SERIKATNEWS.COM – Suara anak muda Indonesia terhadap proses pengambilan keputusan politik menurut Ketua DPR RI Puan Maharani masih sangat minim. Padahal, separuh populasi dunia saat ini berusia di bawah 30 tahun. Sedangkan hingga tahun 2030, jumlah populasi anak muda akan mencapai hampir 1,3 miliar orang.
“Terlepas dari proporsi yang tinggi tersebut, namun kaum muda cenderung kurang terwakili dalam proses pengambilan keputusan politik di mana lebih dari 2,6% anggota parlemen dunia merupakan kaum muda di bawah 30 tahun,” ujar Puan dalam acara “Networking Night” sebagai bagian dari rangkaian Youth 20 (Y20) Indonesia 2022 Summit.
Pelibatan kaum muda merupakan kunci untuk mempromosikan dan memperkuat demokrasi di seluruh dunia. Hal itu sekaligus demi memajukan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Kaum muda adalah pemimpin masa depan serta mesin pembangunan ekonomi masa depan. Karena itu, kaum muda diharapkan dapat menghadirkan ide-ide baru untuk memecahkan masalah global.
Puan juga menyinggung soal pandemi Covid-19 dan perubahan iklim yang telah menyebabkan munculnya ‘new normal´ di banyak negara. “Belum lagi, dunia sedang dihadapkan pada kekacauan global akibat perang Rusia dan Ukraina yang mengganggu ketersediaan energi, serta ketahanan pangan. Saat kita berusaha untuk memecahkan masalah global ini, kita harus fokus pada proses pemulihan dan membangun kembali dengan lebih baik,” kata Puan.
Dunia harus memprioritaskan masyarakat yang paling terkena dampak krisis, seperti pemuda dan perempuan. Jadi tema Y20 2022 yaitu “Dari Pemulihan ke Ketahanan: Membangun Kembali Agenda Pemuda”, relevan dan tepat waktu.
Menurutnya, saat ini dunia tidak hanya perlu pulih, tetapi juga perlu membangun dunia yang tangguh. Salah satunya dengan membangun ketahanan bagi kaum muda.
Cara pertama yang dapat dilakukan, dengan memberdayakan kaum muda, dan meningkatkan partisipasi dalam proses pengambilan keputusan. “Langkah yang bisa dilakukan lainnya adalah dengan memastikan suara generasi muda didengar di tingkat global, nasional, dan lokal,” kata dia lagi. Dalam pandangan Puan, representasi politik pemuda perlu diperkuat untuk membawa kepentingannya di lembaga formal seperti parlemen, lembaga pemerintah, dan dewan pemuda.
Cara kedua yang dapat dilakukan negara-negara dunia dengan menyediakan pendidikan yang berkualitas bagi kaum muda. Sebab, pendidikan bisa menjadi “game changer” yang mengubah kaum muda untuk menjadi kekuatan positif dalam masyarakat.
“Pandemi telah mengganggu pendidikan lebih dari 90% anak-anak di seluruh dunia. Bagi banyak siswa, gangguan ini mungkin berdampak permanen bagi masa depan mereka,” sambung dia.
Puan menjelaskan, dalam jangka pendek prioritas yang perlu dilakukan dengan membantu anak-anak untuk mengejar ketinggalan pembelajaran selama pandemi. Karena itu, diperlukan juga sistem pendidikan yang dimodernisasi, sehingga pembelajaran lebih berpusat pada siswa, dinamis, dan kolaboratif.
“Kita perlu mengubah pendidikan sehingga siswa dapat mencapai potensi penuh mereka dengan mempelajari pengetahuan dan teknologi baru. Pendidikan yang berkualitas harus dapat membantu siswa meningkatkan literasi digital dan mengurangi kesenjangan digital,” pungkas Puan. (*)
SerikatNews.com adalah media kritis anak bangsa. Menyajikan informasi secara akurat. Serta setia menjadi platform ruang bertukar gagasan faktual.
Menyukai ini:
Suka Memuat...