Penulis: Serikat News
Selasa, 27 Juni 2017 - 06:43 WIB
Sumber: Wilkipedia
Sumber: Wilkipedia
JAKARTA, Serikatnews.com – Kasus serangan teroris di Polda Sumut menjadi sebuah keprihatinan atas profesionalisme Polri dan sekaligus menunjukkan bahwa para teroris makin super nekat. Dengan senjata seadanya, mereka nekat menyerang polisi bersenjata lengkap yang sedang bertugas di markas kepolisian.
Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane menilai, pasca serangan bom di Kampung Melayu Jakarta Timur, para teroris ternyata makin super nekat. “Keberhasilnya membunuh tiga polisi dan melukai dua polisi lainnya di Kampung Melayu sepertinya menjadi inspirasi bagi para teroris untuk meningkatkan serang ke jajaran Polri. Terbukti, di Hari Raya Idul Fitri, di saat masyarakat bergembira dalam silaturahmi, para teroris melakukan serangan ke Polda Sumut,” ujarnya kepada Serikatnews.com pada Selasa (27/6).
Menurut Neta, dengan senjata seadanya, yakni sebilah pisau. Ironisnya, lanjut Neta, mereka berhasil membunuh seorang perwira polisi.
Kasus tersebut tentunya menjadi catatan buruk bagi Polri menjelang Hari Bhayangkara 2017. Menurut Pane, dari kasus ini, publik jelas merasa prihatin karena anggota polisi ternyata tidak bisa melindungi dirinya sendiri, saat diserang pelaku kejahatan di markasnya sendiri.
“Kasus Polda Sumut menjadi catatan bersejarah bagi jaringan teroris. Hanya dengan senjata seadanya mereka bisa membunuh seorang perwira polisi. Sehingga dikhawatirkan, kasus serangan teror di Polda Sumut akan menjadi inspirasi bagi para teroris untuk terus menerus meningkatkan serangan dan sekaligus menjadi motivasi bagi kader kadernya bahwa hanya dengan sebilah pisau ternyata bisa membunuh perwira polisi.
Neta menjelaskan, dari kasus tersebut para teroris bisa pula menyimpulkan, untuk melumpuhkan polisi tidak perlu lagi menggunakan bom, cukup hanya sebilah pisau. Sebab, lanjut dia, jajaran polisi tidak terlatih, tidak responsif, dan terlalu mudah untuk dilumpuhkan.
Neta menyarankan, agar Polri belajar dari kasus Polda Sumut, dan mengimbau jajarannya untuk bersikap senantiasa waspada dan meningkat kepekaan serta selalu terlatih menghadapi berbagai situasi, sehingga anggota polisi tidak menjadi bulan bulan teroris atau pelaku kejahatan lainnya. “Bagaimana pun, jika ada polisi terbunuh oleh pelaku kejahatan tentu akan menjadi keprihatinan tersendiri bagi publik dan sekaligus menjadi kecemasan terhadap profesionalisme sistem keamanan,” katanya.
Neta melanjutkan, apalagi saat ini di saat isu ISSI merebak secara internasional dan terjadi serangan di Marawi, aksi aksi terorisme terus berkecamuk di Indonesia, tentunya akan menjadi kecemasan tersendiri bagi masyarakat. Menurutnya, ini menjadi tantangan serius bagi Polri menjelang Hari Bhayangkara 2017 dan publik selalu berharap Polri senantiasa bersikap profesional, baik dalam melindungi masyarakat maupun melindungi dirinya sendiri. (Arif K Fadholy)
YOGYAKARTA – Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Yogyakarta menggelar pengajian bagi klien pemasyarakatan di Griya Abhipraya Purbonegoro, Selasa, 28 April
PAMEKASAN — Puluhan aktivis yang tergabung dalam Forum Mahasiswa dan Masyarakat Revolusi (Formaasi) bersama Tim Pencari Fakta Nusantara (TPF-N) menggelar
YOGYAKARTA – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai upaya meningkatkan status gizi pelajar masih menghadapi persoalan serius terkait keamanan
JAKARTA — Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengajak serikat pekerja/serikat buruh (SP/SB) tidak hanya berperan dalam advokasi, tetapi juga menjadi penggerak peningkatan
JAKARTA – Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor menegaskan bahwa perkembangan dunia kerja saat ini menuntut pekerja tidak hanya mengandalkan ijazah.
GROBOGAN — Upaya mengintegrasikan pembangunan lingkungan dan ekonomi desa mulai diwujudkan melalui gerakan penanaman alpukat yang diinisiasi Ikatan Pemuda Penggerak