Opini

Belajar Bernegara dari Mustafa Kemal Ataturk

Belajar Bernegara dari Mustafa Kemal Ataturk
Sumber Ilustrasi : haydzayn.am

Mustafa Kemal Ataturk adalah seorang tokoh pembaru Turki yang telah mendapatkan berbagai penilaian dan kontroversi steatment dari berbagai perspektif.

Mustafa Kemal Ataturk lahir di Salonika, tepatnya pada tanggal 12 Maret tahun 1881. Orang tuanya bernama Ali Riza, seorang pegawai biasa di salah satu kantor Pemerintah di kota itu, sedangkan ibunya bernama Zubayde, seorang wanita yang amat dalam perasaan keagamaannya. Ali Riza meninggal dunia saat Mustafa Kemal berusia tujuh tahun.

Kehidupan Mustafa Kemal sejak 1905 sampai dengan 1918 diwarnai dengan perjuangan untuk mewujudkan identitas kebangsaan Turki. Sebagai pejabat militer di dalam imperium Turki Utsmani saat itu, ia mendirikan sebuah organisasi yang bernama Masyarakat Tanah Air.

Melalui gerakan politis dan diplomatis di parlemen Majelis Nasional Agung, di mana dalam parlemen ini Mustafa Kemal menjadi ketuanya, ia berhasil mendirikan rezim republik atas sebagian wilayah Anatolia, memberlakukan suatu konstitusi baru bagi rakyat Turki pada tahun 1920, dan mengalahkan republik Armenia, mengalahkan kekuatan Perancis, dan mengusir kekuatan tentara Yunani.

Klimaks perjuangan Mustafa Kemal yang mengantarkannya ke kursi presiden republik Turki adalah ketika bangsa Eropa mengakui kemerdekaan bangsa Turki yang ditandai oleh perjanjian Lausanne pada tahun 1923.Prinsip Pemikiran Pembaruan Mustafa Kemal di awali ketika ia ditugaskan sebagai attase militer pada tahun 1913 di Sofia. Dari sinilah, ia berkenalan dengan peradaban Barat, terutama sistem parlementernya. Adapun prinsip pemikiran pembaharuan Turki yang kemudian menjadi corak ideologinya terdiri dari tiga unsur, yakni : nasionalisme, sekularisme dan westernisme.

Mustafa Kemal berusaha mewujudkan prinsip-prinsip generasi Turki Muda. Di bawah kepemimpinannya, elit nasional Turki berhasil memobilisir perjuangan rakyat Turki dan melawan pendudukan asing. Rakyat Turki berhasil memukul mundur kekuatan penjajahan dari tanah bangsa Turki, yang secara tidak langsung menjadi kemenangan awal bagi Mustafa Kemal, Pada tahun 1919.

Dalam pemahaman Mustafa Kemal, Islam yang berkembang di Turki adalah Islam yang telah disatukan dengan budaya Turki, sehingga ia berkeyakinan bahwa Islam dapat diselaraskan dengan dunia modern. Namun turut campurnya Islam dalam segala aspek kehidupan pada bangsa dan agama akan menghambat Turki untuk maju.

Mustafa Kemal berpendapat bahwa agama harus dipisahkan dari negara. Islam tidak perlu menghalangi Turki mengadopsi peradaban barat sepenuhnya, termasuk merubah bentuk negara. Pada permulaan didirikannya Republik Turki, Mustafa Kemal berpendapat bahwa pemerintah nasional harus didasarkan pada prinsip pokok populisme (kerakyatan). Dimana kedaulatan dan semua kekuatan administrasi harus langsung diberikan kepada rakyat. Konsekuensi logis dari prinsip tersebut adalah dihapusnya sistem kekhalifahan.

Secara Politis, negara Turki mempunyai pandangan bahwa mereka adalah bagian yang tidak terpisahkan dari peradaban Barat. Sedangkan secara loyal-kultural, rakyat Turki terus mempertahankan identifikasi mereka dengan Islam. Walaupun Turki dinyatakan sebagai negara sekuler, Islam tetap berakar kuat pada masyarakat Turki. Agama tetap diakui, tapi harus dipisahkan dari negara agar tidak dimanipulasi untuk kepentingan politik. Begitu pun sebaliknya, untuk menghindarkan terjadinya manipulasi politik untuk kepentingan agama.

Di setiap sudut Kota Ankara, misalnya, bendera Turki berkibar di berbagai tempat tanpa peduli ada momen khusus atau tidak. Cara mereka menghargai negaranya sekaligus menjadi bukti betapa Mustafa Kemal Ataturk demikian kuat menerapkan ajaran nasiolisme kepada rakyatnya.

Menurut hemat penulis, sudah banyak yang larut dalam isu-isu politisasi isu agama yang mengundang perpecahan. Sementara ancaman terorisme justru semakin tampak di depan mata.

Menurut Mustofa “Tidak ada penindas atau yang tertindas. Yang ada hanyalah mereka yang membiarkan diri mereka ditindas”. Perlu sikap yang tegas melawan politisasi isu agama, terorisme, ekstrimis. Agama adalah masalah pribadi.

Dalam Pandji Islam (1940) Soekarno mengandaikan republik sekuler Turki sebagai salah satu ideal pendirian Republik Indonesia. Ide pemisahan agama dan negara dianggapnya sebagai, “agar supaya Islam subur, dan negara pun subur pula.” Ada banyak pelajaran menarik dari perkembangan sekularisme Turki untuk negeri kita.

Click to comment

Tinggalkan Balasan

Popular

SerikatNews.com adalah portal media Online, sebagai wadah media kritis anak bangsa yang menerjemahkan visi, mencerahkan itu sebagai keharusan, menyajikan tulisan-tulisan jernih dan transfomatif. SerikatNews.com merupakan media yang menyajikan berita-berita yang terpercaya sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Media SerikatNews.com bergerak diranah kampus bermaksud untuk membangun secara kolektif nalar kritis mahasiswa yang hari ini sudah banyak terkoptasi dengan dunia hedonisme. SerikatNews.com tidak memihak terhadap kepentingan satu golongan baik ras, suku, partai politik bahkan agama! Salam Tim Redaksi SerikatNews.com.

Copyright © 2017 Serikatnews.com - All Rights Recerved

To Top