Santri Kiri, Paradigma Keislaman dan Keindonesiaan

49
Santri

Terminologi santri sejak kemunculannya di Jawa abad 15 yang dibawa oleh Syaikh Maulana Malik Ibrahim dengan awal pendirian pesantren sebagai wadah pendidikan agama dan pusat penyebaran Islam. Santri menjadi subyek dari pada pendidikan Islam sampai dalam proses kesejarahannya mengantarkan menjadi satu istilah tersendiri sebagai penuntut ilmu agama dengan tujuan memahami ajaran agama (tafaqquh fi al din). Santri tak lain adalah generasi sejarah dari dedikasi kaum ulama di tanah Jawa sebagai lokomotif penyebaran Islam.

Tradisi dan kebudayaan pesantren telah tercipta menjadi rentangan khazanah keislaman di Indonesia, suatu mata rantai sejarah yang tak berhenti. Hal ini berakar pada kebiasaan pribumi yang masih bertahan dalam kebudayaan agraris yang sinkretis-dogmatis.

Jejak sejarah di atas menjadi pijakan kita untuk memahami bahwa telah ada penyatuan kebudayaan antara santri yang tradisional dengan masyarakat lokal yang bertahan dalam tradisi leluhur, seperti gotong royong, kesederhanaan, kesahajaan, sopan santun, nerimo nasib, teposeliro, toleran, dan sangat terbuka. Tradisi leluhur ini merupakan kebudayaan tradisional yang dipunyai masyarakat kita umumnya, dan pesantren diciptakan untuk menyatu dengan kebudayaan tersebut sebagai tujuan dari penyebaran Islam yang akomodatif dan moderat.

Paradigma ini menjadi kunci untuk mengantarkan ke kita suatu pandangan yang tetap dan terus dinamis sebagai rentang sejarah yang terbebas dari lingkup waktu dan ruang (sein und zeit) yang sempit.

Terkait dengan keajegan tradisi dan kebudayaan yang berakar di tradisi lokal inilah kita coba tarik untuk membuka diri. Santri semestinya bukan lagi sekedar penuntut ilmu yang berakar pada khazanah keislaman klasik semata namun santri terus beranjak dinamis untuk bisa memahami dan mengkaji pemikiran-pemikiran ideologis dari tradisi besar ideologi Barat yang terserak di pandangan hidup manusia dunia. Artinya, santri sudah harus menjadi pembaca peradaban Barat (oksidentalis) dan siap memahami kebudayaan Barat dengan tetap berakar di tradisi yang kuat.

Baca Juga:  Bela Negara Ala Bung Karno

Islam yang seterusnya menjadi roh dalam lajunya proses memahami kebudayaan dan peradaban Barat dengan akar penguasaan tradisi intelektual klasik, santri bisa diandalkan menjadi agen perubahan untuk Indonesia yang lebih berkeadilan dan beradab. Ketertarikan untuk menyeret ke arah pemahaman pemikiran dan peradaban Barat melalui santri yang lingkup kajiannya adalah pemahaman akan agama semata, itu karena dalam diri santri mempunyai potensi yang kuat secara emosional spiritual untuk bisa bertahan oleh serangan kuat peradaban westernisasi yang paradoks dan mengglobal.

Santri terlebih dahulu menjadi yang memahami ke-kiri-an daripada sebuah ideologi Barat, sebab ideologi semacam Materialisme-dialektika, Eksistensialisme, Sosialisme menjadi pijakan untuk memahami pemikiran dan kebudayaan Barat secara keseluruhan. Meski kita tahu bahwa ideologi tersebut sebagai ideologi kiri yang kini tengah terkubur di peradaban dunia, namun dari pemahaman ideologi kiri inilah santri akan banyak membedah pemikiran Barat lainnya.

