Nahdlatul Ulama’ (NU) adalah organisasi Islam dengan semangat menjaga kesatuan dan persatuan bangsa. Menghormati ragam budaya, ragam agama, ras dan suku bangsa adalah sinergitas antara NU dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 30 Januari 1926 adalah hari di mana ide menjaga keutuhan bangsa-bangsa dan saling menghargai, menghormati segala perbedaan sehingga lahirlah NU.
Restu kiai-kiai sepuh terhadap Mbah Hasyim As’ary adalah modal awal untuk bergerak. Aspek sosial keberagamaan dan sosial budaya menjadi ruang terbesar dalam untuk menumbuhkan keberpihakan Islam, khususnya santri, terhadap keberagaman cara pandang, tradisi dan suku yang ada di Nusantara. Martin Van Bruinessen dalam bukunya, NU Tradisi, Relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru, pernah menyinggung bahwa di samping NU sebagai organisasi keislaman, juga memiliki pengaruh terhadap berjalannya sebuah negara nantinya. NU adalah organisasi paling signifikan yang sangat transendentralisasi.
Islam Jawa, warisan para leluhur, wali sanga dan lain sebagainya adalah warisan budaya yang sedikit banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya kultural. Ketika Islam masuk sebagai nilai, maka peradaban kemanusiaan yang terbentuk adalah humanism. Lain hal ketika Islam masuk ke Jawa dengan ragam aturan-aturan mengikat, membid’ah-bid’ahkan, mengharam-haramkan, takfiri, dan lain sebagainya, maka Islam akan dipandang sebagai ruang yang sangat sempit dan tertutup.
Nusantara dengan ragam pesantrennya, khususnya Jawa dengan pecantrikannya menebarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Kita dapat melihat di sekitar kita, tidak sedikit warisan budaya leluhur yang sarat akan tradisi Jawa atau bangsa nusantara dengan nilai-nilai Islam, baik dalam segi ajaran, pun praktik sosial. Fenomena ini tentu tidak bisa serta merta diharamkan atau dibid’ah-bid’ahkan, karena pembauran budaya lokal dengan nilai-nilai Islam adalah bukti bahwa Islam merupakan agama terbuka dan rahmat bagi semua umat manusia. Gus Dur selalu mengedepankan toleransi dan humanism. Yang terpenting dalam kehidupan adalah kemanusiaan.
Budaya-budaya lokal di nusantara adalah warisan para leluhur yang perlu dijaga-kembangkan. Keberagaman adalah fitrah kehidupan yang tidak bisa dihindari. Sehingga budaya lokal seperti samman, tari topeng, tumpèngan, mitonan, selapanan, gugur gunung, dan lain sebagainya adalah budaya yang mengandung pesan-pesan luhur. Menjaga alam, menghargai perbedaan adalah semangat kultur yang diwariskan oleh para leluhur terhadap generasi penerus.
Semangat kulturalisme bukan berarti memandang sebelah mata terhadap perkembangan zaman dan teknologi. Amin Abdullah mengenalkan pendekatan interaksi–interkoneksi. Hal ini tidak hanya dalam aspek pengetahuan semata, melainkan dalam ruang-ruang sosial keberagamaan. Kepekaan terhadap problem sosial, turut serta menjaga kearifan lokal melalui ruang pendidikan adalah semangat kulturalisme yang sejak dulu ada. Warisan ini tentu perlu kita jaga.
Baik NU dan Muhammadiyah adalah wadah yang luas untuk menghadirkan Islam yang rahmatan lil alamin. Karena dewasa ini keberpihakan dan kepekaan sosial budaya menjadi “PR” yang sangat penting. Disadari atau tidak keberagaman dan budaya adalah latar belakang munculnya ragam sikap dan nilai, baik dalam ruang keagaman pun ruang kemanusiaan. Hal ini menandakan bahwa peradaban terus berjalan.
Seperti halnya NU, menurut Said Aqil Sirajd sudah memasuki usia dewasa. 95 tahun perjalanan NU dengan menjaga substansi agama, budaya, dan tradisi lokal, sehingga menjadi komunikasi yang erat dan hangat. Perjalanan dengan ragam sikap konsistensi menuju pada kesadaran sosial, keberpihakan, dan kedewasaan cara berpikir. Oleh sebab itu, di usia ke-95 ini ada ragam harapan terhadap NU untuk selalu menjaga stabilitas komunikasi keberagaman sosial, berbangsa, dan bernegara.
Islam Nusantara, semangat kulturalisme dan upaya menjaga stabilitas keberagaman adalah upaya tiada henti yang dilakukan oleh NU. Semoga NU selalu konsisten dengan semangat Aswaja dan menjaga komitmen kebangsaan, salah satunya semangat toleransi dan humanism. Pun peka terhadap semangat menjaga tradisi dan kultur budaya.
Sedang Nyantri di Bayt Al-Karim Gondanglegi dan Bayt Al-Hikmah Kepanjen Malang
Menyukai ini:
Suka Memuat...