ADA beberapa hal yang harus dideteksi dan diantisipasi karena beberapa isu saat ini akan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa, baik dalam negeri maupun luar negeri. Di antara isu-isu tersebut saling berkaitan.
Di dalam negeri ada isu soal Pergantian Panglima TNI, bangkitnya sel-sel baru terorisme hingga PON Papua. Dan isu luar negerinya adalah gejolak di Laut China Selatan serta kesiagapan negara-negara dalam menghadapi pandemi covid yang masih berlangsung saat ini.
Lalu dalam ihwal memilih Panglima TNI, Presiden harus mencermati bahwa Panglima TNI yang baru harus bisa memahami kondisi lingkungan strategis saat ini ketika dunia masih dihadapkan dengan perang melawan pandemi. Di sisi lain gejolak geopolitik yang kerap memanaskan situasi khususnya di laut China Selatan. Harus menjadi warning tersendiri baik negara, kepentingan nasional dan kedaulatan bangsa harus dijunjung tinggi. Serta isu panglima TNI ini jangan sampai menimbulkan gesekan antar matra, ketika banyak pihak yang kerap memanaskan situasi. Padahal Politik TNI adalah politik negara. Siapa pun panglimanya yang dipilih oleh Presiden, dirinya sudah diwakafkan untuk bangsa dan negara.
Selanjutnya soal bangkitnya sel-sel baru terorisme, ada yang menjadi pertanyaan dasar bahwa Pasca 2 Dekade Serangan 9/11. Akankah dunia sudah aman dari ancaman terorisme? Menurut saya semakin mengkhawatirkan. Di mana Al-Qaeda sendiri maupun kelompok serupa diketahui masih menjadi ancaman serius bagi keamanan dunia saat ini.
Di sisi lain, Taliban yang berhasil menguasai Afghanistan akan membuka peluang bangkitnya Al-Qaeda secara tak langsung. Dan sel-sel mereka di Indonesia seperti Jamaah Islamiyah, dll. akan terus meregenerasi kelompoknya untuk membangun kembali kekuatan. Oleh karena itu kita harus waspada. Jangan lengah sedikitpun.
Dan yang perlu kita waspadai lagi adalah ketika gerakan ideologi transnasional semakin merangsek masuk ke kalangan milenial. Seperti yang diungkapkan oleh Badan Intelijen Negara menurut hasil deteksinya, bahwa generasi milenial sasaran empuk kelompok transnasional untuk memprovokasi anak muda agar bergabung menjadi bagian sel sel barunya.
Selanjutnya perlu kita sadari bahwa kita berada di dalam fase warning of danger disaat emergency situation menjelang pembukaan PON di Papua. Ketika negara harus mampu membaca ancaman yang muncul karena adanya kepentingan yang didukung oleh niat dan kesempatan. Tentunya dengan mendeteksi serta mengidentifikasi potensi potensi kerawanan yang akan muncul. Seperti terbongkarnya oknum PNS yang berkhianat kepada negara dengan memasok senjata ke KKB, dan semakin beberapa aparat kita baik TNI maupun Polri dalam beberapa waktu ini kerap berguguran, yang terbaru adalah tertembaknya salah satu anggota Brimob oleh kelompok KKB di Kiwirok.
Ini semakin mengkhawatirkan. Apalagi kelompok KKB saat ini memanfaatkan PON untuk mencari perhatian dunia internasional dengan menunjukkan eksistensinya melalui berbagai macam aksi teror berskala kecil hingga sporadis agar PON gagal terlaksana.
Sehingga perlu adanya Early Warning & Early Detection dari pemerintah agar PON di Papua bisa terlaksana dengan baik dan aman serta sebagai momentum bagi Indonesia untuk menunjukan kepada dunia bahwa Indonesia sebagai sebuah state yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa, dari Sabang sampai Merauke hingga Miangas ke Pulau Rote. Persatuan kita tetap utuh, dan tak pernah goyah sedikitpun. Tentunya Papua semakin maju dan sejahtera bersama bumi pertiwi.
Itulah beberapa catatan serta gambaran yang mesti kita waspadai bersama. Baik kita sebagai anak bangsa, dan pemerintah selaku pemangku kebijakan untuk bisa mengantisipasi segala potensi yang bisa mengganggu kedaulatan negara. Sebab, seperti yang kita ketahui bersama, negara kita masih dihadapkan pandemi Covid-19. Dan tentunya perlu kebersamaan dalam membersamai kemajuan bangsa.
Founder Forum Intelektual Muda
Menyukai ini:
Suka Memuat...