Connect with us

Opini

Kelompok Teroris dan Intoleran Semakin Eksis di Masa Pandemi COVID-19

Published

on

Ilustrasi kelompok intoleransi © Net

Pandemi COVID-19 yang menjadi bencana nasional non alam di Indonesia tidak membuat semua warga negara bersatu padu melawan. Situasi ini justru dimanfaatkan oleh kelompok teroris dan intoleran untuk meningkatkan eksistensi dan mengganggu masyarakat. Dengan berdalih atas nama agama, kelompok ini melakukan teror dan kekerasan terhadap orang atau pihak yang dianggap sebagai musuhnya.

Selama pandemi ini kelompok teroris telah beberapa kali melakukan aksi teror secara langsung terutama terhadap anggota Polri. Pada 1 Juni 2020 aksi teror terjadi di Mapolsek Daha Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Pelaku Abdul Rahman masih berusia 19 tahun, dan berakibat satu orang anggota polisi, Brigadir Leonardo Latupapua gugur. Dari atribut yang digunakan pelaku diduga merupakan simpatisan dari ISIS.

Pada 21 Juni 2020, Wakapolres Karanganyar Kompol Busroni yang sedang melakukan kegiatan di kawasan Gunung Lawu diserang oleh Karyono Widodo, warga Kabupaten Madius Jawa Timur. Karyono Widodo sebelumnya pernah menjalani hukuman penjara di Lapas Way Kanan Lampung karena kasus terorisme bom Thamrin.

Beberapa peristiswa lain yang berhubungan dengan meningkatnya kelompok teroris adalah penembakan terhadap anggota kelompok teroris JAD di Batang Jawa Tengah (Maret 2020), penembakan terhadap dua anggota Mujahidin Indonesia Timur Poso yang merebut senjata polisi (April 2020). Kelompok MIT pimpinan Ali Kalora ini bahkan secara terang-terangan melalui vido pernyataan yang diviralkan menyebutkan bahwa pemerintah Indonesia akan kalah oleh corona. Hal ini menjadi bukti bahwa kelompok teroris melihat peluang untuk beraksi pada saat pandemi COVID-19.

Peristiwa yang terbaru adalah adanya aksi kekerasan terhadap keluarga almarhum Habib Asegaf Al-Jufri di Surakarta, 8 Agustus 2020. Kelompok Laskar Solo melakukan kekerasan terhadap tiga orang anggota keluarga tersebut disertai dengan teriakan kalimat: Syiah bukan Islam, Syiah musuh Islam, dan darah Syiah halal dibunuh. Serangan terhadap keluarga yang sedang mengadakan acara adat midodareni (doa malam sebelum akad nikah) tersebut mengakibatkan 3 orang luka-luka dan kerugian meterial akibat perusakan. Kelompok pelaku diketahui juga pernah melakukan aksi kerusuhan di Rutan Klas I Surakarta (10/2/2020).

Baca Juga:  Waspadai Strategi Politik "Belah Bambu"

Kelompok teroris dan intoleran melihat adanya kerawanan di Indonesia pada saat pandemi COVID-19. Selain karena fokus pemerintah termasuk aparat penegak hukum dalam menangani COVID-19, kelompok tersebut juga melihat adanya peluang untuk propaganda untuk melawan pemerintah. Aksi-aksi teror dan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok tersebut, selain karena adanya kebutuhan ideologis, juga untuk menunjukkan eksistensi yang menarik perhatian pihak lain.

Aksi teror dan kekerasan oleh kelompok yang mengatasnamakan agama ini cukup mengkhawatirkan. Selain mengancam jiwa manusia, aksi teror dan kekerasan juga melanggar Hak Asasi Manusia seperti aksi yang terjadi di Surakarta. Kemungkinan lain adalah kelompok tersebut dimanfaatkan untuk kepentingan politik. Aksi-aksi teror, kekerasan, bisa memicu ketidakpercayaan masyarakat pada negara yang berujung pada delegitimasi pemerintah. Tentu saja ada kelompok yang diuntungkan jika delegitimasi terhadap pemerintah menguat, terutama kelompok yang mempunyai kepentingan pada Pilkada 2020 dan Pilpres 2024.

Untuk mencegah aksi dari kelompok teroris dan intoleran semakin membesar maka negara harus tegas melakukan tindakan terhadap pelaku. Aksi teror dan kekerasan yang dampaknya hingga korban jiwa harus dihukum dengan berat. Pembenaran karena atas nama agama tidak bisa menjadi alasan untuk pembiaran. Tindakan yang cepat dan tegas terhadap pelaku dan hukuman yang berat akan menjadi efek jera sekaligus membuktikan bahwa negara hadir untuk melindungi segenap warga negaranya.

Hal lain yang perlu dilakukan adalah dukungan dari masyarakat, termasuk dukungan dari organisasi dan tokoh agama kepada Polri untuk bersikap tegas terhadap pelaku teror dan kekerasan. Jangan sampai Polri justru disudutkan karena melakukan tindakan tegas terhadap kelompok pelaku teror dan kekerasan yang selalu mengatasnamakan agama dalam tindakannya.

Advertisement
Advertisement

Terkini

Ekonomi2 jam ago

Dukung Pertamina, PP KAMMI Dorong Indonesia Gunakan BBM Ramah Lingkungan

SERIKATNEWS– Pengurus Pusat (PP) Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) melalui Pjs Ketua Umum Periode 2019-2021 Susanto Triyogo menyambut baik...

Sosial20 jam ago

Tiga Ciri Desa yang Berpotensi Maju

SERIKATNEWS.COM – Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Wamendes PDTT), Budi Arie Setiadi memaparkan tiga ciri desa yang...

Info Kesehatan20 jam ago

Acuan Pemeriksaan Kesehatan Adalah Tes Swab, Bukan Pernyataan Sembuh Usai Isolasi Saja

SERIKATNEWS.COM – Pengumuman dari Anggota KPU RI, Evi Novida Ginting, menyebut masih ada 13 jumlah calon kepala daerah di Pilkada 2020 yang...

Sosial20 jam ago

Kasus Covid-19 di Yogyakarta Bertambah 67 Orang

SERIKATNEWS.COM – Kasus pasien Covid-19 di Yogyakarta bertambah 67 orang, sehingga total pasien keseluruhan menjadi 2.312 orang. “Hasil pemeriksaan laboratorium...

Politik1 hari ago

Aliansi Pemuda Peduli Demokrasi Membawa 4 Tuntutan di Kantor KPU Sumbar

SERIKATNEWS.COM – Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatra Barat (Sumbar) didatangi oleh puluhan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi pemuda peduli...

Sosial1 hari ago

Petugas Melakukan 834.771 Kali Penindakan dalam Operasi Yustisi

SERIKATNEWS.COM – Data dari Operasi Yustisi telah menunjukkan bahwa masyarAkat masih banyak yang lalai dalam mencegah terjadinya persebaran Covid-19. “Selama...

Hukum2 hari ago

PP PMKRI Ajukan Judicial Review Tentang Mineral dan Batubara ke Mahkamah Konstitusi RI

SERIKATNEWS.COM – Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) Periode 2020-2022 resmi mendaftarkan gugatan Judicial Review UU Nomor...

Populer