Connect with us

Opini

Istinbath dan Moral Intelektual

Published

on

intelektual

Pengetahuan secara substansi dilatarbelakangi oleh pemikiran dan perenungan yang dalam. Aspek metodologis dan nilai filosofisnya beragam dan sangat panjang. Aspek kemanfaatannya pun menaungi kehidupan yang terus berkembang dari masa ke masa. Proses penemuannya pun bergulir bersama dengan penempaan-penempaan yang—tidak diketahui oleh khalayak umum. Para ‘alim menjadi rujukan atas penentu jalan kehidupan masyarakat bernegara dan beragama tidak luput dari ijtihad dan kerja intelektual–spiritualnya.

Ruang dialektika yang dibangun oleh para alim menjadi bekal di kemudian hari. Baik sebagai rujukan generasi penerus, pun sebagai khasanah keilmuan yang patut ditiru proses dialektikanya. Sehingga masyarakat mampu menjalani kehidupan sosial dan spiritualnya tidak dalam kondisi kebingungan. Karena saking banyaknya aktivitas keilmuan dalam Islam, baik secara organisatoris maupun kelembagaan.

Tujuan utamanya adalah kebijaksanaan, karena yang dibutuhkan adalah sinergi, sehingga menjadi “rahmat” bagi khalayak luas. Saat ini atau—mungkin sejak berkembangnya pengetahuan yang mempengaruhi perkembangan kehidupan, sehingga ada banyak adopsi-adopsi pemikiran yang dikembangkan dalam Islam, dengan tujuan menjalani kehidupan beragama yang murni. Seperti halnya NU yang sudah dengan sangat tegas berhaluan ahlussunnah wa al jamaah. Kemudian dari berbagai pihak yang berada di luar NU pun demikian. Beragamnya pengetahuan Islam seharusnya menjadikan umat lebih mudah mengenal Islam. Disadari atau tidak ada satu keengganan untuk mendalami agama yang dianut sejak lahir terutama agama warisan orang tua.

Jika kelompok di luar NU sepakat untuk kembali kepada Kitab Suci “Al Quran” dan Hadits maka berbeda dengan NU yang melalui Batsul Masail menerapkan konsep analogi, pendekatannya melalui Qawa’id Ushuliah dan Qawa’id Fikhiyah. Pendekatan ijtihadi metodologis ini disebut dengan berpikir kritis dan kreatif oleh Kyai Muchit Muzadi (w.2015). Namun kebanyakan ulama’ NU menyebut sikap ijtihadi ini dengan istinbath. Dengan alasan saking sulitnya menemukan orang yang berijtihad tanpa taqlid, atau mengikuti role model pemikiran ulama’ terdahulu “bermadzhab”.

Baca Juga:  Alumni 212, Film PK dan Bela Tuhan

Kehati-hatian para Kyai NU sejak era pendiri yakni Hadratussyaih KH. Hasyim Asy’ary dalam menentukan hukum, berjumpa dengan berbagai pemikiran dan ruang diskursif oleh Kyai-kyai muda NU, dengan latar belakang pemikiran serta pendidikan yang terus berkembang dari masa ke masa, dengan demikian muncul istilah tradisional dan pembaharu. Vital dan sangat rentan sebenarnya, namun pembahasan perihal tradisional dan pembaharuan agaknya menjadi sangat penting ketika adopsi-adopsi pemikiran tersebut menjadi muatan nilai yang dibangun.

Pengetahuan yang beriringan dengan muatan nilai-nilai, baik kemanusiaan atau keagamaan akan menjadi sumber bahkan oase di antara polemik yang terbentuk, baik disengaja maupun tidak. Polemik itu memang bagian dari dialektika. Agaknya memang sudah menjadi tradisi, bahwa perdebatan yang bermuatan nilai-nilai pengetahuan seharusnya melahirkan nafas segar dalam komunikasi organisasi, khususnya NU. Organisasi ini memiliki tugas untuk menjaga keberagaman sebagai wujud dari rahmatan lil alamin. Disadari atau tidak, setiap keputusan yang diambil oleh ulama’ NU akan menjadi satu kesepakatan yang secara otomatis diiyakan dan diikuti oleh masyarakat di akar rumpun.

Pertanyaan sederhananya adalah bagaimana menyelaraskan pemikiran yang terus berkembang seiring dengan kemajuan zaman, dengan teks-teks keilmuan yang dianggap kuno? Dalam hal ini, teks dasar yang dijadikan rujukan oleh sebagian besar ulama’-ulama’ sepuh NU? Jika ulama’-ulama’ sepuh NU menghendaki istilah istinbath sebagai wujud akhlak, untuk mengistilahkan ijtihad maka tidak berarti NU bergerak stagnan, di samping dengan Aswaja sebagai manhaj al fikr (metode berpikir) Aswaja juga sebagai manhajiah islamiah.

Dengan begitu kehati-hatian yang dibangun sejak era KH. Hasyim Assyari adalah wujud dari axiologi dari tubuh NU itu sendiri. Begitu juga setelah terbentuknya Pancasila, NU menjadi salah satu ruang untuk menjaga asas negara dengan keberagaman masyarakatnya, baik dalam bidang agama, bahasa, ras dan budaya.

Advertisement

Terkini

News9 jam ago

Mendag: Kebijakan Minyak Goreng Satu Harga

SERIKATNEWS.COM – Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menegaskan bahwa Pemerintah terus berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat dengan harga terjangkau. Terkait...

News14 jam ago

KOPRI PB PMII Berikan Bunga sebagai Tanda Apresisasi untuk DPR RI

SERIKATNEWS.COM – KOPRI PB PMII Memberikan apresiasi kepada DRP RI di Gedung Nusantara II Jakarta dengan menebar bunga sebagai bentuk...

News20 jam ago

Percepat Pembangunan Desa, Gus Halim Minta Mahasiswa dan Pendamping Desa Kolaborasi

SERIKATNEWS.COM – Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar meminta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik menjadi media...

News21 jam ago

Metaverse Menurut Bill Gates

SERIKATNEWS.COM – Kehadiran Metaverse diprediksi akan mengubah banyak kebiasaan masyarakat. Menurut Co-founder Microsoft, Bill Gates, ke depannya kebiasaan di dunia...

News22 jam ago

Kemendag: Era Baru Perdagangan Fisik Emas Digital di Bursa Berjangka Dimulai

SERIKATNEWS.COM – Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) memulai era baru dalam perdagangan fisik emas digital di bursa berjangka. Kini...

Olahraga1 hari ago

Thomas Tuchel, Pelatih Terbaik FIFA 2021

SERIKATNEWS.COM – Pelatih Chelsea Thomas Tuchel dinobatkan sebagai Pelatih Terbaik FIFA 2021. Penghargaan itu diberikan kepadanya setelah memimpin Chelsea memenangi...

News1 hari ago

Percepat Ekosistem Kendaraan Listrik, PLN Tambah 10 SPKLU di Indonesia Timur

SERIKATNEWS.COM – PT PLN (Persero) melakukan peresmian serentak 10 Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara...

Populer

%d blogger menyukai ini: