Connect with us

Opini

Meningkatnya Tren Kasus Siswa Putus Sekolah

Published

on

Ilustrasi: Riau Mandiri

Pembelajaran Online

Selama masa pandemi, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang dilakukan sebagai proses kegiatan belajar mengajar secara online (dalam jaringan). Pembelajaran online diupayakan sebagai salah satu strategi menghindari risiko penularan Covid-19 terhadap peserta didik maupun guru pengajar. Transformasi digital memang telah memungkinkan terjadinya konektivitas kegiatan berbasiskan internet, sehingga aktivitas seperti tatap muka maupun bersentuhan secara fisik bisa dikurangi selama pandemi.

Dalam perkembangannya, banyak peserta didik mulai merasakan kebosanan dan kejenuhan selama mengikuti pembelajaran online. Hal ini sangat wajar, mengingat sejak awal pandemi di bulan Maret menyebabkan banyak ketidakpastian dan kepanikan bagi masyarakat. Kebijakan pemerintah di masa pandemi pun mengalami banyak evaluasi terkait penerapan protokol kesehatan. Ketersediaan transportasi yang dibatasi, jumlah karyawan yang mulai dibagi sistem bekerja dari rumah sebagai upaya pencegahan mobilitas, sampai kebijakan pembagian kuota internet oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk stimulus belajar online pelengkap dari program belajar dari rumah.

Bukan saja berdampak pada sisi ekonomi (finansial), tetapi juga psikologis masyarakat mulai bermasalah. Para orang tua dan peserta didik menganggap pandemi ini sebagai musibah yang tidak tahu sampai kapan akan berakhir. Meskipun belajar online memungkinkan untuk dilaksanakan, tetapi tidak semua daerah bisa mengakses internet dengan baik.

Selain itu, pembelajaran online cukup membebankan bagi orang tua untuk terlibat langsung dalam pengawasan proses belajar anak dari rumah. Meskipun dianggap cukup efektif untuk pencegahan tertularnya Covid-19 di klaster pendidikan, tetapi pembelajaran online juga berdampak pada berbagai faktor. Salah satunya adalah kesehatan mental.

Gangguan Kesehatan Mental

Tak bisa dipungkiri, sejak berlangsungnya pembelajaran jarak jauh menggunakan sistem belajar online telah memunculkan sebuah polemik baru. Belakangan ini banyak jurnal penelitian yang menyoroti beberapa kasus yang berdampak terhadap faktor psikologis anak terutamanya berkaitan dengan kesehatan mental anak. Kebiasaan baru berupa sistem belajar online ini mengakibatkan banyak anak sekolah mengalami kejenuhan bahkan mengarah gejala depresi.

Baca Juga:  Terima Kasih Pada Ahok, Untuk Pendidikan Politik Anggaran Daerah

Salah satu penelitian yang dilakukan di Hubei, Cina, sebagai daerah pertama kali persebaran virus Covid-19 yang dirilis oleh JAMA Pedriatics terdapat sampel sebanyak 2.330 pelajar mulai menunjukkan gejala yang berkaitan dengan kesehatan mental mereka. Diungkapkan bahwa kerentanan gangguan kesehatan mental terhadap pelajar sangat tinggi.

Menurut laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meningkatnya kasus-kasus ekstrem terhadap pelajar di Indonesia seperti kasus bunuh diri dan depresi disebabkan oleh tingkat stres anak selama mengikuti pembelajaran jarak jauh dengan metode belajar online. Memang, gangguan kesehatan mental ini menjadi sorotan selama masa pandemi. Banyak siswa mengakui mulai mengalami kebosanan dengan rutinitas belajar yang harus dilakukan secara online. Serta kebingungan dari pihak orang tua dalam mendampingi sekaligus mengawasi anaknya untuk dapat mengikuti sistem pembelajaran tersebut.

Sehingga, dampak pembelajaran online kemudian memunculkan kasus-kasus ekstrem di beberapa daerah, seperti kasus bunuh diri yang terjadi di Tangerang, Gowa dana Tarakan. Selain itu, ketergantungan anak terhadap gim online juga menjadi imbas dari pelampiasan para siswa selama mengikuti pembelajaran tersebut. Hal ini mengakibatkan juga meningkatnya angka siswa putus sekolah disebabkan beberapa faktor.

