Connect with us

Opini

Nalar Kritis Mahasiswa yang Mulai Terpasung

Published

on

BEBERAPA upaya dilakukan pemerintah melalui Kemendikbud untuk membantu masyarakat menengah ke bawah untuk mengenyam pendidikan tinggi. Beberapa program pun dilakukan, seperti beasiswa bidikmisi dan yang terbaru adalah program Uang Kuliah Tunggal (UKT).

Uang Kuliah Tunggal atau sering disebut UKT adalah sebuah sistem pembayaran di mana biaya kuliah mahasiswa selama masa studi dibagi rata per semester (rata-rata Universitas menggunakan 8 semester). UKT mulai diterapkan di berbagai perguruan tinggi terutama perguruan tinggi negeri (PTN) pada tahun ajaran 2013/2014. UKT yang dimaksud disesuaikan dengan Permendikbud No. 55 Tahun 2013 tentang Uang Kuliah Tunggal pada Perguruan Tinggi Negeri di Lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Rahmat, 2016).

Bersamaan dengan kebijakan UKT, pemerintah mengeluarkan kebijakan lain yang memberi angin segar, yakni Beasiswa Bidik Misi bagi mahasiswa dengan latar penghasilan orang tua yang tergolong dalam kelas 1 dan 2 atau malah ada yang mencapai kelas 3. Beasiswa Bidik Misi dari ke tahun ke tahun mengalami kenaikan kuota penerima beasiswa sehingga baik orang tua calon mahasiswa yang berada pada kelas 1,2 atau 3 menjadi lebih santai dan merasa sangat terbantu, apalagi pihak Institusi Perguruan Tinggi yang kemudian memasukkan semua mahasiswa di kelas 1,2 atau 3 yang menerima beasiswa Bidik Misi ke dalam satu kelas dengan biaya pendidikan yang sama (Rahmat, 2016).

Di satu sisi, program-program tersebut dapat membantu mahasiswa yang kurang mampu, namun di sisi lain program-program tersebut secara tidak langsung memasung nalar kritis mahasiswa. Mahasiswa akan lebih fokus kuliah dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen supaya mendapatkan nilai tinggi daripada aktif di organisasi atau kegiatan-kegiatan lain di luar kampus. Karena mahasiswa dituntut lulus tepat waktu sesuai peraturan-peraturan program tersebut. Kondisi seperti ini akan membuat mahasiswa seperti robot, cenderung individualis, dan kreativitas mereka akan menghilang karena keadaan sekitar.

Baca Juga:  Terobosan Komunikasi Jokowi – Sultan Segera Wujudkan Jalan Tol Hingga Yogya

Padahal kegiatan di luar akademik seperti organisasi intra maupun ekstra membuat mahasiswa lebih kritis, bukan hanya terhadap kebijakan-kebijakan yang dilakukan para birokrat kampus yang dirasa merugikan mahasiswa, tapi juga terus mengawal langkah kebijakan pemerintah.

Berbicara tentang organisasi, pada dasarnya organisasi digunakan sebagai tempat atau wadah di mana orang-orang berkumpul, bekerja sama secara rasional dan sistematis, terencana, terorganisasi, terpimpin, dan terkendali, dalam memanfaatkan sumber daya, sarana-prasarana, data, dan lain sebagainya, yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan organisasi. Sedangkan organisasi mahasiswa, yaitu organisasi yang berisikan mahasiswa, yang dibedakan menjadi dua macam, yaitu internal dan eksternal kampus. Organisasi kemahasiswaan intra perguruan tinggi adalah wahana dan sarana pengembangan diri mahasiswa ke arah perluasan wawasan dan peningkatan kecendikiawanan serta integritas kepribadian untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan, menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian, serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional (Ius, 2015).

Selain itu, manfaat lain dari organisasi kemahasiswaan ialah tumbuhnya nalar kritis mahasiswa dalam mengkritisi kebijakan-kebijakan baik yang dilakukan  kampus maupun pemerintah. Sejarah mencatat bahwa melalui organisasi kemahasiswaan, pergerakan mahasiswa ikut andil dalam perubahan bangsa, mulai dari pra kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, hingga pasca Reformasi.

