KLAIM
Beredar sebuah narasi bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) memiliki risiko yang berbahaya. Narasi ini beredar di media sosial. Berikut narasinya: “Jika memang menghendaki energi listrik yang ramah, aman, bersih, murah, berkelanjutan dan berkeadilan serta merata bagi segenap warga, maka pilihannya bukan PLTN. Ibaratkan makanan, PLTN tentu berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan rakyat-lingkungan,” tulis akun tersebut.
FAKTA
Dilansir dari Medcom.id, klaim bahwa PLTN merupakan pembangkit listrik yang memiliki risiko berbahaya bagi kesehatan, keselamatan dan lingkungan, tidak tepat. Faktanya, hasil penelitian terbaru menyatakan sebaliknya.
Pada September 2021 lalu, Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Thorcon mengeluarkan hasil kajian akademik berjudul “Nuklir sebagai Solusi dari Energi Ramah Lingkungan yang Berkelanjutan untuk Mengejar Indonesia Sejahtera dan Rendah Karbon pada Tahun 2050”. Di dalam hasil riset itu juga disinggung pro dan kontra pembangunan PLTN, termasuk di Indonesia.
“Debat pro-kontra sangat baik selama masing-masing pihak berdasarkan pada data dan fakta. Namun, banyak dari pihak kontra PLTN membuat narasi yang tidak berdasarkan pada fakta dan data, atau sering kali memberikan informasi tidak pada konteks yang benar sehingga kebanyakan informasi tentang PLTN adalah misinformasi dan disinformasi,” tulis para peneliti UNS dalam laporannya yang kami kutip pada Kamis 11 November 2021.
Peneliti mencontohkan narasi PLTN di Indonesia berisiko tinggi karena Indonesia berada di cincin api yang dikelilingi gunung aktif. Namun faktanya, tidak ada wacana PLTN yang akan dibangun di area rentan gempa dan di kaki gunung aktif.
“Bahkan, Jepang dan Korea Selatan yang juga rentan terhadap gempa dan memiliki sejumlah gunung api, tidak menganggap hal ini adalah sebuah isu yang diperdebatkan. Kedua negara memiliki beberapa PLTN yang beroperasi hingga sekarang,” tulis peneliti.
Kemudian isu terkait keselamatan dan kecelakaan nuklir. Bagi sebagian masyarakat, energi nuklir identik dengan bom nuklir yang menghancurkan Kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang pada 1945 silam.
Namun sebenarnya kedua hal itu tidak identik. Pasalnya, bom nuklir memanfaatkan energi hasil fisi Uranium-235 sekitar 90 persen, sedangkan PLTN maksimal 20 persen.
Peneliti menegaskan setiap pembangunan pembangkit listrik tenaga apapun berisiko terjadinya kecelakaan yang mengakibatkan kematian. Uniknya sebagaimana dikutip peneliti dari makalah yang dimuat dalam jurnal medis The Lancet tahun 2007, justru angka kematian pembangunan PLTN paling kecil ketimbang pembangkit tenaga lainnya.
Hingga saat ini, di Indonesia sendiri sudah ada tiga reaktor nuklir untuk pendidikan dan penelitian. Meskipun daya yang dihasilkan kecil, namun tetap memiliki potensi terjadi kecelakaan dan bahaya radiasi yang ditimbulkan juga ada.
“Potensi bahaya radiasi tidak dapat dihilangkan tetapi dapat dikurangi menggunakan kombinasi tiga cara, yaitu jarak, waktu dan perisai radiasi. Sebisa mungkin hindari berada dekat dengan sumber radiasi. Jika terpaksa harus dekat, minimalisasi waktu. Bila harus dekat dan lama wajib menggunakan perisai radiasi,” tulis peneliti.
Sejak 1942 memang terjadi kecelakaan PLTN yang menyita perhatian dunia, yakni Three Mile Island (TMI) di Amerika Serikat pada 28 Maret 1979, Chernobyl di Ukraina pada 26 April 1986 dan Fukushima Daiichi di Jepang pada 11 Maret 2011. Dari kejadian itu, hanya kasus Chernobyl yang menelan korban jiwa seketika sekitar 30 orang.
“Kecelakaan PLTN Chernobyl unit 4 disebabkan oleh operator yang kurang kompeten dan kurang sempurnanya desain teras,” tulis peneliti.
Semua kecelakaan nuklir yang pernah terjadi memberi pelajaran yang sangat berharga akan pentingnya penerapan konsep penghalang berganda. Pada kecelakaan nuklir TMI (Amerika), walaupun teras reaktor meleleh, tidak ada zat radioaktif (ZRA) yang mencemari lingkungan karena dilindungi beton yang sangat kuat.
Di sisi lain, pasca sejumlah kasus tersebut, masing-masing negara masih menggunakan PLTN dalam bauran energi mereka. Bahkan Ukraina tetap mengandalkan nuklir untuk memenuhi 53 persen pasokan listrik sejak kasus Chernobyl hingga tahun 2020.
Rata-rata pertumbuhan PLTN di dunia mencapai 2,3 persen per tahun. Pada akhir 2020, terdapat lima unit PLTN yang baru mulai akif beroperasi. Terdiri atas Tiongkok, Rusia, Belarus, Turki dan Uni Emirat Arab.
Pada awal 2021 ini, sekitar 30 negara sedang mempertimbangkan, merencanakan dan memulai program PLTN dan lebih dari 20 negara menyatakan minatnya terhadap PLTN.
Referensi:
https://www.medcom.id/telusur/cek-fakta/yNLPravN-cek-fakta-benarkah-pembangkit-listrik-tenaga-nuklir-miliki-risiko-berbahaya-ini-faktanya
Kajian akademik berjudul “Nuklir Sebagai Solusi Dari Energi Ramah Lingkungan Yang Berkelanjutan Untuk Mengejar Indonesia Sejahtera Dan Rendah Karbon Pada Tahun 2050” kerjasama UNS dan Thorcon, September 2021
SerikatNews.com adalah media kritis anak bangsa. Menyajikan informasi secara akurat. Serta setia menjadi platform ruang bertukar gagasan faktual.
Menyukai ini:
Suka Memuat...