SERIKATNEWS.COM- Segenap kader dan alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di hampiri kabar dukacita, khususnya di Jawa Timur. Nico Ainul Yaqin, seorang tokoh aktivis senior yang cukup masyhur namanya itu kini meninggal dunia.
“Innalillahi wa innailaihi Rojiun, selamat jalan kakak Ainul Yaqin, semoga husnul khatimah, Allahumma Jannah,” begitu bunyi kalimat pesan berantai di berbagai grup kader dan alumni PMII, (16/2/2022).
Hingga diterbitkannya berita ini, belum diketahui pasti penyebab berpulangnya Demisioner Ketua Umum Koordinator Cabang (Korcab) PMII Jatim keharibaan Yang Maha Kuasa itu.
Proses Perjalanan hidup Cak Nico
Perjalanan sosok Nico Ainul Yaqin dalam menggeluti dunia gerakan sudah barang tentu banyak yang tahu. Puluhan tahun ia berproses mulai dari lingkungan aktivis gerakan hingga lingkup partai perpolitikan. Dirinya banyak di kenal baik di tingkat daerah seperti Jawa Timur, hingga tataran nasional.
Karir aktivis dan organisasinya bermula saat ia masih mahasiswa di IAIN Sunan Ampel Surabaya (sekarang UINSA). Organisasi mahasiswa yang pertama kali diikuti adalah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Sunan Ampel, Cabang Surabaya. Pria yang akrab disapa Cak Nico itu pun tak hanya aktif di sana, ia juga terlibat dalam organisasi intra kampus dan pernah didaulat sebagai Ketua Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Karena kecintaannya pada dunia aktivis mahasiswa, Alumni PMII kelahiran Jember ini getol melontarkan kritik-kritik terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap tidak memiliki keberpihakan pada masyarakat tertindas (kaum mustadh’afin).
Karena spirit perjuangannya, ia sering kali menjadi pimpinan forum-forum mahasiswa atau aksi jalanan, hingga membawa Ainul Yaqin masuk dalam struktur Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (Korcab PMII, saat ini PKC) Jawa Timur sebagai Ketua Umum periode 1994-1996.
Aktivis yang Penulis
Tak hanya lantang di jalanan, Nico Ainul Yaqin pun juga cakap dalam dunia literasi. Terbukti, ia banyak menulis dan menerbitkan buku. salah satu bukunya yang juga fenomenal dan layak untuk dibaca kaum muda adalah Pejuang Ulama, Ulama Pejuang.
Cak Nico pun juga menulis buku Biografi KH Sja’rani Tjokrosoedarso (2003), Meretas Kebuntuan Politik, Perjalanan Politik Dja’far Shodiq, Politisi NU Jawa Timur (2009), Serta buku Mutiara Hikmah KH Abdul Malik Baidhowi, Pendiri Ponpes Al-Ihsan, Jrengoan, Sampang (2010); SBY dan NU, Konstruksi Pemikiran dan Aksi (2010).
Lebih dari itu, Alumni Ponpes Ashiddiqi Putra (Ashtra) yang diasuh oleh KH Ahmad Siddiq (Rois Aam PBNU 1984-1989) ini juga pernah menjadi editor dan penulis buku Peta Pemikiran Sosiologi (2000), Birokrasi dan Pembentukan Masyarakat Sipil (2001), Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa (2008); Golput dan Partisipasi Politik Masyarakat (2011), Syaikhona Kholil Penentu Berdirinya Nahdlatul Ulama (2012).
Tak hanya di organisasi kemahasiswaan saja nama Cak Nico ini banyak beredar, ia juga aktif di beberapa organisasi baik Partai Politik maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), diantaranya menjadi Wakil Ketua Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKK-NU) Jatim (1992-2002), Wakil Ketua DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jatim (2006-2009), Wakil Ketua IKA-PMII Jatim (2010-2015), Ketua DPD NasDem Sidoarjo, dan Wakil Ketua DPW NasDem Jatim.
Menyukai ini:
Suka Memuat...