Reinterpretasi Aswaja Sebagai Metodologi Berpikir

40
Aswaja
Ilustrasi: nu.or.id

Warga pergerakan, khususnya dalam NU mengenal Aswaja sebagai manhaj, atau metodologi. Di mana untuk mencapai kehidupan yang purna maka membutuhkan peta konsep dan metodologi berpikir pun bergerak. Dalam hal ini secara umum terbagi menjadi empat, yaitu: tasammuh (toleransi), tawazzun (menjaga keseimbangan), ta’adul (bersikap jujur, menempatkan diri), tawassut (bersikap moderat). Dan jika boleh saya ingin menambah dengan presisi atau Tahkim au Dhabid dan Taawuniah (kerja sama).

Tasammuh atau toleransi, manusia memiliki beragam ide dan salah satunya menjadi prinsip. Hal ini menjadi satu sumbangan penting dalam membentuk idealisme. Namun ada kesadaran bahwa manusia memiliki beragam sikap kemanusiaan yakni simpati, empati dan lain sebagainya. sehingga akan menjadi sebuah keniscayaan ketika manusia memiliki sikap toleran terhadap manusia yang lain.

Berlakunya sudut pandang menjadi alasan di mana manusia “harus” toleran, menghormati perbedaan baik sikap maupun pemikiran orang lain. Nabi Muhammad menjelaskan bahwa ummati kal mathar, la yadru awwaluhu al khair am akhiruhu, bahwa umatku (manusia) seperti hujan, yang tidak diketahui, rintik pertama atau terakhir yang paling baik. Pendek kata ada satu kondisi untuk saling toleran dan menjaga satu sama lain, karena secara nash manusia tercipta dengan pola yang sangat berbeda-beda.

Tawazzun atau menjaga keseimbangan, hidup adalah pertemuan dari beragam kondisi, baik secara personal maupun komunal. Contoh sederhana, manusia memiliki sedih dan bahagia, pun sakit dan sembuh. Begitu juga kehidupan sosial, ada ricuh dan ada kedamaian. Walaupun masing-masing kondisi memiliki relativitas masing-masing. Sehingga ada banyak hal yang perlu diseimbangkan. Pendek kata tidak ada sesuatu hal yang dilakukan dengan keterlaluan atau menonjolkan satu hal di atas hal-hal yang lain. Atau terlalu suka membenarkan diri sendiri ketimbang pemahaman orang lain.

Baca Juga:  Si Mutiara Hitam Bumi Cendrawasih

Ta’addul bersikap jujur atau mampu menempatkan diri. Kesadaran manusia yang perlu dibangun adalah kepekaan. Tidak sedikit yang memiliki kesadaran atau kepekaan. Bahkan setiap manusia memiliki sisi tersebut. Namun akan menjadi berbeda ketika stimulus atau daya pancingannya berbeda. Maka gerak stimulus responsnya pun berbeda. Agaknya kesadaran menempatkan diri ini digambarkan oleh satu kecerdasan yang dikaruniakan kepada manusia oleh Tuhan, sehingga ia mampu menempatkan diri pada tempatnya dan menjadi jalan untuk lebih dekat dengan Tuhan. hal ini terangkum dalam al-Maidah ayat 8.

Tawasshut atau bersikap moderat. Meminjam istilah para mufasir yang menyatakan bahwa wasatlan dalam surah al-Baqarah: 143 berarti memiliki sikap dan persepsi yang tidak memihak ketika memutuskan sesuatu, secara ilmiah dikenal dengan objektif. Tidak menjadi hakim tetapi memiliki beragam sudut pandang dalam menyikapi suatu hal sehingga ada kehati-hatian dalam menilai atau menjustifikasi. Sehingga pola pikir yang dibangun adalah objektivitas dalam berpikir dan bersikap. Wa kazdalika ja’alnakum ummataan wasathan litakunu syuhada’a ‘alannasi wa yakuna arrasula ‘alaikum syahida. Bahwa di samping sebagai umat yang memiliki pola pikir objektif, beragam pandangannya, sehingga sangat hati-hati dalam menilai dan memutuskan.

Tahkim am Dhabit dan ta’awuniah, presisi dan kerja sama atau kesalingan adalah tawaran saya atas Aswaja sebagai metodologi berpikir warga NU, khususnya warga pergerakan. Permasalahan yang muncul adalah keberpihakan kita terhadap golongan yang satu, sehingga tidak lepas dari sikap shalih atau sampainya hati nurani yang tersambung dengan cahaya Tuhan dalam menyikapi sesuatu. Sehingga untuk mencapai sikap adil (jujur) perlu adanya ruang mawas diri yang dinamakan presisi pola sikap dan pola pikir. Karena orientasi yang dituju adalah qisth atau pas. Dan untuk memahami manusia maka butuh takaran yang pas bagi setiap manusia, karena manusia memiliki keberagaman pemahaman dan prinsip soial, pun keagamaan.

Baca Juga:  Nama Lengkapnya Bukan Pep Guardiola Subianto

Hal tersebut membutuhkan kerja sama. Kerja sama yang dimaksud adalah kesalingan atau keterkaitan dalam membangun kehidupan yang rukun, agar orientasi sosial baldatun tayyibun warabbun ghafur tercapai, atau tata tentrem karta raharjo. Garis besarnya adalah peningkatan rasa peka terhadap evaluasi diri, menerapkan cinta tanpa syarat kepada sesama dengan saling menghormati dan menghargai satu sama lain, pun turut serta menumbuhkan kesadaran bahwa manusia memiliki tanggung jawab menjaga stabilitas kehidupan sosial masyarakat.