SERIKATNEWS.COM – Sebagai wujud kepedulian dan rasa simpatik terhadap problematika saudara sebangsa di Papua, Majelis Milleneal menyelenggarakan Notulensi Mouthly Talks dengan tema Menebar Damai di Papua Merajut Persatuan Indonesia.
Acara yang diselenggarakan pada Jumat (25/10/2019) di Upnormal Raden Saleh, Jakarta Pusat ini mendatangkan pemateri seperti M. Muslih, MH (Sejarawan Muda), Semmy Jenggu (Tokoh Pemuda Papua) dan Rizavan Shufi Thoriqi (Aktivis Sosial).
Dalam pemaparannya, M. Muslih, MH (Sejarawan Muda) menjelaskan bahwa berbicara isu-isu perpecahan dan ketidakrukunan sebenarnya sudah ada sejak dahulu di mana ada pihak-pihak tertentu yang memiliki kepentingan.
“Isu perpecahan dan ketidakrukunan sebenarnya sudah ada sejak dahulu di mana ada pihak-pihak tertentu yang memiliki kepentingan terutama masalah ekonomi dan justifikasi,” ujar Muslih.
Dia juga menjelaskan sebenarnya Papua adalah daerah yang damai, tidak ada perseteruan tapi ada kelompok tertentu yang menciptakan dis-harmonis untuk mencari keuntungan.

“Seperti Papua yang pada dasarnya Papua adalah sebuah daerah yang tidak sedang mengalami perseteruan, tetapi keadaan tersebut dimanfaatkan oleh kelompok tertentu dengan memainkan media sosial oleh kelompok-kelompok tertentu yang ingin mencari keuntungan,” imbuh Muslih.
Menurut Muslih, bukan masyarakat Papua itu sendiri yang menyebabkan konflik sosial terjadi, tetapi ada kelompok tertentu yang ingin mengusasi Papua, untuk itu pemerintah dan warga negara harus hadir dalam merajut persatuan NKRI.
“Dan menurut saya, bukan masyarakat Papua itu sendiri yang menyebabkan masalah itu terjadi, tetapi ada kelompok tertentu yang ingin mengusasi Papua. Oleh karena itu, pemerintah dan warga negara harus hadir dalam merajut persatuan NKRI karena Papua adalah provinsi yang elok, damai dan selamanya bagian dari Indonesia,” tegas Muslih.
Pemateri kedua, Semmy Jenggu (Tokoh Pemuda Papua) menjelaskan berbicara persatuan yang terjadi di Papua, realnya Papua dari dulu sampai hari ini merupakan daerah yang penuh dengan kedamaian. Hanya saja pasti ada kelompok-kelompok yang mempunyai kepentingan khusus terhadap Papua.
“Dari dulu sebenarnya Papua adalah daerah yang damai, tidak ada sentiment sara antara pendatang dan pribumi, hanya saja pasti ada kelompok-kelompok yang mempunyai kepentingan yang menciptakan sentimen itu,” ujar Semmy.
“Berbicara perdamaian, orang Papua sangat damai dan menjunjung tinggi persatuan namun banyak yang menyebutkan bahwa masyarakat Papua memiliki organisasi OPM yang inginmemisahkan diri dai Indonesia dimana sebenarnya OPM bukanlah sebuah organisasi dari Papua asli karena pemimpinnya adalah wanita dari Ternate, Ambon, Sumatera dan dari daerah lainnya,” imbuh Semmy Jenggu.
Menurutnya, orang Papua itu sederhana, tidak neko-neko, menjunjung tinggi kekeluargaan dan persaudaraan, namun ada oknum-oknum yang membuat perselisihan.
“Padahal orang Papua tidak banyak neko-neko, mereka selalu sederhana. Namun banyak oknum yang mempunyai kepentingan khusus yang akhirnya memicu perselisihan,” ujar Semmy Jenggu.
Dia juga menegaskan bahwa di Papua itu sangat menjunjung tinggi perdamaian tanpa membeda-bedakan golongan, suku, ras, agama dan budaya.
Pemateri ketiga, Rizavan Shufi (Aktivis Sosial) menjelaskan kalau hidup di Indonesia tidak semudah hidup di negara lain, Indonesia mempunyai keberagaman budaya, warna kulit, agama, dan bahasa.
“Hidup di Indonesia itu tidak seperti hidup di negara lain, itu karena Indonesia mempunyai keberagaman budaya, warna kulit, agama, dan bahasa,” ujar pria yang akrab disapa Riky.
Namun menurut dia, untungnya negara kita disatukan oleh semboyan Bhineka Tunggal Ika yang mengikat kita semua. “Tapi syukur alhamdulilah kita diikat dan disatukan dengan Bhineka Tunggal Ika” imbuh Riky.
Namun menurutnya, kalau semboyan tidak dipraktikkan secara sungguh-sungguh maka akan percuma, oleh karena itu kita sebagai kaum millineal mempraktikkan semboyan tersebut di lapangan.
“Tetapi jika semboyan tersebut tidak dipraktikkan secara sungguh-sungguh maka akan percuma. Oleh karena itu kita sebagai kaum millineal mempraktikkan semboyan tersebut di lapangan. Kita harus mampu bergaul dengan teman yang tidak hanya dari rasa tahu suku yang sama sehinga kedamaian akan tercipta dengan saling memahami dan mengerti,” imbuh Riky.
SerikatNews.com adalah media kritis anak bangsa. Menyajikan informasi secara akurat. Serta setia menjadi platform ruang bertukar gagasan faktual.
Menyukai ini:
Suka Memuat...