Inovator 4.0 Wujudkan Gerakan Politikus Progresif, Pendidik, dan Wirausahawan Sosial

447
Foto: Ananda Sukarlan dan Hilmar Farid

SERIKATNEWS.COM – Perkumpulan “Inovator 4.0” yang dipimpin oleh Budiman Sudjatmiko mengadakan pertemuan yang pertama kali pada Sabtu (4/5/2019), di kantor Google Indonesia. Dalam pertemuan ini, berbagai cendekiawan, ilmuwan, praktisi dan seniman ternama mempresentasikan pemikirannya masing-masing, yang dilanjutkan dengan diskusi dan ramah-tamah.

Beberapa ide sangat membangkitkan inspirasi dan terbukti bisa dilakukan, misalnya internet masuk desa, precision farming menggunakan drone, hingga program kesehatan berbasis teknologi.

Budiman Sudjatmiko sendiri dalam ceramahnya mengungkapkan impiannya agar para ahli, penguasa teknologi, pemodal, dan aktivis gerakan sosial bisa mendorong ide-ide yang ada agar bisa bermanfaat bagi masyarakat, terutama masyarakat desa.

“Kita semua punya mimpi. Kalau saya ingin kaya duluan, pasti anda ga akan ada bersama saya. Everybody’s invited! Kita bisa sugih bareng, mulyo bareng, waras bareng kok,” demikian jelas Budiman Sudjatmiko saat meyakinkan bahwa gerakan ini adalah sebuah jawaban atas tuntutan zaman yang sedang berubah dengan cepat.

“Inovator 4.0 fokus ke S.T.E.A.M: Science, Technology, Engineering, Art and Mathematics,” sambungnya.

Kemudian Budiman mengatakan bahwa potensi-potensi yang dimiliki Indonesia, salah satunya 200 inovator dari berbagai disiplin keilmuan yang diundang bergabung dalam gerakan Inovator 4.0 akan mewujudkan gerakan para politikus progresif, pendidik, dan wirausahawan sosial.

Beberapa nama terkemuka anggota Inovator 4.0 antara lain Wafa Taftazani (Country Strategic Partnerships Manager Google dan YouTube Indonesia), Ivan Taslimson (pendiri SolsticeX), Agus Sari (ahli & aktivis lingkungan hidup), Khrisna Pabichara (sastrawan), Ananda Sukarlan (komponis & pianis), Iman Brotoseno (sutradara & pegiat perfilman).

Hadir dalam pertemuan pertama itu Dr. Hilmar Farid, Dirjen Kebudayaan RI yang memberi kata sambutan dan mengikuti diskusi secara aktif.

Budiman Sudjatmiko mengungkapkan Inovator 4.0 ini merupakan kelompok yang menyadari perkembangan, Budiman mencontohkan hal serupa dengan Amerika punya Silicon Valley, China ada Alibaba.

Baca Juga:  KPU: Seluruh Pihak Harus Siapkan Diri Terima Putusan MK

“Makanya kita enggak mau manusia yang punya ide ini tertinggal, apa ekspresi teknologi dari Pancasila, inovator mau mencari tahu soal itu,” lanjutnya.

Oleh karena itu, Budiman menilai keberadaan Inovator 4.0, menjadi modal penting untuk mewujudkan pembangunan yang berlandaskan data akurat dengan menguasai ilmu pengetahuan dan menggabungkannya dengan jaringan sosial, kebudayaan dan kesenian untuk komunikasi.

“Abad 21, kerja harus pake data bukan mitos. Karena data adalah data, dirangkai jadi cerita. Mereka yang mencerdaskan individu dan perkakas harus bersatu,” tutupnya.

Komponis Ananda Sukarlan mengingat kata-kata B.J. Habibie saat beliau bekerja sama beberapa kali dengannya, bahwa Habibie memimpikan Indonesia memiliki hi-tech dan hi-touch.

“Pak BJH memimpikan negeri ini memiliki hi-tech dan hi-touch. Hi-tech itu dalam bidang ilmu pengetahuan, dan hi-touch itu dalam selera, nilai seni dan budaya. Inovator 4.0 sebetulnya adalah pengejawantahan mimpi pak BJH tersebut,” jelas Ananda Sukarlan.

Begitu pun Sekjen Inovator 4.0 Indonesia, Tedy Tricahyono, mengungkap contoh program Internet Masuk Desa yang sudah dimulai dan terbukti bisa dilakukan di Sumatera Barat. Baginya, ide yang baik tidak hanya memberikan manfaat, namun juga punya hitungan bisnis yang sustainable.

“Suatu saat akan hadir juga di Merauke, misalnya. Suatu saat desa-desa itu bisa kita ajak iuran, misalnya untuk membiayai satelit yang kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan telekomunikasi di desa-desa,” ujarnya.