Connect with us

Opini

Menyoal Yel-Yel Islam Yes, Kafir No

Published

on

Foto: SD Timuran Yogyakarta tempat pembina Pramuka mengajarkan yel yel "Islam yes kafir no", Senin (13/01/20) (KBR/Ken)

Hal yang sensitif tentunya tidak untuk diganggu dan dipertontonkan. Mengapa? Karena keimanan wilayahnya adalah personal, pun bukan menjadi urusan orang lain.

Kalaupun untuk memperdalam memang butuh ruang dialog. Tetapi, sekali lagi, ruang yang sensitif bukan untuk diganggu dan dipertontonkan.

Salah satu pembina pramuka dalam acara kepramukaan kwarcab di salah satu SDN di Yogya menjadi sorotan. Bukan hanya di lingkungan SDN dan Daerah Yogya saja, tetapi meluas. Bahkan Pak Menteri Polhukam (Politik Hukum dan Ham) Mahfud MD melontarkan komentar atas kejadian tersebut. Berarti serius sekali permasalahan tersebut.

Lagi-lagi perihal agama. Perihal kondisi keagamaan. Yang menurut banyak kalangan mengganggu keberagaman. Keberagaman yang menjadi ciri utama bangsa. Baik dalam kontek nilai-nilai sosial, tradisi dan agama.

Kemajemukan menjadi kehidupan yang saling topang: antar warga bangsa Indonesia. Sehingga akan menjadi gejolak, ketika hal yang bersifat vital disentuh atau ditampakkan bukan pada tempatnya. Ruang dan waktu menjadi sangat penting.

Agama adalah jalan menuju kepada-Nya. Nilai keberagamaan tentunya menjadi ihwal dalam menjalani kehidupan. Jika di dalam agama tertentu diajari toleransi, maka wajib untuk mengamalkannya. Pun dengan ajaran-ajaran yang lain.

Walaupun kadang salah dan kaprah dalam memahami setiap ajaran.

Yel-yel islam yes, kafir no, akan menjadi boomerang ketika ditampilkan di ruang publik. Pasalnya, tidak semua warga negara Indonesia beragama islam. Apalagi pramuka adalah wadah bagi siapapun belajar tentaang kemandirian dan kedisiplinan. Untuk belajar nilai-nilai keagamaan pun ada ruangnya tersendiri.

Pertanyaan sederhananya adalah, kenapa sih diajak menjaga persaudaraan antar manusia saja susah? Lho… Berarti tepuk tersebut dianggap pemicu perpecahan?

Kalaupun iya, maka permasalahannya adalah membangun kesadaran berbangsa, bernegara dan beragama. Bagaimana menyelaraskan nilai keberagamaan dan kehidupan sosial. Pasalnya, tidak sedikit yang merasa benar dengan pemahaman yang ia yakini, sehingga ia merasa wajar atas apa yang ia lakukan, termasuk atas perihal tepuk tersebut.

Baca Juga:  Tantangan Santri Di Zaman Now: Sebuah Refleksi

Prinsip lakum dinukum wa liya addin agaknya kurang begitu dipahami. Bahwa ada prinsip saling memahami dan menghormati perbedaan yang diatur oleh Tuhan dalam kitab suciNya.

Sayangnya, banyak yang menutup diri atas rasa hormat terhadap perbedaan. Apakah persamaan menjadi solusi perihal kesejahteraan, moral, ekonomi, sosial, budaya dan peradaban?

Lantas apakah karena berbeda, sehingga menjadi pemicu munculnya perpecahan? Jika demikian, maka masalah utamanya adalah over – sensitif. Sensitif atas perbedaan yang seharusnya (menurut pemahamannya) harus sama, pun sensitif atas persamaan, karena memaksa untuk sama belum tentu menjadi solusi atas stabilitas sosial.

Dengan kata lain, perlunya memahami ruang dan waktu, agar apa yang dilakukan tepat sasaran. Serta di lain pihak, memberikan pemahaman untuk menumbuhkan kesadaran, bahwa perbedaan adalah anugerah dari Tuhan, sehingga kita perlu menjaganya dengan saling menghormati dan menghargai perbedaan tersebut.

Yang perlu kita renungkan adalah seberapa jauh upaya dalam menumbuh kembangkan nilai keberagamaan, sehingga prinsip lakum dinukum waliyaddin benar-benar menjadi prinsip saling menghormati keberagaman.

Prinsip dasar itulah yang perlu digali. Mengapa perihal tepuk atau yel-yel islam yes, kafir no tidak diperkenankan? Karena lembaga pendidikan, apalagi SDN, tentunya memiliki siswa dan siswi yang beragam dalam status agamanya.

Karena wilayah agama adalah wilayah yang sensitif, maka kesadaran untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya perlu diupayakan. Pembinaan misalnya. Lembaga pendidikan dan pengembangan diri seperti pramuka agaknya memiliki ruang untuk pelatihan-pelatihan kepembinaan. Atau ruang keagamaan itu sediri yang seharusnya berperan aktif dalam membangun kesadaran untuk saling menghargai dan menghormati perbedaan.

Advertisement

Popular