Monster dan Pemberontak Keluarga

379

Therese Desqueyroux, meracuni suaminya sang tuan tanah pemilik hutan pinus, Bernard. Ia merasa ngeri membayangkan maut. Therese menjadi monster karena tak bahagia hidup bersama Bernard. Ia lelaki yang gemar berburu binatang.

Karakter Therese paling kuat digambarkan di novel ini. Dia perempuan bertubuh mungil, cerdas, pelahap buku-buku, dan keras kepala. Tapi, Francois Charles Mauriac, si empunya pemberi hidup tokoh Therese tak sepenuhnya menyematkan karakter yang baik-baik saja atau jahat (tidak hitam putih).

Di petualangan menjelang akhir novelnya, Therese punya pacar yang punya kesamaan pikiran-pikiran. Ia lalu menjadi monster yang membubuhkan racun untuk suaminya.

Baca Juga: Pearl S. Buck, Feminis Penjelajah Tradisi Timur dan Barat 

Begitu pula dengan Bernard, lelaki menggelikan dan kasar. Bagi dia hidup tak penting demi alasan apapun, demi gagasan apapun, dan demi siapapun. Kaya raya, dihormati, dan menjalani hobinya berburu itu sudah cukup buat Bernard.

Ia akhirnya berusaha melepaskan Therese dari jerat hukum di pengadilan karena mencoba membunuhnya. Itu dia lakukan demi kehidupan anak mereka.

Mauriac rupanya berhasil mencampur karakter setiap tokohnya. Setiap individu tak semuanya punya karakter tunggal. Semua terombang ambing di antara hal spiritual, intelektual, dan dorongan naluriah. Novel yang ditulis tahun 1927 ini menyajikan pemberontakan gagasan keluarga, unit sosial yang menindas dan membuat sengsara. Jangan harap menemukan keluaga bahagia ideal. Di sini juga tak ada cerita keluarga bahagia, sakinah, mawadah, dan warohmah.

Karya Mauriac mengingatkan saya pada Anna Karenina, karangan Novelis Leo Tolstoy. Anna yang depresi dan tak mencintai suaminya menubrukkan tubuhnya di rel kereta api. Ia tewas terlindas

Mauriac lahir tahun 1885 di Bordeaux, Prancis. Ia pernah menjadi jurnalis, banyak menulis puisi, dan novel. Mauriac kerap berdebat dengan rekannya yang menolak pemberian Nobel Sastra, si eksistensialis Jean Paul Sartre.

Baca Juga:  Peta Mesin Politik Golkar

Mauriac dikenal sebagai anti-fasisme. Tahun 1952 ia menerima Nobel Sastra.

Aktif menulis di Tempo, AJI Yogyakarta, Vice, dan ragam isu lainnya. Meliput pemilu di Myanmar (2015), Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-bangsa (United Nations Framework Convention on Climate Change) di Peru, Amerika Latin (2014).