Connect with us

Opini

Ketaatan Ibadah Ramadan dalam Situasi Covid-19

Published

on

Puasa
© Istimewa

Ramadan 1441 H ini menjadi penanda bagi umat Islam seluruh dunia sebagai Ramadan yang terberat. Semua merasakan kegelisahan, kecemasan dan kepanikan. Mungkin ujian Tuhan ini juga sebagai pengingat betapa kesombongan, egoisme dan individualisme yang menjadi penyakit rerata umat manusia hari ini. Intinya, kita tengah diingatkan dengan wabah Covid-19 yang kini pandeminya menjalar hingga ke pelosok negeri di dunia.

Virus Itu Bernama Corona

Virus korona adalah sekumpulan virus dari sub-famili Orthocoronavirinae dalam keluarga Coronaviridae dan ordo Nidovirales. Kelompok virus ini dapat menyebabkan penyakit pada burung dan mamalia (termasuk manusia). Pada manusia, virus korona menyebabkan infeksi saluran pernapasan yang umumnya ringan, seperti pilek, meskipun beberapa bentuk penyakit seperti SARS, MERS, dan Covid-19 sifatnya lebih mematikan.

Manifestasi klinis yang muncul cukup beragam pada spesies lain: pada ayam, virus corona menyebabkan penyakit saluran pernapasan atas, sedangkan pada sapi dan babi menyebabkan diare. Belum ada vaksin atau obat anti virus untuk mencegah atau mengobati infeksi virus korona pada manusia.

Pola Penularan

Virus korona merupakan virus beramplop dengan genom RNA utas tunggal plus dan nukleokapsid berbentuk heliks simetris. Jumlah genom virus korona berkisar antara 27–34 kilo pasangan basa, terbesar di antara virus RNA yang diketahui. Nama coronavirus berasal dari bahasa Latin yaitu ‘corona’ yang artinya mahkota, yang mengacu pada tampilan partikel virus (virion): mereka memiliki pinggiran yang mengingatkan pada mahkota atau korona matahari.

Penularan korona dari manusia ke manusia diperkirakan terjadi melalui kontak langsung dalam jarak dekat via tetesan kecil atau percikan (droplet) dari saluran pernapasan yang dihasilkan penderita saat bersin dan batuk.

Ibadah Ramadan 1441

Ibadah dalam bulan suci Ramadan 1441 H ini tidak saja puasa, tetapi ada banyak kegiatan ibadah di dalamnya, antara lain tadarusan Alquran, salat, dan sedekah atau kewajiban zakat fitrah yang sudah maklum dilakukan setiap tahun, di samping salat sunah Tarawih dan Witir di malam hari.

Imam al-Jurjani dalam kitabnya al-Ta’rifat telah mendefinisikan puasa secara jelas, bahwa puasa adalah “al-imsaku ‘an al-akli wa al-syarbi wa al-jima’i min al-shubhi ilaa al-maghribi ma’a al-niyati” (menahan diri dari makan, minum dan bersetubuh dari waktu subuh hingga waktu magrib dengan niat).

Baca Juga:  Mempercepat Denyut Birokrasi

Definisi di atas, tentu sudah umum diketahui sebagai definisi secara syariat Islam, sementara hujjah ketetapan kewajiban berpuasa adalah firman Allah SWT dalam Q.S. al-Baqarah,  yang artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (Q.S. Al-Baqarah/2: 183). Serta Hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhori, yakni: Dari Ibnu Umar r.a., ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Islam itu dibangun di atas lima (pondasi), yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadan,” (H.R. Al-Bukhari).

Dalam perspektif mazhab Syafei, kewajiban ibadah puasa bagi mukalaf adalah totalitas ketaatan hamba Allah SWT atas perintahnya. Kewajiban ibadah yang secara al-Qothi’ al-Tsubuti (dalil yang tetap) sudah dijelaskan di dalam Alquran surat al-Baqarah ayat 183.

Jika kedapatan ada yang tidak tengah menjalankan ibadah tersebut, maka fikih berpandangan bahwa itu berlaku bagi wanita yang tengah haid, nifas atau karena tengah menyusui hingga kondisi tersebut di kemudian hari bisa dengan cara meng-qadha-nya, atau laki-laki yang tengah jadi musafir, maka diperbolehkan buka, untuk kemudian di-qadha-nya di luar Ramadan sesuai hitungan hari yang ditinggalkannya.

Puasa dan Menghadapi Wabah

Sebagaimana umumnya puasa merupakan ibadah yang sudah diwajibkan bagi mukalaf (muslim, balig, dan berakal), tentu dengan tanpa alasan hal tersebut tidak ada alasan untuk tidak berpuasa. Kecuali disebabkan uzur atau sakit maka bagaimana Fiqh menjelaskannya.

Dalam kitab Bughyat al-Mustarsyidin (hal. 113), Syaikh Bafaqih salah satu imam fatwa dalam lokomotif mazhab Syafei telah menjelaskan bahwa: “wa an yata’dzara al-‘amala lailan aw lam yughnihi dzalika fa yuaddihi ilaa talafihi aw naqshihi naqshon laa yutaghabanu bihi wa an yasyuqqa alaihi al-shaoumu masyaqqotan laa tahtamilu ‘adatan” (dan apabila menemukan uzur terhadap amal puasa di waktu malam, atau tidak cukup kuat untuk melakukan tersebut, maka boleh bagi kerepotannya dan kekurangannya dengan tidak dihilangkan untuk menggantinya. dan apabila puasa akan  membuat kepayahan karena alasan kepayahan maka itu tidak dalam kemungkinan sebagai kebiasaan).

Baca Juga:  Pentingnya Kedewasaan dalam Berpolitik

Ijtihad Iman Bafaqih ini menjadi pegangan dalam perspektif  hukum fikih. Kemudian kita memahaminya sebagai kebolehan karena uzur atau kepayahan untuk tidak berpuasa dengan prinsip tidak untuk dimungkinkan dalam kebiasaan. Hubungannya kini ibadah puasa di saat wabah Covid-19, apakah menjadi kebolehan untuk tidak berpuasa, dengan alasan masyaqqah (kepayahan) seperti yang dialami oleh tim medis atau tim relawan dalam upayanya menghadapi pandemi virus tersebut?

Tentu karena kejelasan illat (alasan kuat) dan di luar kebiasaan (‘adat) maka kebolehan tidak berpuasa bagi mereka yang tengah menangani pasien positif korona adalah sudah termasuk kita mafhumi.

Harapan Bersama Momen Ramadan

Sudah barang tentu, semua berharap agar wabah virus korona ini segera hilang. Wabah yang menggemparkan seisi dunia, dari benua Asia hingga benua Eropa dan dari benua Amerika hingga benua Australia.

Covid-19, asal Wuhan Tiongkok ini adalah teguran sekaligus ujian Tuhan semesta raya bagi seluruh umat manusia di dunia. Maka penting diingat betapa lagu ciptaan Michael Jackson secara substantif perlu kita tindaklanjuti untuk kemaslahatan bersama, serta terciptanya dunia yang sehat dan jauh dari bencana.

There’s a place in your heart
And I know that it is love
And this place could be much
Brighter than tomorrow
And if you really try
You’ll find there’s no need to cry
In this place you’ll feel

There’s no hurt or sorrow
There are ways to get there
If you care enough for the living
Make a little space
Make a better place

Heal the world
Make it a better place
For you and for me
And the entire human race
There are people dying
If you care enough for the living
Make it a better place
For you and for me
If you want to know why

There’s love that cannot lie
Love is strong
It only cares of joyful giving
If we try we shall see
In this bliss we cannot feel

Fear of dread
We stop existing and start living
The it feels that always
Love’s enough for us growing
So make a better world
Make a better place

Heal the world
Make it a better place
For you and for me
And the entire human race
There are people dying
If you care enough for the living
Make a better place for you and for me
And the dream we were conceived in
Will reveal a joyful face
And the world we once believed in
Will shine again in grace
Then why do we keep strangling life
Wound this earth, crucify its soul
Though it’s plain to see

This world is heavenly
Be god’s glow
We could fly so high
Let our spirits never die

In my heart I feel you are all my brothers
Create a world with no fear
Together we cry happy tears
See the nations turn their swords into plowshares
We could really get there
If you cared enough for the living
Make a little space
To make a better place

Heal the world
Make it a better place
For you and for me
And the entire human race
There are people dying
If you care enough for the living
Make a better place for you and for me

There are people dying
If you care enough for the living
Make a better place for you and for me
You and for me

Penutup

Baca Juga:  Bung Aziz yang Saya Kenal: Menjejaki Politik Gagasan Aziz Syamsudin

Ada baiknya kita muslim yang tengah berpuasa memintakan doa agar wabah korona ini semoga Allah SWT segera angkat. Kepasrahan kita adalah kunci dari doa tersebut, totalitas kita beribadah juga kunci di-ijabah-nya harapan kita. Bacaan terakhir ini adalah selipan di mana kita panjatkan doa:

Li Khomsatun uthfii biha
Harrol waba il hathimah
Almusthofa wal murtadlo
Wabnahuma wa Fathimah

Advertisement

Popular