YOGYAKARTA – Pengelolaan sampah tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai upaya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi harus menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat dan penggerak ekonomi lokal. Semangat tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam kegiatan Launching Inovasi Manajemen Sampah Terpadu dan Pengolahan Sampah Plastik Menjadi Bahan Bakar Petasol yang diselenggarakan di Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (9/6/2026).
Kegiatan yang mempertemukan unsur pemerintah, lembaga riset, dunia usaha, dan komunitas tersebut dihadiri oleh Presiden Direktur Pertamina Foundation, Agus Mashud S. Asngari, Staf Ahli Bidang Ekonomi Maritim Kementerian Koordinator Bidang Pangan Sugeng Santoso, jajaran Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kementerian Lingkungan Hidup, serta Pemerintah Kabupaten Bantul.
Dalam sambutannya, Agus Mashud S. Asngari menegaskan bahwa Pertamina Foundation meyakini pembangunan berkelanjutan hanya dapat terwujud apabila inovasi mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus menjawab tantangan lingkungan.
“Kami percaya bahwa sampah tidak boleh berhenti menjadi persoalan. Sampah harus diubah menjadi peluang. Ketika masyarakat mampu mengelola sampah menjadi energi dan produk yang bernilai ekonomi, maka yang tumbuh bukan hanya kualitas lingkungan, tetapi juga kemandirian ekonomi masyarakat,” ujar Agus Mashud S. Asngari.
Menurutnya, program yang dikembangkan bersama KSM Pilah Berkah di Bantul menunjukkan bahwa transformasi sosial dapat dimulai dari tingkat komunitas. Melalui dukungan teknologi, pendampingan, dan kolaborasi multipihak, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi menjadi pelaku utama perubahan.
“Keberhasilan sebuah program bukan hanya diukur dari teknologi yang digunakan, tetapi dari seberapa besar manfaatnya dirasakan masyarakat. Karena itu Pertamina Foundation terus mendorong lahirnya inovasi yang mampu memperkuat kapasitas komunitas sekaligus menciptakan dampak lingkungan yang berkelanjutan,” lanjutnya.
Agus Mashud menjelaskan bahwa pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar Petasol merupakan contoh nyata penerapan ekonomi sirkular yang mampu menghubungkan aspek lingkungan, energi, dan kesejahteraan masyarakat dalam satu ekosistem pembangunan.
Ia berharap model yang berkembang di Bantul dapat direplikasi di berbagai daerah lain sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih mandiri, produktif, dan berdaya saing.
Pada kesempatan yang sama, Staf Ahli Bidang Ekonomi Maritim Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Sugeng Santoso, menyampaikan bahwa pengelolaan sampah memiliki posisi strategis dalam agenda pembangunan nasional karena berkaitan langsung dengan ketahanan pangan, transisi energi, pengendalian emisi, dan pengembangan ekonomi hijau.
Menurut Sugeng, inovasi yang lahir di Bantul menunjukkan bagaimana persoalan lingkungan dapat diubah menjadi sumber nilai ekonomi baru yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus mendukung target pembangunan berkelanjutan Indonesia.
Sementara itu, BRIN menegaskan pentingnya kolaborasi antara lembaga riset, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam mempercepat hilirisasi hasil penelitian menjadi solusi yang dapat diterapkan secara langsung di lapangan.
BRIN memandang inovasi pengolahan sampah menjadi bahan bakar sebagai contoh konkret bagaimana hasil riset dapat menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat pengelolaan lingkungan yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Pemerintah Kabupaten Bantul juga mengapresiasi dukungan Pertamina Foundation, BRIN, dan berbagai pihak yang telah berkontribusi dalam pengembangan sistem pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat. Kolaborasi tersebut dinilai menjadi fondasi penting dalam menciptakan model pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan sosial.
Melalui peluncuran inovasi Petasol ini, Bantul menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat menjadi pintu masuk bagi lahirnya ekonomi sirkular yang melibatkan masyarakat sebagai aktor utama pembangunan. Dengan dukungan pemerintah, dunia riset, dan sektor swasta, inovasi lokal diharapkan mampu berkembang menjadi gerakan yang memberikan dampak lebih luas bagi lingkungan, ekonomi, dan masa depan pembangunan Indonesia.
Menyukai ini:
Suka Memuat...