkungan sosial bermasyarakat saat ini. Bagi korban bullying dan perundungan perlu diberikan penanganan segera dalam trauma healing psikis si korban serta dukungan moral dari orang tua maupun lingkungan sekitarnya dalam upaya mengembalikan kepercayaan diri dalam bergaul dengan masyarakat. Bagi pelaku bullying dan perundung bila masuk dalam tingkat kekerasan verbal dan fisik perlu diberikan sangsi sesuai dengan UU No. 35 tahun 2014 tentang perubahan UU No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak serta UU No. 11 tahun 2012 tentang sistem peradilan pidana anak.