Mengedepankan Spiritualitas Agama

502
Agama
Ilustrasi: Kompasiana

Di beberapa wilayah masih ditemui patung-patung yang ditutupi dengan tujuan agar tidak berakibat kepada pendangkalan akidah, bahkan ada beberapa yang dihancurkan. Hal ini menandakan bahwa Indonesia belum kering dari ideologi dan gerakan Islam yang memperjuangkan formalisasi syariat. Gerakan ini sangat jauh berbeda dengan Islam arus utama, NU dan Muhammadiyah yang lebih lentur dalam berdakwah, bahkan cenderung menggugat tradisi Islam yang telah lebih dulu berkembang. Dakwahnya cenderung radikal, slogan yang sering didengungkan “kembali kepada Alquran dan Hadis”. Dengan ideologinya yang tampak sangat kaku ia berkeinginan mengubah wajah Islam Indonesia yang teduh dan ramah terhadap budaya setempat. Ideologi tersebut merupakan dampak dari pemahaman agama yang belum sempurna, yaitu agama yang dipahami secara formal belaka.

Formalisasi agama semacam ini cukup membahayakan bagi Islam sendiri maupun negeri di mana gerakan tersebut berada. Gerakan ini memisahkan dan melepaskan agama dari konteks sosial dan kultural masa risalah, pesan-pesan agama akan ditentukan oleh bingkai ideologis. Dalam keadaan seperti ini, identitas dan simbol-simbol keagamaan menjadi hal terpenting, melebihi substansi pesan agama. Gerakan ini mengejar simbol-simbol, bukan mengamalkan substansi ajaran agama. Padahal agama tidak cukup dipahami hanya sebagai simbol, bahkan spiritual belaka. Agama harus dipahami secara komplit.

Faith dan Cumlative Tradion

Dalam psikologi agama menggunakan dua istilah untuk menyebut agama; faith dan cumulative tradition. Faith menunjuk pada aspek substansi yang sulit diamati karena berbeda antara satu orang dengan yang lain. Sedangkan istilah cumulative tradion menunjuk kepada segala sesuatu yang dapat diamati dan merupakan seperangkat aturan yang dibuat, seperti ritual, mitos-mitos dan yang lain. Pemaknaan seperti ini mencerminkan agama sebagai sesuatu yang stagnan dan dapat mempersempit keluasan makna agama yang sebenarnya.

Baca Juga:  Antara Pernyataan Moeldoko dan Politisi

Awalnya agama diartikan sebagai kata kerja yang sering dimaknai tindak moral, oleh karena itu Fazlurrahman, seorang cendekiawan muslim Amerika keturunan Pakistan, mengatakan bahwa sifat utama umat Islam adalah mencerminkan kualitas moral yang luhur dan spiritual agamanya melalui dukungan lembaga pemerintah. Dalam perkembangan selanjutnya pemaknaan seperti ini bergeser menjadi hal yang sangat formal, bukan sebagai kata kerja, melainkan semacam kata benda, yaitu kumpulan doktrin, ajaran, dan hukum-hukum yang telah baku, yang diyakini sebagai kodifikasi perintah Tuhan untuk manusia. Hal ini seharusnya tidak dipahami sebagai sebuah penggeseran makna melainkan suatu yang memang bermakna ganda.

Bersamaan dengan agama yang dipahami sebagai cerminan kualitas moral yang harus dikembangkan melalui dukungan pemerintah, masyarakat tetap merupakan sesuatu yang lebih mendasar daripada lembaga kepemerintahan, bahkan lembaga-lembaga masyarakat itu sendiri. Masyarakat lebih utama daripada pemerintah. Pendapat Fazlurrahman ini berdasarkan sikap kritisnya dalam mengkaji sejarah perjalanan Islam sejak masa Nabi hingga ke masa-masa selanjutnya. Pemikiran semacam ini, yang cenderung memadukan antara spiritual dan keduniaan merupakan ciri khas iklim intelektual Islam, dan cukup jarang diwujudkan di Indonesia.

Ketika ajaran-ajaran agama telah dibungkus menjadi semacam paket-paket ilmiah, menurut Komaruddin Hidayat, maka sesungguhnya telah berlangsung objektivikasi dan rasionalisasi dalam dunia agama, sehingga sangat mungkin ruh dan misteri agama akan surut menghilang. Hal ini mengakibatkan seorang bisa menjadi ahli agama tanpa harus menjadi seorang yang religius. Selanjutnya, beragama secara formal relatif mengabaikan spiritualitas keagamaan, dan bisa jadi sebaliknya.

Agama yang dipahami sebagai seperangkat kepercayaan, praktik-praktik, dan bahasa yang menjadi ciri khas sebuah komunitas yang berusaha mencari makna transendental dengan suatu cara tertentu yang diyakini benar menjadikan sebuah kebenaran agama berbeda menurut komunitasnya. Padahal spiritualitas lebih menekankan substansi nilai-nilai luhur keagamaan dan cenderung berpaling dari bentuk formal keagamaan. Penekanan dimensi spiritualitas biasanya cenderung bersikap apresiatif terhadap kebenaran meskipun dalam wadah agama yang berbeda. Dimensi spiritual melampaui makna formal agama. Sedangkan yang menekankan agama hanya secara formal cenderung bersikap eksklusif dan subjektif terhadap kebenaran yang berada dalam agama lain.

Baca Juga:  Konstruksi Sosial-Politik Pemikiran Mahbub Djunaidi

Agama itu Berbudaya

Sejarah telah membuktikan bahwa Islam berhasil masuk ke Indonesia melalui cara-cara yang santun, tidak semena-mena terhadap budaya yang telah ada. Islam yang mengedepankan spiritualitas daripada formalitas yang mengejar simbol-simbol dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, yang terpenting dalam beragama adalah kesejahteraan dalam hidup berbangsa dan bernegara bukan mengagamakan negara.

Selama ini Islam arus utama dikenal sebagai kelompok yang mampu melestarikan budaya-budaya yang pada hakikatnya tak bisa dipisahkan dengan masyarakat. Menurutnya, tidak semua budaya yang ada sejak sebelum Islam masuk ke Indonesia bertentangan dengan ajaran Islam, maka tidak seharusnya agama anti terhadap budaya.

Seharusnya telah mainstream diketahui bahwa Islam arus utama menerima budaya dengan sangat selektif dan inovatif, tidak semua budaya diterima. Jika ada budaya yang esensinya bertentangan dengan ajaran agama, maka yang harus diganti cukup esensi budaya itu, tak perlu menghanguskan eksistensi budaya tersebut. Agama itu berbudaya, bukan berbahaya.