Siapa yang Salah dalam Kasus Audrey?

685
Maya
Ilustrasi (Net)

Pendidikan merupakan sebuah proses penting dalam kehidupan manusia, karena melalui proses ini manusia dibentuk dan dilahirkan sebagai seorang manusia yang utuh dan sebenarnya. Selain itu, pendidikan juga sebagai salah satu wahana pembentukan karakter yang sangat mempengaruhi terhadap kemajuan bangsa dan agama, di mana pendidikan menjadi ujung tombak dari segala aspek. Untuk itu, dengan adanya pendidikan ini maka manusia atau seseorang dapat mempunyai pengetahuan, kemampuan, dan sumber daya manusia yang tinggi. Pendidikan tidak ubahnya investasi jangka panjang yang harus kita jaga, tata dan persiapkan sebaik-baiknya demi mencapai suatu pengetahuan yang bisa mencerminkan suatu sikap dalam kehidupan karena maju atau mundurnya suatu negara ditentukan oleh tingkat pendidikan di negara tersebut.

Pentingnya pendidikan karakter ditanamkan pada anak sejak dini. Sebab sejak dini karakter anak masih mudah di bentuk, anak cenderung meniru pada lingkungan sekitarnya, dan keluarga adalah salah satu faktor utama dalam pembentukan karakter anak.

Pengeroyokan dan pem-bully-an yang terjadi pada anak di bawah usia dini—sebut saja kasus Audrey—yang dikeroyok oleh 12 orang siswa SMA, yang mengakibatkan selaput darah Audrey luka dan Audrey mengalami trauma. Pengeroyokan ini berawal dari perselisihan di media sosial dan terjadi secara spontan. Saya mengingatkan soal peran orang tua sebagai faktor utama bagi anak.

Sikap timbul karena ada stimulus, terbentuknya suatu sikap banyak dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan kebudayaan, serta keluarga mempunyai peran penting dalam membentuk sikap seseorang. Sikap seseorang tidak selamanya tetap, akan tetapi tidak berarti bahwa orang yang diam saja tidak bersikap.

Saya sebagai perempuan sangat miris ngilu membaca berita terkait kasus Audrey, “bayangkan alat vital ditusuk oleh jari” belum tentu jari tersebut bersih. Alat vital merupakan hal yang sangat berharga dan sangat privasi juga alat vital adalah hal yang sangat sensitif. Trauma yang dialami korban adalah suatu yang sangat wajar dan bentuk ketakutannya atas kejadian yang dialaminya.

Baca Juga:  Nasionalisme Berbasis Android

Kekerasan dan pembulian yang terjadi pada Audrey adalah tindakan yang sangat biadab, apalagi dilakukan oleh perempuan juga, padahal yang seharusnya sama-sama perempuan saling menjaga, menguatkan dan membesarkan, terlepas apa motif di balik kejadian ini, yang jelas tindakan ini tindakan yang sangat tercela. Dan sangat disayangkan pelaku tercatat sebagai pelajar SMA, yang mana mereka adalah bibit masa depan Bangsa yang diharapkan oleh Bangsa, generasi masa depan bangsa.

Pelaku bullying terhadap anak dapat dipidana berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana yang telah diubah oleh Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Dalam undang-undang tersebut diatur bahwa setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak. Bagi yang melanggarnya akan dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp72 Juta.

Kekerasan dan bully apalagi terkait dengan isu percintaan bagi peserta didik di lembaga pendidikan sejatinya telah diatur dalam Kemendikbud No. 82 tahun 2015 tentang larangan bully, pencegahan dan penanggulangan kekerasan di lembaga pendidikan.

Semoga penegak hukum adil dalam menangani kasus ini karena bagaimanapun segala sesuatu yang merugikan orang lain terlebih dengan tindakan biadab harus dihukum sesuai hukum yang berlaku di Indonesia karena negara kita negara hukum, yang saya yakini pasti ditindaklanjuti dengan adil dan tidak ada lagi penawaran bagi pihak yang bersangkutan.