Agama dan Akal Manusia Indonesia

450
Serikat
Ilustrasi: Net

Sebuah tindakan dilahirkan dari sebuah pemahaman. Pemahaman yang baik akan membawa kepada tindakan yang baik pula, begitu pula pemahaman yang kurang baik, tepatnya pemahaman yang tidak sempurna akan menggiring kepada sebuah tindakan yang lebih reflektif. Maksud reflektif di sini adalah tindakan spontan karena terkejut. Seorang yang terkejut relatif melepas pegangan yang telah ada sebelumnya. Tindakan yang demikian dilakukan dalam keadaan tidak sadar, jika dipaksa dikatakan sadar maka lebih tepatnya disebut kesadaran palsu. Sebuah tindakan yang dilakukan karena terkejut akan sangat sulit dikontrol, bahkan lebih dekat kepada merusak, membahayakan.

Begitu pula pemahaman agama yang belum sempurna akan melahirkan tindakan yang sangat susah dikendalikan, bahkan oleh agama sendiri. Sikap-sikap kekagetan semacam ini masih sering ditemukan dalam masyarakat yang semakin modern, tapi cara berpikirnya tetap primitif. Kekagetan karena pemahaman agama yang belum sempurna, seorang tak sadar telah melepas pegangan yang sebelumnya telah ada, yaitu akal. Pemahaman yang disusul kekagetan dapat melelapkan keberadaan dan peran akal, lambat laun keberadaan dan kebenaran yang dicapai oleh akal akan terpental dengan sendirinya, sebab telah memakan doktrin agama secara mentah-mentah.

Di Indonesia, meskipun tidak seluruhnya, masyarakat beragama masih sangat sulit membedakan secara tegas di mana wilayah intelektual dan wilayah keagamaan. Indonesia (dan agama) membutuhkan peradaban yang terus maju. Sedangkan peradaban tidak hanya terdiri dari kemajuan ekonomi, tapi juga intelektual. Sedangkan unsur utama sebuah intelektual adalah akal.

Agama Tidak Menafikan Akal

Pembahasan mengenai akal dan agama begitu pelik, namun tulisan ini hanya ingin memberi gambaran mengenai hubungan akal, agama, dan (peradaban) manusia. Dengan gambaran ini diharapkan mampu memberi sedikit pemahaman bahwa kebenaran agama dengan kebenaran yang dicapai melalui akal tidak layak diperlawankan, sebab keduanya memang saling melengkapi untuk kemajuan peradaban manusia.

Baca Juga:  SUMPAH PEMUDA DAN INDONESIA RAYA TIGA STANZA

Telah mainstream diketahui bahwa selain agama, manusia juga dianugerahi akal sebagai bekal hidup di dunia. Agama diciptakan untuk kepentingan manusia, bukan penciptaan manusia untuk kepentingan agama. Fungsi agama dalam kehidupan manusia sangat besar, karena agama merupakan unsur mutlak untuk membangun kehidupan yang damai dan sejahtera, membebaskan dari segala perbudakan, dan menjawab permasalahan-permasalahan yang tak mampu dijawab akal. Hidup damai, sejahtera, dan leluasa merupakan sebuah peradaban dalam kehidupan manusia. Oleh sebab itu, manusia tidak bisa begitu saja hidup tanpa peradaban (yang terus berkembang).

Pemahaman agama yang sempurna akan mendorong manusia untuk menggunakan akal secara maksimal. Dalam ajaran agama, dikir dan pikir merupakan anjuran yang sama, maka akan menjadi aneh jika manusia mengekang diri dari salah satunya. Pada dasarnya agama memberikan apresiasi yang tinggi bagi penggunaan akal, dengan demikian rasionalitas menjadi ukuran dan pembeda manusia dengan makhluk lain (Madjid, 1997: 162). Juga atas dasar itu Tuhan menjadikan manusia sebagai pengurus bumi.

Agama (Islam) memberi tempat yang sangat besar kepada akal untuk menjalankan perannya, sehingga akal yang sehat dan berfungsi dengan baik merupakan salah satu syarat bagi syahnya suatu ibadah. Agama memuliakan akal sehat karena kemampuan berpikir dan memahami sesuatu dengan baik, bahkan tidak hanya pada tataran duniawi, tapi juga dalam hal-hal ukhrawi (keagamaan dan akhirat). Dalam agama, untuk mencapai keimanan yang lebih tinggi manusia diperintahkan agar banyak menggunakan akal tentang kekuasaan Tuhan. Bahkan kebanyakan para teolog berpendapat bahwa iman seorang dikatakan sah ketika telah melakukan perenungan. Agama mencela mendasarkan iman dengan hanya percaya tanpa mengetahui (dalil) dengan menggunakan akal.

Beragama Secara Historis dan Normatif

Baca Juga:  Perlukah Keren dalam Beragama? Geliat Agama sebagai ‘Ruang Endorse’

Untuk selanjutnya, pemahaman mengenai hubungan agama dan akal akan menciptakan cara manusia beragama. Pada tahap ini manusia dituntut untuk tegas-proporsional dalam menempatkan agama sebagai sebuah keyakinan yang sakral dan sangat pribadi, dan agama sebagai sebuah unsur peradaban yang harus terus dikembangkan.

Keduanya memiliki hubungan yang dialektis. Sesuatu akan berdialektika ketika menemukan perbedaannya dengan jelas, namun keduanya tidak gampang dipisahkan. Begitu pula kesakralan dan keilmiahan agama, berbeda namun tidak bisa dipisahkan, sebab penciptaan agama memang untuk keduanya. Kesakralan agama mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sedangkan keilmiahan agama mengatur hubungan manusia dengan dunia (peradabannya).

Keduanya menyatu dalam satu kesatuan yang berkembang, namun tidak berhenti hanya dalam satu sisi (Abdullah, 2005: 19). Jika tidak demikian akan terjadi proses dominasi yang satu atas yang lain, sehingga menafikan aspek normativitas yang dihayati oleh pemeluknya, atau sebaliknya, akan menepikan aspek historisitas kemanusiaan.

Demi peradaban yang harus terus berkembang, maka manusia tidak hanya dituntut sekedar membedakan secara tegas-proporsional, tapi juga mengembangkan. Mengembangkan normativitas agama akan menciptakan bangsa yang toleran, sebab normativitas agama mengatur hubungan manusia dengan Tuhan secara pribadi, dan tidak perlu mengurus hubungan orang lain dengan Tuhannya. Sedangkan mengembangkan keilmiahan agama akan melanjutkan kemajuan peradaban manusia, lantaran penciptaan agama juga sebagai etika peradaban. Dengan demikian, beragama yang baik adalah memiliki hubungan baik dengan Tuhan dan juga hubungan romantis dengan sesama manusia dalam peradaban yang tinggi.