SERIKATNEWS.COM – Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong petani melakukan pola kemitraan untuk penyerapan hasil produksi. Salah satunya, di beberapa daerah mulai dilakukan pengembangan budidaya jagung dengan pendekatan kawasan korporasi petani.
Di Grobogan sebagai sentra produksi jagung dan kedelai sudah mulai merintisnya. Grobogan merupakan salah satu lumbung jagung nasional. Produksi jagung menyumbang 20% dari produksi jagung Jawa Tengah dan 2,4% untuk nasional.
Pada bulan Malang ini, Kabupaten Grobogan akan mulai panen jagung. Perkiraan panen seluas 14.000 ha. Sedangkan seluas 5.000 ha akan panen di lahan hutan Kecamatan Geyer oleh LMDH/Lembaga Masyarakat Desa Hutan.
Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan, Djono mengatakan dari panen ini diperkirakan akan menghasilkan produksi jagung sebanyak 80.000 ton. Hasil panen akan dijual ke pabrik pakan ternak Charoen Pokpand melalui BUMP (Badan Usaha Milik Petani). Menurutnya, harga jagung saat ini mencapai Rp5.300/kg pipil kering.
Pihaknya mengatakan bahwa pengembangan budidaya jagung melalui kawasan korporasi petani jagung di Kawasan hutan memberikan hasil nyata terhadap pendapatan petani. Bahkan menurutnya, hal tersebut merupakan perubahan pengelolaan pertanian yang lebih maju.
“Budidaya jagung menjadi prioritas kami, karena produksi jagung di Kabupaten Grobogan merupakan salah satu andalan produksi jagung di Jawa Tengah,” ujar Djono.
Dalam kesempatan berbeda, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Suwandi menyampaikan saat ini hingga Juni 2021, produksi jagung melimpah karena tengah berlangsung masa panen.
Berdasarkan angka prognosa, luas panen jagung nasional bulan Januari 373.377 hektare, Februari 623.103, Maret 697.264, April 284.295, Mei 286.682 hektare dan Juni mencapai 324.333 hektare. Dengan demikian, produksinya mencapai 14,73 juta ton.
“Luas panen ini menunjukkan produksi jagung dalam negeri melimpah,” kata Suwandi. Oleh karena itu, lanjut Suwandi, saatnya pelaku usaha jagung dan industri pakan untuk segera menyerap jagung petani.
Selain itu, yang harus dibenahi adalah sistem logistiknya karena sentra-sentra produksi tidak bersinergi dengan sentra industri pakan ternak. “Sebab, dinamika harga jagung tidak terjadi di semua daerah, kita sudah petakan daerah-daerah sentra panen jagung,” ujarnya.
Suwandi juga menyatakan upaya dalam meningkatkan hasil panen yaitu menstabilkan harga jagung dengan mengoptimalkan aspek hilir. Yakni penanganan pascapanen, yaitu alat panen, dryer (pengering) dan silo.
Tentunya, penyiapan aspek hilir ini tidak hanya dilakukan Kementan. Namun, dari petani jagung dan industri pakan, serta peternak mandiri dengan membangun pola kemitraan.
“Pola selanjutnya adalah korporasi, ini merupakan terobosan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dan sesuai arahan Presiden Jokowi. Pemerintah tidak hanya memberikan bantuan prasarana dan sarana produksi, tapi juga fasilitas permodalan dana KUR. Melalui KUR, petani yang tergabung dalam korporasi menjadi lebih maju, mandiri dan modern. Pasar pun terjamin, sehingga petani tidak lagi kenal rugi,” tambah Suwandi.
Suwandi menambahkan, program korporasi merupakan kegiatan terintegrasi on farm dan hilir sampai industri turunan hingga pemasaran. Program tersebut terintegrasi dengan aspek infrastruktur, alat mesin pertanian (alsintan), budidaya mulai tanam hingga panen dan hilir pasca panen hingga pemasaran.
Tidak hanya itu kelompok tani harus bisa naik kelas kelembagaannya yakni bisa berbentuk cv, koperasi, maupun bumdes. “Kelembagaan yang terpenting adalah pengelolaan manajemen kepengurusan yang baik, oleh karena itu perlu sekali kegiatan seperti ini. Mengumpulkan para pelaku korporasi untuk saling berbagi, memberi informasi untuk menguatkan kelembagaan korporasinya,” katanya. (*)
SerikatNews.com adalah media kritis anak bangsa. Menyajikan informasi secara akurat. Serta setia menjadi platform ruang bertukar gagasan faktual.
Menyukai ini:
Suka Memuat...