Pak Suhairi, orang Padang ini berbeda dari yang mayoritas. Dia berjuang gigih melawan gerakan khilafah. Caranya? Menurut dia adalah berjuang. Caranya? Mendukung Jokowi. Caranya? Gerakan di desa dan di kampung. Grass roots.
Pak Hery, begitu biasa dia dipanggil. Berjuang keras. Berkoordinasi dengan orang Jakarta. Menemui TKN. Bertemu M. Yamin di Gedung High Line. Termasuk tiga hari sebelum Mas Yamin dijemput Allah SWT di Majalengka.
Orang Jakarta pun bisa saya sebut membantu Nikki yang ada di Jerman. Marsha sang Ratu Kecantikan. Paul Ang. Pak Alimin. Dan beberapa yang terlibat. Kami menyalurkan APK. Alat Peraga Kampanye (APK) secara terbatas. Target kami tidak muluk-muluk. Merebut 20.000 suara di kantong HTI, FPI dan PKS yang begitu keras.
Hasilnya? Kami mendapatkan 19.000 suara lebih. Buat Pak Hery dan kawan-kawan relawan, menamakan diri SEMANGAT JOKOWI, pencapaian itu luar biasa. Kalah telak memang. Hanya memenangi sekitar 35% suara. Namun, di tengah gelombang anti Jokowi. Bahkan caleg anggota koalisi pun tidak berani mencantumkan foto Jokowi-Amin, pencapaian itu sungguh luar biasa.
Pak Hery tidak punya keinginan lain. Dua kali terakhir bertemu, setelah Pilpres 2019, saya menanyakan. Apa sebenarnya motivasinya.
“Saya ingin bertemu dan berfoto dengan Pak Jokowi,” itu jawaban lugas, di depan istri dan anaknya, ketika kami makan di Rumah Makan Padang Singgalang di Kecamatan Cidahu.
“Oops. Luar biasa!” kataku. Sambil saya tambahkan semoga bisa terpenuhi. Amin.
“Iya saya tulus. Saya berjuang untuk Pak Jokowi,” tambahnya.
Dalam hati saya berpikir. Yah, jika saya mendapatkan undangan untuk bertemu Presiden Jokowi, saya akan berusaha menyisipkan Pak Heri untuk sekedar berfoto dengan Pak Jokowi. Itu saya simpan dalam hati.
Biar saya beberapa kali pernah bertemu dengan Jokowi, dalam kapasitas resmi dan tidak resmi, namun yang tidak mau menjanjikan untuk mempertemukannya dengan Jokowi.
Tak disangka, 25 April 2019, ketika saya masih di Sumedang, saya mendapatkan pesan WhatsApp. Bahwa Pak Hery meninggal dunia. Saya berhenti tertegun di sebuah Balai Desa di Jatinangor. Hidup begitu pendek. Menjemput.
Mimpi Pak Suhairi itu berakhir dengan Sang Maut menjemput. Foto-foto yang dikirim sungguh membuat dada saya sesak. Pak Hery menghembuskan napas terakhir tetap mengenakan kaos Relawan Jokowi. Suatu peristiwa yang tak terbayangkan bagi saya.
Andai ada acara syukuran merayakan kemenangan Jokowi-Amin, atau apa pun acara di situ ada Jokowi, saya memimpikan agar anaknya yang berusia 11 tahun bisa mewakilinya. Saya rela undangan untuk saya, saya berikan kepada anak Pak Suhairi, agar dia datang berfoto dengan Jokowi. Untuk mewakili cita-cita ayahnya. Suatu mimpi dan harapan dari orang yang telah pergi.
Selamat Jalan Kawan. Selamat Jalan menuju Kebenaran Mutlak. Perjuangan menegakkan NKRI, menegakkan agama Islam moderat, Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin. Saya yakin Surga Jannatun Naim menunggu di Sana. Innalillahi Wainna IlaIhi Rojiun.
Wakil Presiden Penyair Indonesia. Filsuf penemu teori filsafat I am the mother of words. Saya induk kata-kata.
Menyukai ini:
Suka Memuat...