Diawali dengan kebijakan politik etis tahun 1901 yang memberikan pendidikan kepada bangsawan pribumi, melahirkan kaum-kaum pemuda terpelajar yang melihat kesengsaraan rakyatnya dan menginginkan persamaan harkat martabat bangsanya. Melalui organisasi pemuda seperti Perhimpunan Indonesia, dll, para pemuda bergerak untuk membebaskan Indonesia dari belenggu penjajahan. Puncaknya pada peristiwa Sumpah Pemuda tahun 1926 yang mana organisasi-organisasi pemuda dari seluruh penjuru tanah air untuk pertama kalinya berkumpul dan mengucapkan Ikrar Sumpah Pemuda yang menjadi cikal bakal semangat persatuan Indonesia (Ibrahim, 2018).

Baca Juga:  Berfilsafat bersama ML (Mobile Legends)

Pada masa orde baru yang memerintah selama 32 tahun, berbagai gerakan mahasiswa yang mengkritik kebijakan dan pelanggaran rezim dilakukan. Salah satunya adalah Peristiwa Malari tahun 1974, yang berujung pada kerusuhan massa aksi karena operasi rahasia intelijen Pemerintah. puncaknya tahun 1998 ketika krisis moneter dan peristiwa Trisakti yang memakan korban terjadi, ratusan ribu massa aksi turun ke jalan bahkan berhasil menduduki dan menguasai gedung parlemen menuntut Soeharto turun dari jabatannya. Peristiwa itu berujung pada runtuhnya rezim Soeharto dan peralihan masa reformasi yang mana dilaksanakannya berbagai agenda reformasi (Ibrahim, 2018).

Uraian tersebut di atas semakin menegaskan bahwa nalar kritis mahasiswa tidak hanya diperoleh di dalam kelas, tapi di luar akademik. Namun, mahasiswa zaman sekarang nalar kritisnya telah dipasung oleh pemerintah melalui program-program beasiswa, seperti beasiswa bidik misi dan lain sebagainya. Pada akhirnya, mereka (mahasiswa) hidupnya individualis, realistis, pragmatis, dan tidak peduli pada keadaan sekitar.

Advertisement
Advertisement

Terkini

News27 menit ago

Kemenperin Terima 150 Unit Konsentrator Oksigen dari Asosiasi Gula

SERIKATNEWS.COM – Kementerian Perindustrian bersama pelaku dan asosiasi industri bertekad untuk terus melakukan upaya percepatan pencegahan dan pengendalian Covid-19 di...

News43 menit ago

EFT Gelar Lomba Menulis Artikel, Hadiah Utama Rp7.500.000

SERIKATNEWS.COM – Selama ini pembangunan ekonomi dinilai hanya mengejar pertumbuhan dan sering kali merugian lingkungan. Karena itu, diperlukan inovasi kebijakan...

News9 jam ago

Yuk Merapat, PLN Cari Mitra Usaha untuk Bangun Lebih dari 100 SPKLU

SERIKATNEWS.COM – PT PLN (Persero) membuka peluang kerja sama bagi para pelaku usaha untuk ikut membangun 101 stasiun pengisian kendaraan...

News10 jam ago

Sediakan Listrik untuk Kapal Sandar, PLN Dukung Pengembangan Pelabuhan Ramah Lingkungan

SERIKATNEWS.COM – PT PLN (Persero) terus berinovasi dan menghadirkan layanan kelistrikan di sektor kelautan dan perikanan. Terbaru, Unit Pelaksana Pelayanan...

News10 jam ago

Generator Milik Kantor Pemkab Sampang Hangus Terbakar

SERIKATNEWS.COM – Lingkungan Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang Madura Jawa Timur dikagetkan dengan adanya asap hitam yang mengepul ke udara....

Warkopi Heboh, Ini Penjelasan Indro Yang Mangejutkan.! Warkopi Heboh, Ini Penjelasan Indro Yang Mangejutkan.!
Lifestyle13 jam ago

Warkopi Heboh, Ini Penjelasan Indro Yang Mangejutkan.!

SERIKATNEWS.COM – JAKARTA- Media sosial belum lama ini di gemparkan  dengan sosok remaja yang mempunyai fisik mirip dengan grup lawak...

News15 jam ago

Muncul Klaster Pendidikan, Zen ADV: Jangan Hentikan PTM, Kasihan Pendidikan Anak-anak

SERIKATNEWS.COM – Munculnya klaster pendidikan di beberapa daerah di Jateng setelah berlangsung pembelajaran tatap muka (PTM) beberapa minggu ini, hendaknya...

Populer

%d blogger menyukai ini: