Hoax dan Happy Fourth of July

23

Dulu, tak mudah menyebar kabar bohong. Biasanya, ada yg menyergah, mempertanyakan, atau malah langsung mengoreksinya. Menyebabkan sang pembawa pesan ragu. Hal yang mendorongnya untuk mencari tahu lebih jauh. Sebelum meneruskannya lagi.

Maka kredibilitas sumber adalah sesuatu yang penting. Baik sebagai yang perdana maupun sekedar rangkaian penerusnya. Sebab, stigma pembohong, penebar fitnah, omong kosong, dan seterusnya, lebih mudah melekat dibanding sebaliknya.

Mengapa?

Karena fakta ketika seseorang “tertangkap tangan” memproduksi atau menyebarkan kabar bohong, adalah kebenaran yang nyata dan lebih tak terbantahkan.

“Hati-hati menerima informasi dari dia. Kebenarannya belum tentu. Sering kali tak diperiksanya. Seperti yang tempo hari.”

Walaupun kejadiannya tak sengaja, stigma buruk itu mudah dilekatkan. Bahkan ketika kelancungan baru pertama dan hanya sekali.

Meminta maaf, menjelaskan kecerobohan, dan meyakinkan yang lain, bahwa hal tersebut tak akan diulangi lagi, tetap terasa jauh lebih runyam. Hal yang menyebabkan berkembangnya sikap mawas diri.

“Maaf, saya tak paham. Juga tak mengerti duduk persoalannya.”

+++

Konsekuensinya, di era teknologi analog dulu, kita memang berkasta-kasta. Hal yang memang tak selamanya bermakna buruk. Sebagaimana pula kesetaraan yang tak selalu bisa diperlakukan serta merta.

Ketika masih di zaman itu, “rantai” informasi masih berperan dan memiliki makna. Yakni untuk mengalirkan kabar secara lebih sabar karena berjenjang. Bukan melalui pendekatan “bom” informasi seperti yang berlaku di era digital akhir-akhir ini dan mampu berdampak seketika.

Kini, ijazah dan sertifikasi tak lagi mendominasi suatu pengakuan. Teknologi digital telah me-mampu-kan mereka yang ingin mewujudkannya. Tanpa harus bersusah payah melampaui “kelas”, “latihan”, maupun “ujian” yang dipersyaratkan.

Kemampuan yang dimaksud, bukan sekedar untuk memalsukan lembaran, nomor registrasi, stempel, dan tanda-tangan yang menerbitkan ijazah maupun sertifikatnya. Tapi justru menciptakan dan membangun “pengakuan” itu sendiri. Melalui pendekatan “bom” informasi yang bahkan berpeluang untuk meledakkan semesta.

Baca Juga:  Bibit-bibit Keretakan Mulai Terbuka

Sebab, berisi kebenaran atau kebohongan, tak lagi jadi soal. Bahkan tentang kandungan dan konsekuensinya yang menghadirkan manfaat, atau justru mencelakakan, tak lagi dihiraukan. Semata demi “pengakuan” atau “legitimasi” yang menginginkannya.

+++

Sosial media dan komunikasi internet yang diberdayakan teknologi digital, bukan hanya memangkas “rantai pemberdayaan”. Tapi juga menyelenggarakan yang mustahil. Merayakan syahwat manusia terhadap pengakuan yang ingin diraihnya. Sambil mengabaikan — bila perlu mencampakkan — persoalan kepantasan diri.

Demikianlah esensi hoax alias kabar bohong yang diciptakan sebagai — dan menjadi — kebenaran yang diinginkan.