SERIKATNEWS.COM – KPI SUKA FILM FEST 2022 kembali diselenggarakan pada Kamis (22/12/2022), di Gedung Convention Hall (CH) Lt. 1 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Acara ini merupakan acara tahunan yang menjadi ruang mahasiswa menampilkan karya-karyanya.
Bertema “Asmaraloka”, ada dua jenis karya yang ditayangkan, yaitu film pendek dan film dokumenter. Salah satu film dokumenter berjudul Merawat Generasi mengusung isu penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Sebagai kelompok minoritas, penghayat kepercayaan sering kesulitan saat akan mengakses hak-haknya. Hal tersebut dikarenakan pada masa Orde Baru, hanya ada lima agama yang diakui pemerintah.
Salah satu persoalan pelik yang dihadapi kelompok penghayat kepercayaan ialah hak pendidikan. Meskipun pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 27 Tahun 2016, dalam implementasinya belum mengakomodir sepenuhnya.
Suroso merupakan guru penghayat kepercayaan satu-satunya di kecamatan Saptosari, Gunung Kidul. Karena bukan guru formal, dia disebut penyuluh. Saat ini Suroso mengajar empat anak. “Status saya sebagai penyuluh, bukan pengajar,” terangnya dalam satu adegan dalam film tersebut.
Dia mengajar di rumah karena sekolah belum memfasilitasi tempat kegiatan belajar-mengajar layaknya siswa pemeluk agama mayoritas. Penyuluh bekerja sukarela. Oleh karena itu, honor Suroso tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Dia bekerja lain yakni beternak. “Ada yang memberikan sekadar honor untuk saya,” papar Suroso.
Tri Noviana, Yayasan LKIS, menerangkan Permendikbud tidak mengikat sekolah untuk wajib melayani pendidikan kelompok penghayat kepercayaan. “Tidak semua sekolah langsung oke, ada beberapa yang enggak tahu kalau ada aturan menteri itu,” terangnya.
Pada Agustus lalu, Kemendikbud mengajukan RUU Sisdiknas ke pemerintah. Menurut Noviana dalam satu adegan dalam film dokumenter, RUU tersebut tidak mengakomodir hak-hak penghayat kepercayaan. Hal tersebut bisa dilihat dari hilangnya frasa “pendidikan kepercayaan”.
“RUU ini mengalami regresi demokrasi,” ujar Noviana. Pasalnya, dalam naskah akademik terdapat dua frasa tersebut, tetapi kemudian hilang dalam draft RUU Sisdiknas.
Setelah pemutaran film, dilanjut dengan sesi diskusi. Aji Bintang Nusantara, penulis naskah sekaligus sutradara film memaparkan latar belakang mengangkat isu tersebut adalah ingin memperkenalkan eksistensi penghayat kepercayaan kepada khalayak.
Menurutnya, kelompok penghayat seharusnya tidak mendapatkan diskriminasi, mengingat semboyan Indonesia “Bhinneka Tunggal Ika” yang artinya berbeda-beda tetap satu. “Harapannya kita bisa lebih menghargai dengan understanding other,” terang Aji.
Dia juga menjelaskan tantangan dalam proses pembuatan film adalah saat mencari sosok penghayat. Juga, penemuan masalah dan data saat riset yang baru dia ketahui.
Kontributor Serikat News Daerah Istimewa Yogyakarta
Menyukai ini:
Suka Memuat...