Bagaimanapun juga, peran orang tua menjadi kunci dalam keberhasilan tumbuh kembang anak. Termasuk juga perubahan selama belajar di sekolah mulai berganti dilakukan secara daring (dalam jaringan) atau online, tetapi dalam pelaksanaannya banyak juga orang tua yang abai hal tersebut. Mengingat dampak pandemi ini juga berimbas pendapatan keluarga dan kesibukan baru yang lain, seperti work from home cukup mengganggu aktivitas belajar anak di rumah.

Siswa Putus Sekolah

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memberikan alternatif berupa opsi untuk memulai belajar tatap muka di beberapa daerah yang sudah dianggap zona aman. Opsi tersebut menjadi semakin terbuka mengingat berkembangnya berbagai kasus pelajar akibat sistem belajar online dan persiapan agenda vaksinasi klaster pendidikan yang akan dimulai. Hal ini dianggap perlu mengingat banyaknya kasus yang bermunculan akibat ketidakstabilan sistem belajar online yang dilakukan oleh para siswa.

Baca Juga:  Saatnya Perempuan Memilih

Meningkatnya kasus siswa putus sekolah diungkapkan oleh salah satu komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti menyebutkan ada lima penyebab tren siswa putus sekolah selama pandemi. Adapun tren ini disebabkan antara lain karena menikah, bekerja, menunggak iuran SPP, kecanduan gim online, dan meninggal dunia.

Dalam catatan KPAI sebanyak 33 siswa putus sekolah direntang waktu antara bulan Januari – Februari 2021 disebabkan oleh meningkatnya tren pernikahan dini yang terjadi di Kabupaten Seluma, Kota Bengkulu dan Kabupaten Bima. Hal ini tentu menjadi sebuah ironi dalam wajah pendidikan kita apabila angka siswa putus sekolah semakin tinggi di berbagai daerah selama pandemi ini. Sehingga menjadi penting bagi para pemangku kebijakan untuk memastikan ketersediaan para siswa kita mengikuti program wajib belajar 12 tahun terpenuhi.

Sebagai refleksi bersama, dibutuhkan kerja sama dan perhatian yang cukup besar terhadap dunia pendidikan di masa mendatang. Bisa jadi pendidikan inklusif akan menjadi sebuah paradigma baru bagi orang tua untuk dapat memberikan perhatiannya terhadap tumbuh kembang anak agar terhindar dari banyaknya gangguan kesehatan mental sampai putus sekolah. (*)

Advertisement
Advertisement

Terkini

Lifestyle25 menit ago

Marandang, Tradisi Sambut Ramadan di Ranah Minang

SERIKATNEWS.COM – Marandang merupakan salah satu tradisi yang ada di Ranah Minang dalam menyambut bulan suci Ramadhan. “Alah masak Randang?”...

Lifestyle10 jam ago

Menjaga Alam dengan Sodasan, Pembersih yang Ramah Lingkungan

SERIKATNEWS.COM – Di masa pandemi ini, kita harus lebih sering mencuci tangan. Tentunya selain menyebabkan tangan menjadi kering, limbah sabun...

Hukum10 jam ago

Rumah Bos PT Purnama Karya Digeledah KPK terkait Kasus Nurdin Abdullah

SERIKATNEWS.COM – Sejumlah barang bukti terkait kasus dugaan korupsi proyek pekerjaan infrastruktur yang melibatkan Nurdin Abdullah selaku Gubernur Sulawesi Selatan...

News16 jam ago

Wi-fi Gratis Tersedia di 14 Objek Wisata Bangka Belitung

SERIKATNEWS.COM – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepulauan Bangka Belitung (Babel) memasang layanan wi-fi gratis di 14 titik objek wisata. Tujuan utamanya...

News17 jam ago

Menko Polhukam Tekankan Kepala Daerah Hindari Perilaku Koruptif

SERIKATNEWS.COM – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, mengimbau kepada kepala daerah terpilih pada Pilkada 2020 untuk menghindari perilaku...

Ekonomi17 jam ago

Menteri Trenggono Lepas Ekspor Produk Perikanan ke-40 Negara

SERIKATNEWS.COM – Kementerian Kelautan dan Perikanan melepas ekspor produk perikanan secara serentak di berbagai wilayah Indonesia. Hal ini sebagai penanda...

News17 jam ago

Colong Start Mudik Tak Dilarang, Kemenhub Perketat Pengawasan

SERIKATNEWS.COM – Berhubung adanya larangan mudik yang berlaku pada 6-17 Mei 2021, tak menutup kemungkinan masyarakat akan colong start mudik....

Populer

%d blogger menyukai ini: