Menakar Konstruksi Dakwah Bermuatan Jihadis, Salafi Reformis dan Salafi Rejeksionis

53
radikalisme
Ilustrasi: ngopibareng.id

Masa transisi krisis identitas kalangan pemuda kemungkinan mengalami apa yang disebut Quintan Wiktorowicz (2005) sebagai cognitive opening (pembukaan kognitif), sebuah proses mikro-sosiologis yang mendekatkan mereka pada penerimaan terhadap gagasan baru yang lebih radikal. Alasan seperti itulah yang menyebabkan pemuda sangat rentan terhadap pengaruh dan ajakan kelompok ekstrem agama. Sementara itu, kelompok ekstrem agama menyadari problem psikologis generasi muda. Kelompok tersebut memang mengincar mereka yang selalu merasa tidak puas, mudah marah dan frustasi, baik terhadap kondisi sosial maupun pemerintahan.

Kelompok ekstrem juga telah menyediakan setiap kebutuhan-kebutuhan terkait ajaran pembenaran, solusi dan strategi meraih perubahan, dan rasa kepemilikan. Kelompok ekstrem agama ini juga menyediakan lingkungan, fasilitas dan perlengkapan bagi remaja yang menginginkan kegagahan dan melancarkan agenda-agenda yang mengarah pada pola radikalisme agama.

Kehadiran Hizbut Tahrir Indonesia menjadi momok baru yang renyah bagi kalangan generasi muda dengan berbagai provokasi, propaganda dan ajakan kekerasan yang menggiurkan dengan mengatasnamakan agama. Sejak kemunculannya mengentakkan situasi keamanan bangsa ini, HTI setidaknya telah mampu menggetarkan gairah anak muda untuk ikut terlibat dalam gerakan politik Indonesia dengan propagandanya “Indonesia Bersyariah”.

Walau HTI sudah dibubarkan secara legal konstitusional, kali ini di Bandung gerakan itu kembali muncul dengan bermetamorfis menjadi nama lain. Acara Muslimah Day (The Amazing Ukhuwah) yang digelar oleh Forum Shaf Muslimah di GOR Saparua, Jalan Padjajaran, Cicendo, Kota Bandung, Jawa Barat, pada Sabtu 3 Agustus 2019. Acara tersebut terindikasi bermuatan paham yang mengarah pada radikalisme agama.

Radikalisme merupakan suatu paham yang menghendaki adanya perubahan dan pergantian terhadap suatu sistem di masyarakat sampai ke akarnya. Bilamana perlu menggunakan cara-cara kekerasan (Zuly Qodir, 2014: 116). Menurut Dawisha sebagaimana dikemukakan Azra (1996: 147), radikalisme adalah sikap jiwa yang membawa kepada tindakan-tindakan yang bertujuan melemahkan dan mengubah tatanan politik mapan, biasanya dengan cara kekerasan, dan menggantinya dengan sistem baru.

Baca Juga:  Gonjang Ganjing Gaji Pejabat

Dalam bahasa Arab, istilah radikalisme biasa disebut tathoruflalu menjadi muthothorrifin, yang artinya teror atau menciptakan bencana. Dominasi ini melahirkan berbagai macam fanatisme, mulai yang paling ringan sampai yang paling berat. Paham yang paling berat adalah Hizbul Takfiriyyah, yaitu kelompok yang selalu mengatakan golongan di luar dirinya adalah kafir. Dominasi Islam ada pada dirinya, oleh karena itu, jika sudah kafir, semuanya menjadi halal, baik saudara, harta, maupun kehormatannya maka timbul langkah-langkah yang disebut teror (Hasyim Muzadi, Peran Nahdatul Ulama dalam Menghadapi Radikalisme, Kompas, 16 Januari 2004).

Kaum radikal mempunyai pemahaman yang menganggap bahwa golongan yang tidak sejalan dengan mereka adalah kafir. Pemikiran yang mau menang sendiri tanpa menerima masukan dari kelompok lain. Untuk menangkal itu, Rumah Marhaen Indonesia berupaya melakukan pembudayaan kembali nilai-nilai Pancasila di masyarakat dan mengimplementasikannya dalam kehidupan bermasyarakat. Masyarakat memiliki otoritas untuk mengonsepkan hukum sebagai perilaku dan memfungsikan Pancasila dalam kehidupan bernegara.

Pancasila merupakan sistem nilai dan menjadi sumber terwujudnya fundamen hukum, dan senantiasa terjadi hubungan timbal-balik antara hukum dengan Pancasila. Pembudayaan Pancasila dapat berlangsung efektif bila dilakukan secara persuasif, cara halus, penetrasi damai, melalui proses perlahan-lahan, dalam jangka waktu lama. Pembudayaan Pancasila menjadi efektif bila dikehendaki oleh masyarakatnya atas dasar kebutuhan dan kesadaran, dan tidak mungkin dipaksakan dengan sarana dan cara apa pun, termasuk penggunaan sarana hukum. Terakhir, mendorong para pemuka agama untuk turut melakukan kontra narasi radikalisasi dengan memberikan pemahaman yang benar dan baik mengenai ajaran agama dan memahamkan peran umat beragama dalam menjaga keutuhan Indonesia raya.