ACEH – Pemerintah Provinsi Aceh terus mempercepat pemulihan sektor energi. Upaya tersebut difokuskan pada normalisasi sistem kelistrikan, pemulihan distribusi bahan bakar minyak (BBM), serta penyaluran elpiji (LPG) agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi pasca bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh, Taufik, mengakui jika kondisi kelistrikan di wilayahnya saat ini masih dalam tahap pemulihan. Pemadaman bergilir masih terjadi, termasuk di Kota Banda Aceh, sebagai dampak dari kerusakan infrastruktur transmisi akibat bencana.
“Kondisi listrik di Aceh memang masih gelap dan terjadi pemadaman bergilir yang cukup ekstrem. Hal ini disebabkan oleh robohnya sejumlah menara transmisi dan terputusnya jaringan listrik akibat bencana,” ujar Taufik belum lama ini.
Pemerintah Aceh terus berkoordinasi intensif dengan PT PLN (Persero). Tim PLN di lapangan bekerja tanpa henti untuk mempercepat perbaikan jaringan dan menara transmisi yang terdampak, meski menghadapi tantangan medan dan cuaca.
Untuk sistem transmisi Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) Peusangan Bireuen, Taufik menyebutkan sebelumnya terdapat empat menara roboh dan satu menara mengalami deformasi. “Alhamdulillah, per hari ini perbaikan di jalur tersebut sudah selesai 100 persen dan kembali berfungsi,” ujarnya.
Perbaikan juga telah tuntas pada jalur SUTT Bireuen–Arun yang sempat mengalami kerusakan akibat robohnya menara transmisi. Namun, kendala masih terjadi pada jalur SUTT Brandan–Langsa. Meski begitu berdasarkan laporan terakhir, progres perbaikan telah mencapai 86 persen.
“Rekan-rekan PLN terus mengejar penyelesaian agar sistem kelistrikan Aceh dapat berangsur pulih dan kembali normal. Kami terus memberikan dukungan dan berharap proses ini dapat selesai tanpa hambatan berarti,” kata Taufik.
Selain kelistrikan, kondisi pasokan BBM di Aceh secara umum berada dalam keadaan aman. Dari 23 kabupaten/kota, sebanyak 19 daerah telah berada dalam kondisi normal. Sementara empat kabupaten masih dalam tahap pemulihan, yakni Aceh Tamiang, Gayo Lues, Bener Meriah, dan Aceh Tengah.
Di Kabupaten Aceh Tamiang, dari tujuh SPBU yang ada, empat SPBU telah beroperasi normal. Tiga SPBU lainnya masih dalam proses perbaikan sarana dan prasarana akibat terdampak banjir. Untuk Kabupaten Gayo Lues, lima dari tujuh SPBU telah beroperasi, sementara dua SPBU lainnya secara teknis siap beroperasi, namun terkendala akses jalan yang masih terputus.
Sementara itu, di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah, masing-masing empat SPBU di Bener Meriah dan delapan SPBU di Aceh Tengah telah siap secara sarana dan prasarana. Namun, distribusi BBM ke wilayah tersebut masih terkendala karena akses darat belum terbuka sepenuhnya.
“Pertamina tetap berupaya memasok BBM melalui jalur udara, meskipun kapasitasnya sangat terbatas. Begitu akses darat terbuka, distribusi akan langsung dimaksimalkan,” ujar Taufik.
Untuk penyaluran LPG, secara umum distribusi dari agen ke pangkalan mulai berjalan normal. Namun, Bener Meriah dan Aceh Tengah masih menjadi wilayah yang relatif terisolasi. Penyaluran LPG ke dua daerah tersebut dilakukan melalui jalur udara dengan pesawat dan helikopter.
“Kami telah mengirimkan 154 tabung LPG untuk mendukung operasional dapur umum di kedua kabupaten tersebut. Saat ini juga sedang disiapkan pengiriman tambahan sebanyak 180 tabung LPG dari Bandara Malikus Saleh menuju Bandara Rembele di Bener Meriah,” jelas Taufik.
Distribusi LPG ke wilayah Banda Aceh dan Pantai Barat juga masih menghadapi tantangan akibat terputusnya jembatan Kota Blang. Sebagai solusi, pengiriman LPG dari Arun ke Banda Aceh dilakukan melalui jalur laut dengan frekuensi dua hari sekali, menggunakan rata-rata delapan unit skid tank per hari untuk melayani SPBE di Indrapuri dan Meulaboh.
“Antrian LPG di lapangan memang masih terjadi karena lonjakan kebutuhan masyarakat pascabencana, sementara distribusi menghadapi keterbatasan jalur. Namun kami pastikan stok LPG, kuota LPG, dan BBM dalam kondisi cukup,” tegas Taufik.
Ia menambahkan, Gubernur Aceh telah menyurati Menteri ESDM dan BPH Migas untuk mengantisipasi penambahan kuota apabila dibutuhkan. Permohonan tersebut telah direspons dengan pembukaan akses penuh untuk penyediaan BBM dan LPG di Aceh.
“Kami berkomitmen bersama Pertamina untuk memastikan distribusi energi terus berjalan. Dengan kerja sama semua pihak, kami optimistis kondisi energi di Aceh dapat berangsur pulih dan kembali normal seperti sediakala,” pungkas Taufik. (*)
SerikatNews.com adalah media kritis anak bangsa. Menyajikan informasi secara akurat. Serta setia menjadi platform ruang bertukar gagasan faktual.
Menyukai ini:
Suka Memuat...