Kita tahu bahwa dasar kemunculan ideologi ini bermula dari filsafatnya Hegel (Georg Willem Frederich Hegel) yang menjadi samudera mengaliri kanal-kanal pemikiran ideologis seperti ideologi tersebut di atas, kita tahu dari Hegel inilah tumbuh kembangnya ideologi kiri yang mencengkeram dunia selama satu abad. Sebuah konstruksi ideologi yang efeknya mengglobal baik destruktif hingga sampai konstruktif.

Dalam paparan ini santri tidak harus menjadi “kiri” dalam pengertian sebagai userof ideology (pengguna) tapi sebagai user of instrument agar bisa menerjemahkan pemikiran kiri dengan pelaksanaan, sehingga kiri tak lagi sebagai konstruksi ideologi yang ditarik oleh kepentingan will to power, tapi kiri menjadi pedoman perjuangan bagi orang-orang tertindas, terhina, terbelakang, kaum miskin, para penuntut keadilan untuk mereka berani tegak berbuat untuk menegakkan hak-haknya.

Santri kapasitasnya sebagai pengkaji Islam tentu dengan sikapnya yang membebas harus terus mengelaborasi dengan sajian-sajian “kiri” agar mereka yang tertawan dalam lingkaran penindasan dan perbudakan bisa terbebaskan dan tercerahkan. Bersamaan ini pula santri “kiri” yang tugas utamanya penyampaian dakwah Islam tetap dalam prinsipnya la ikroha fi al diin. Prinsip ini akan menjadi cahaya penerang dengan tetap menaburkan pesan Islam rohmatan lil alamin.

Santri “kiri” sekali lagi dengan menciptakan gagasan perjuangan perlawanan dengan bersandar pada ideologi kiri untuk tujuan pembebasan dari belenggu-belenggu kapital yang berbaju neolibralisme. Hadirnya santri yang terus menggerakkan “kiri” dalam spirit Islam tetap dalam cerminan Nabi Muhammad SAW yang merupakan teladan kaum miskin dan komunitas tertindas dalam menghadap konglomerasi elite Quraisy dalam perjuangan mereka menegakkan masyarakat yang bebas, penuh persaudaraan, dan egaliter (Shimogaki: 2013).

Baca Juga:  Komunisme dan Politik Simbol

Tugas santri dalam menyajikan “kiri” yang Islami menurut Hasan Hanafi (pendiri kiri Islam) terangkum dalam tiga agenda besar, pertama adalah sikap kita terhadap tradisi lama yang membahas berbagai persoalan rekonstruksi teologis dalam tradisi klasik sebagai alat untuk transformasi sosial. Kedua adalah sikap kita terhadap tradisi barat yang berusaha untuk melakukan kajian kritis terhadap peradaban barat, utamanya pemunculan kesadaran Eropa melalui studi oksidentalisme. Ketiga yaitu sikap kita terhadap realitas melalui pengembangan teori dan paradigma interpretasi.

Agenda tersebut di atas secara geopolitik ada dalam wilayah pemikiran dunia Islam, tapi berlaku pula bagi tugas santri “kiri” yang notabene berada dalam wilayah yang sama, Indonesia salah satu dunia Islam tersebut. Sepatutnya secara sistematis-teoretis misi utama kiri Islam membedah dari dalam ajaran sebagai keberanian merekonstruksi khazanah klasik yang kaya¬† dan seterusnya membaca, memahami, menganalisis peradaban Barat sebagai bagian dari the other dengan bersamaan perjuangan secara sosial yang revolusioner menggerakkan secara dialektis mana dalam posisi ego dan mana pula yang the other.

Santri “kiri” harus berupaya untuk mewujudkan fragmen perjuangan sosial kemasyarakatan yang berkelas agar belenggu penderitaan, belenggu kemiskinan, kesengsaraan dan ketidakadilan secara sosial dan ekonomi bisa tercerabut. Pada sisi lain, santri dengan baju tradisionalisme tetap konsisten sebagai pengkaji khazanah klasik Islam dan merawatnya sebagai kekayaan yang tak terhingga.