Kalau para pemimpin Indonesia dan politisi mengetahui bahwa AS sesungguhnya memainkan Politik Islamophobia untuk mengkokohkan kepentingannya, dengan penggunaan agama dalam hal ini adalah Islam yang dianut oleh mayoritas rakyat, maka sudah seharusnya rakyat bersatu untuk melawan mereka.
Islamophobia adalah situasi batin dengan ketakutan terhadap Islam karena kekerasan, radikalisme dengan memakai nama Islam. Padahal sesungguhnya, Islam adalah Agama yang menawarkan kasih dan perdamaian. Oleh sebab itu kita jangan terjebak dalam permainan politik Barat yang hendak menghancurkan Islam dan Indonesia.
Baca Juga: Nisa Sabyan Itu Biasa-Biasa Saja
Di satu sisi mereka menganggap peradaban Islam sebagai lawan peradaban barat. Ini nyata-nyata diungkapkan pada tesisnya Huntington dalam Clash of Civilization. Dimana disisi lain, kekuatan barat telah menciptakan Wahabisme, yang bersahabat dengan kelompokm Islam radikal. Dengan tujuan utama adalah menguasai serta mempertahankan hasil daripada sumber daya alam Indonesia yang berlimpah.
Hal ini masif dilakukan setelah kekuasaan Suharto sebagai bagian dari antek mereka di Indonesia sudah hancur. Mereka kemudian memanfaatkan elit militer yang bersimbiosis dengan mendorong gerakan Islam radikal hingga naik daun. Militer baik aktif maupun pensiunan sangat rentan dikooptasi oleh kekuatan luar negeri. Apalagi militer dan kekuatan luar negeri punya kepentingan bersinergi yang sama yaitu penguasaan sumber daya alam Indonesia. Bargaining position yang sulit dihindari Jokowi. Karena militer adalah suatu kekuatan politik utama Indonesia.
Sayangnya, kemudian telah berhasil memecah Islam, menjadi sulit sekali bertemu. Saling mencurigai dan memusuhi. Karena salah dalam mengidentifikasi musuh. Bukan hanya itu saja, Islam radikal juga didorong untuk membunuh yang beragama lain menebar ketakutan. Maka kemudian terbentuklah Islamophobia.
Islamophobia merupakan politik yang dimainkan oleh kelompok tertentu dalam hal ini AS dan sekutunya, dimana tujuannya adalah dengan merusak citra Islam dengan memperalat kelompok Islam tertentu untuk melakukan kekerasan, untuk melawan rezim yang sah dengan atas nama khilafah Islamiyyah, yang kemudian berhasil membuat masyarakat seakan dalam teror, berprasangka buruk terhadap Islam dan melakukan berbagai penolakan. Tujuan utama AS dan sekutunya tidak lain adalah untuk penguasaan sumber daya alam Indonesia.
Disamping itu, dengan kuatnya dominasi militer yang tetap kuat. Saat yang sama blok politik sipil yang kuat untuk melawan islamophobia tidak terbentuk. Maka sampai kapan pun Indonesia akan tidak selesai mengatasi isu ini. Padahal kita butuh kekuatan Islam yang solid yang dipimpin oleh blok politik sipil, meskipun banyak kelompok dan banyak perbedaan di antara mereka. Mengingat bahwa doktrin militer adalah kekuatan pertahanan dari ancaman, bukan pada kekuatan sebagai operator ketata-negaraan.
Maka semestinya ada kekuatan politik sipil Islam nasionalis dan progresif yang bisa diterima oleh semua kalangan, baik Islam maupun yang bukan Islam.
Apalagi dalam kerangka Indonesia yang plural, eksklusifisme beragama tidak bisa dipertahankan. Setiap agama merupakan doktrin komprehensif yang lengkap hanya untuk penganutnya sendiri, tapi tidak untuk penganut agama lain. Makanya, agama sebagai sistem doktrin komprehensif mesti berdialog untuk mengetahui dimana titik temunya sekaligus titik putusnya dengan agama lain. Titik-titik temu itulah yang menjadi pedoman moral bagi terbentuknya dasar negara yang sekuler, tanpa mengabaikan perbedaan (titik-titik putus) mereka.
Inilah yang saya maksudkan sebagai: ajaran (hukum) agama sebagai pedoman moral untuk penyusunan konstitusi/hukum negara yang sekuler atau hukum publik. Selain itu, John Rawls, seorang pemikir kesohor AS berpendapat (dan saya sepakat) bahwa ajaran (hukum) agama adalah doktrin komprehensif bagi pemeluknya, tapi tidak untuk penganut agama lain. Maka, dalam ruang publik, para penganut agama yang berbeda itu harus mendialogkan doktrin komprehensif masing-masing bersama dan berhadapan dengan doktrin komprehensif dari agama lain. Di situ dicarikan titik temu, mana nilai-nilai yang dimiliki bersama setiap agama dan karena itu bisa menjadi bahan bagi pijakan hukum publik, dan mana yang berbeda dan tetap menjadi hukum khusus agama tertentu yang biasanya sudah lama berlaku.
Masalahnya: masih banyak orang yang bodoh serta tidak paham. Dan ada juga yang paham tapi pura-pura bego demi kepentingan politik transaksional sesaat. Mereka tidak mengerti kebegoan itulah yang menimbulkan risiko dari yang terkecil sampai yang terbesar dan terburuk. Oleh sebab itu kekuatan blok politik sipil itulah seharusnya diberi tempat dalam Politik, misalnya jabatan wakil presiden. Yang bisa diterima oleh semua kalangan.
Pentingnya blok politik yang kuat untuk melawan strategi Politik Islamophobia bertujuan sangat penting. Pertama, mengajak seluruh masyarakat untuk memandang Islam sebagai Agama yang menawarkan kasih dan perdamaian. Kedua, Islam merupakan kekuatan pembentuk dan penjaga nasionalisme Indonesia. Ketiga, menyadarkan kita supaya tidak terjebak dalam permainan politik barat yang mau menghancurkan Islam dan Indonesia.
Menyukai ini:
Suka Memuat...