Connect with us

Opini

Perang Di Zaman Milenial

Published

on

Dalam beberapa hari ini tersebar bagaimana perbandingan kampanye damai ala Presiden Joko Widodo dengan kampanye menggebu-gebu ala Neno Warisman. [Link: https://www.youtube.com/watch?v=581CehfBhZo]. Di dalam video ini, Neno Warisman, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Amien Rais, mengkondisikan pesta pemilihan Presiden sebagai ajang perang besar-besaran, seperti perang Badar di zaman Rasulullah SAW. Pada masa itu, umat Islam memerangi kafir Quraish yang telah mengancam keselamatan umat muslim.

Bagaimana keadaan pada zaman Rasulullah tersebut disamakan oleh Neno dengan keadaan Indonesia yang aman tentram pada masa sekarang? Penggambaran keadaan yang demikian seolah ingin menggiring kedamaian Indonesia ke tengah kondisi kisruh di dunia. Warga negara-negara Islam di dunia sedang saling berbenturan karena isu-isu SARA yang disebarkan di antara mereka. Keadaan yang seperti itu kini malah seolah sedang berusaha dipaksakan terjadi di Indonesia dengan provokasi-provokasi yang diujarkan oleh orang-orang seperti Neno Warisman ataupun Amien Rais.

Pengandaian berat berat sebelah antara partai pendukung pemerintah dengan partai oposisi yang dilakukan oleh Amien Rais, yaitu dengan menyebutkan kelompoknya yang merupakan oposan sebagai partai Allah, sementara yang selain kelompoknya adalah partai Setan, semakin memperkeruh keadaan masyarakat yang sudah terbelah pasca Pilpres 2014. Alih-alih berperan sesuai umurnya yang sudah uzur dan menjadi negarawan yang baik, Amien memilih untuk menjadi politikus yang tak pernah selesai dengan ambisinya untuk berkuasa.

Upaya penyimpangan informasi dan doktrinasi yang tidak benar pada masyarakat, baik oleh Neno, Amien, maupun orang-orang yang berada dalam kubu mereka, bukanlah sebuah tindakan yang baik dan benar untuk ajang pemilihan Presiden di 2019 nanti. Sebagaimana telah kita alami di 2014, hoax dan fitnah, atau yang sering disebut sebagai black campaign, bukanlah alat kampanye yang beradab. Masyarakat seharusnya sudah harus memahami dengan baik, dan bukan hanya terjebak dalam lingkaran kebohongan yang disebarkan secara terus menerus dan akhirnya terpaksa diyakini sebagai kebenaran.

Baca Juga:  Negara Tidak Takut Bertindak Melawan Teror

Sebenarnya, kontestasi politik bisa dilakukan dengan adil dan jujur, bila setiap kandidat memang memiliki bukti kinerja untuk ditawarkan. Hal ini yang sesungguhnya harus mulai ditanamkan di benak seluruh rakyat Indonesia, baik yang merupakan pemilih atau orang-orang yang mencoba untuk masuk ke dalam sistem pemerintahan, eksekutif maupun legislatif. Apa yang disodorkan setiap kandidat legislatif, seperti anggota DPRD Dati II, DPRD Dati I, DPR/MRP Pusat, ataupun anggota DPD, juga para kandidat kepala daerah Dati II, Dati I, dan juga Presiden, harus dipilih berdasarkan rekam jejak yang nyata, dengan pencapaian-pencapaian kinerja yang mumpuni.

Jangan sampai Indonesia terus berulangkali mengulang kesalahan yang sama, terpaku pada wujud ketampanan dan ketegasan semu, padahal tanpa prestasi yang sesuai untuk memimpin negeri. Orang-orang yang tepat untuk duduk di kursi-kursi legislatif adalah tokoh-tokoh masyarakat dengan latar belakang intelektual yang mendukung untuk mengisi pos-pos komisi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Jangan sampai, mereka yang mengisi pos komisi hukum adalah orang-orang dengan latar belakang kesarjanaan Sastra, sebagaimana jangan sampai orang dengan latar belakang pendidikan hukum malah diletakkan dalam komisi pertanian.

Yang lebih parah sebenarnya adalah, jangan sampai orang yang tidak lulus pendidikan kesarjanaan malah nekat memalsukan segala dokumen yang diperlukan, hanya untuk duduk ongkang-ongkang kaki sembari sesekali terkantuk-kantuk. Itu namanya makan uang rakyat dengan cuma-cuma, alias makan gaji buta. Setiap orang yang terpilih menjadi wakil rakyat, di lini apapun, harus bekerja sekuat tenaga untuk mewujudkan aspirasi rakyat tanpa banyak alasan. Jangan sampai hanya setiap lima tahun sekali mengasong janji, lalu menitipkan selembar lima puluh ribuan dengan stiker berhiaskan wajah sang calon.

Lebih mudah untuk calon-calon yang akan menduduki kursi-kursi eksekutif, seperti calon Lurah, Camat, Bupati, Gubernur dan Presiden. Partai-partai politik seyogyanya sudah harus bekerja sesuai peruntukannya sebagai kendaraan politik yang mengantarkan HANYA orang-orang yang benar-benar kompeten untuk memimpin daerah maupun negara. Janganlah mentang-mentang Ketua Partai, maka ia merasa harus mengajukan diri meskipun melanggar berbagai standar kepemimpinan. Partai-partai politik harus memasang telinga 1×24 jam, 7 hari seminggu, 52 minggu, 365 hari setahun selama lima tahun setiap permulaan periode kepemimpinan, untuk menyisir setiap individu yang sudah bekerja bagi rakyat dan membuktikan hasil kerjanya bagi masyarakat.

Baca Juga:  Kebebasan Bukan untuk Penghinaan

Dengan demikian, proses seleksi pemimpin menjadi lebih terkordinasi dan menghemat biaya. Alih-alih harus menggelontorkan dana sekian milyar atau trilyun, setiap kandidat eksekutif maupun legislatif sudah menjadi pilihan rakyat tanpa harus berkampanye. Seleksi yang dilakukan bersama masyarakat sedari dini ini adalah bentuk permusyawaratan yang sebenarnya, dan gotong royong yang sejati. Hal yang seperti ini pernah dilakukan oleh bapak-bapak dan ibu-ibu pendiri bangsa kita untuk mengusung Soekarno dan Hatta menjadi Presiden dan Wakil Presiden pertama di Indonesia.

Perang di zaman sekarang adalah perang intelektual dan pembuktian prestasi diri, tak perlu angkat senjata lagi. Kita tidak mau dibodohi dan diadu domba lagi, apalagi sampai harus berperang dengan saudara sebangsa sendiri. Jangan lagi biarkan hoax dan kebohongan menyebar dari gadget ke gadget, mulut ke mulut. Ingat, perilaku adu domba yang memiliki agenda untuk memecah belah sudah dilakukan sejak zaman dahulu kala.

Ulangi kebohongan terus menerus, sehingga kebohongan itu menjadi kebenaran yang diyakini” ~Joseph Goebbels, propagandis Nazi.

Advertisement

Terkini

News1 menit ago

Dukung Ekosistem Kendaraan Listrik, PLN Bakal Tambah 2 SPKLU di Lampung

SERIKATNEWS.COM- Guna mendukung terbentuknya ekosistem kendaraan listrik, PT PLN (Persero) bakal menambah dua Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di...

News2 jam ago

Rusia, AS Dan Nato Semakin Memanas

SERIKATNEWS.COM, Jakarta -Hubungan antara Rusia dengan AS dan NATO semakin memanas, apalagi ditambah Rusia yang mengumumkan akan menggelar Latihan militer...

News13 jam ago

Langkah-Langkah PLN Jelang Implementasi Regulasi Nilai Ekonomi Karbon

SERIKATNEWS.COM- PT PLN (Persero) siap memberikan kontribusi dan telah memantapkan langkah-langkah strategis terkait rencana implementasi regulasi Nilai Ekonomi Karbon (NEK)...

News14 jam ago

HMI Badko Jatim Tegas Kawal Pembangunan Ekonomi Jatim Secara Masif

SERIKATNEWS.COM – Wajah baru HMI Jawa Timur telah hadir dengan agenda, terobosan baru dan berbagai tawaran ide untuk HMI Jawa...

Daerah16 jam ago

Seorang Warga Bunuh Diri di Sungai Tangsi Salaman, Diduga Karena Terlilit Hutang

SERIKATNEWS.COM – Seorang warga ditemukan di Sungai Tangsi, Salaman dalam keadaan meninggal dunia. Diduga korban bunuh diri karena stres terhimpit...

News16 jam ago

Sitaan Satgas BLBI Tembus Rp15 Triliun

SERIKATNEWS.COM – Menkopolhukam Mahfud MD menyampaikan update informasi tentang perkembangan pelaksanaan tugas Satgas BLBI selama 7 bulan bekerja. “Sekarang ini...

News18 jam ago

Selenggarakan Wisuda, Unusia Bertekad Jadi Pusat Pengembangan SDM Indonesia

SERIKATNEWS.COM – Jakarta – Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) menyelenggarakan wisuda ke-VIII yang diikuti oleh 313 wisudawan. Dengan menerapkan protokol...

Populer

%d blogger menyukai ini: