Connect with us

Opini

Sejarah Permulaan Proletar dan Borjuis 

Published

on

Ilustrasi militanindonesia.org

Kisah Habil dan Qabil merupakan sumber filsafat sejarah. Sebagaimana Adam adalah sumber filsafat tentang manusia. Pertarungan antara Habil dan Qabil adalah pertarungan dua kubu yang saling berlawanan yang berlangsung sepanjang sejarah, dalam bentuk dialektika sejarah. Kedua putra Adam adalah manusia biasa dan wajar, tetapi meraka saling bermusuhan.

Manusia sendiri terdiri atas proses dialektis. Kontradiksi bermula dengan pembunuhan Habil dan Qabil. Dimana Habil mewakili zaman ekonomi penggembalaan(proletar), suatu sosialisme primitive sebelum ada system hak milik, sedangkan Qabil mewakili system pertanian(borjuis).

Sehingga seluruh sejarah merupakan arena pertarungan kelompok Qabil si pembunuh dan kelompok Habil yang menjadi korban. Dengan kata lain, antara penguasa dan yang dikuasai. Seorang pengembala yang dibunuh oleh tuan tanahnya.

Baca Juga: Belajar Bernegara dari Mustafa Kemal Ataturk

Berakhir sudah periode system milik bersama atas sumber-sumber produksi-zaman penggembalaan, perburuan dan perikanan-semangat persaudaraan dan kejujuran, digantikan oleh zaman pertanian system milik pribadi, yang disertai tipu daya dan pelanggaran hak orang lain dengan memakai kedok agama. Sehingga Habil lenyap dan Qabil tampil ke permukaan sejarah sampai hari ini.

Konflik mereka bukan hanya ditengari oleh seksualitas, melainkan ada banyak motif yang melatarbelakangi awal sejarah manusia dan filsafat. Tidak lain adalah faktor ekonomi.

Bahwa sejarah mengajarkan kepada kita, pada zaman penggembalaan yang juga merupakan zaman perikanan dan pemburuan, alam adalah sumber semua produksi. Hutan rimba, lautan, padang pasir, dan sungai-sungai. Semua sumber ini tersedia bagi seluruh masyarakat, sedangkan alat produksi utama ialah tangan manusia sendiri. Kalaupun ada alat prosuksi lain, jumlahnya masih sangat terbatas dan sederhana.

Tidak ada pemilikan monopolistis atau perseorangan atas sumber-sumber produksi(air dan tanah) maupun alat-alat produksi ( sapi, bajak dan lainya).

Baca Juga:  Mari Bicara Data bukan Hoax

Semangat dan norma masyarakat, penghormatan terhadap orang tua, kesungguhan dalam melaksanakan kewajiban moral, ketaatan mutlak terhadap ketentuan-ketentuan hidup bersama, kesucian batin serta keikhlasan beragama, cinta kasih serta kesabaran. Hal itu termasuk karakteristik manusia dalam system produksi yang bisa dianggap diwakili oleh Habil.

Begitu manusia mengenal pertanian maka kehidupan masyarakat dan seluruh tatanannya mengalami revolusi terbesar dalam sejarah. Revolusi yang melahirkan manusia baru, berkuasa, keji dan diskriminasi.

Dalam teori Marx, muncul term Borjuis dan Proletar. Hal itu sebanding dengan konsep Qabil dan Habil. Qabil diartikan sebagai kaum borjuis, penguasa, pemilik modal, sedangkan Habil diartikan sebagai kaum Proletar, yang dikuasai. Kenapa bisa dikatakan seperti itu? Tatkala melihat mitologi drama kosmik tadi, sebagai simbol bahwa dalam kutub Habil keadaannya bisa dibilang sosial tinggi, tidak adanya “pemetakan-pemetakan”, kepunyaan bersama. Berbeda dengan kutub Qabil, yang mulai adanya “pemetakan-pemetakan”, pembagian lahan—tanah, kepemilikan sendiri-sendiri, adanya persaingan-persaingan.

Dalam kisah Habil dan Qabil, satu-satunya faktor yang memperbedakan kedua bersaudara ialah perbedaan pekerjaan. Pekerjaan mereka yang berbeda telah menempatkan mereka masing-masing pada posisi ekonomis dan sosial yang berbeda pula. Dengan tipe-tipe kerja, struktur-struktur produksi maupun system-system ekonomi yang saling berkontradiksi.

Terlihat jelas dalam psikologi kelas dan perilaku sosial. Antara sosialisme primitif yang ditandai ekonomi penggembala, perburuan dan penangkapan ikan; sedangkan pihak Qabil sesuai karakteristik sosial dan kelas dalam periode masyarakat kelas dengan system perbudakan dan dengan psikologi pertuanan.

Membaca kejadian sejarah tersebut, menjelaskan bahwa umat manusia dewasa ini terdiri atas para ahli waris Qabil secara tipologi bukan genealogis. Mengandung makna bahwa masyarakat, pemerintahan, agama, akhlak, pandangan hidup dan sikap Qabil telah berlaku secara universal.

Baca Juga:  Perjuangan Kartini Masa Kini: Globalisasi, Teknologi Digital dan Deradikalisasi

Qabil tidak berpembawaan jahat. Esensinya sama dengan esensi Habil. Tidak ada orang yang berpembawaan jahat, karena setiap orang sama esensinya dengan esensi Adam. Yang membuat Qabil jahat ialah sistem sosial yang anti-manusiawi, masyarakat kelas, rezim hak milik, pribadi yang menumbuhkan perbudakan dan pertuanan serta merubah manusia menjadi serigala, musang atau kambing.

Senjata yang digunakan Qabil ialah agama, sedangkan senjata Habil juga agama. Itulah sebabnya kenapa sejarah umat manusia terus menerus ditandai oleh perang antar agama. Di satu pihak adalah agama syirik, yang menyekutukan Allah, agama yang membenarkan berlakunya syirk dalam masyarakat dan diskriminasi kelas. Di pihak lain adalah agama tauhid, yang meng-Esa-kan Allah, yang mengandalkan kesatuan semua kelas dan ras. Pertarungan keduanya juga merupakan pertarungan antara tauhid dan syirk.

Mengutip dari pendapat Dr. Ali Syariati, manusia ideal memiliki tiga aspek: kebenaran, kebajikan dan keindahan. Dengan kata lain, pengetahuan, akhlak dan seni.

Advertisement

Popular