Ribuan suporter fanatik Vietnam masih larut dalam euforia selebrasi merayakan keberhasilan timnas sepak bola Vietnam yang telah berhasil memastikan lolos ke babak perempat final dalam ajang Piala Asia AFC 2019. Kurang dari sepekan, mereka melakukan pawai turun ke jalan sebanyak dua kali.
Secara mengejutkan tim berjuluk “Naga Emas” itu mencatatkan sejarah pencapaian terbaiknya dalam jagat sepak bola termegah di Asia. Sebagai perwakilan Asia Tenggara, sebelumnya Vietnam bersama Thailand dan Filipina berhak mewakili tampil di ajang Asian Football Confederation (AFC).
Berhasil mengalahkan Jordania melalui drama adu penalti, memastikan Vietnam tampil sebagai rising star di jagat sepak bola Asia. Kesuksesan dalam memupuk pemain muda telah menunjukkan perhatian khusus pemerintah Vietnam dalam melakukan perubahan secara total dan signifikan mengenai olahraga sejuta umat tersebut. Maka, bukan sekedar mimpi di siang bolong, prestasi demi prestasi akan dipanen tim berjuluk “Naga Emas” tersebut.
Jika tidak terkena sanksi diskualifikasi oleh FIFA pada Mei 2015 lalu, timnas Indonesia juga berkesempatan untuk tampil di edisi kelima kalinya sebagai kontestan delegasi Asia Tenggara. Sebelumnya, Indonesia pernah ikut serta di ajang Piala Asia edisi 1996, 2000, 2004 dan 2007.
Kunci keberhasilan dalam mengembangkan pemain muda melalui akademi yang semakin profesional membuat sepak bola Vietnam kian melesat. Bukan hanya scouting atau kecanggihan metode latihan, namun adanya manajemen yang memberikan ruang bagi pemain muda Vietnam tampil di setiap ajang kompetisi liga sukses melahirkan generasi emas berbakat.
Catatan sepak terjang perjalanan sepak bola di Negeri Paman Ho, Vietnam dengan Indonesia sebenarnya tidak jauh berbeda untuk level Asia Tenggara. Pasang surut prestasi juga turut mewarnai. Begitu juga carut marut pembenahan kompetisi liga. Sayangnya, untuk edisi Piala Asia kali ini mengharuskan timnas Garuda mengakui keunggulan Vietnam karena sepak bola dalam negeri sedang mengalami masa pesakitan.
Sama seperti yang dialami Indonesia saat ini. Di Vietnam, kasus rekayasa pertandingan, pengaturan skor, tradisi suap-menyuap juga pernah terjadi sebelumnya. Sejak 2005-2006, kepolisian Vietnam membongkar sebanyak 50 kasus suap yang turut menyeret para wasit dan manajemen tim yang bermasalah.
Akhir tahun 2018, Secara mengejutkan pula jagat sepak bola Tanah Air semakin memanas. Pemerintah segera merespons dengan membentuk tim satgas anti mafia bola. Dan puncaknya, kemarin ramai pemberitaan menyoroti pernyataan resmi atas pengunduran diri Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi dalam pembukaan kongres PSSI di Nusa Dua, Bali.
Ketidakbecusan pengurus internal PSSI dalam menjalankan visi misi tersebut tampak jelas gambaran kondisi sepak bola nasional kita yang tidak beres saat ini. Hasil kongres PSSI yang salah satunya memandatkan Joko Driyono sebagai Plt Ketua Umum PSSI belum juga mampu meredam konflik internal PSSI. Perbaikan dan pembenahan terus menjadi pembahasan PSSI kali ini.
Ditunjuknya Joko Driyono sebagai Plt Ketua Umum PSSI, justru memperpanjang sekelumit sejarah polemik PSSI terkait kepengurusan. Joko Driyono memang tak asing dalam pusaran PSSI terkait status rangkap jabatan yang selama ini menjadi tradisi menyedihkan PSSI. Joko Driyono diketahui juga sebagai manajemen klub Persija Jakarta.
Dalam sejarahnya, Sekjen PSSI, Ratu Tisha Destria mengakui sejak pendirian PSSI selalu diisi oleh pengurus yang juga berasal dari manajemen klub bola Tanah Air. Hal inilah yang banyak pengamat mempersoalkan sarat kepentingan atas integritas dan independensi PSSI selama berjalannya sebuah liga sepak bola di tanah air.
Meskipun memang tidak ada larangan terkait rangkap jabatan dalam tubuh PSSI, namun polemik ini akan terus menghambat pembenahan pesepak bola tanah air untuk menorehkan prestasi dengan profesionalitas permainan dari tingkat liga.
Apakah dengan berakhirnya kongres PSSI yang juga turut menghasilkan pembentukan komite khusus (ad hoc) integritas PSSI akan berdampak positif bagi perkembangan sepak bola tanah air?
Atau sebaliknya, dengan apresiasi yang setinggi-tingginya atas torehan prestasi sepak bola Vietnam kali ini sudah saatnya kita semua menurunkan ego dan memikirkan kembali mimpi besar timnas Garuda Indonesia untuk dapat terbang ke pentas yang lebih tinggi di level Asia bahkan Dunia.
Jika memang ada perhatian yang sungguh-sungguh, melahirkan generasi emas sepak bola tanah air bukanlah mustahil. Kita punya jutaan anak muda yang berpotensi dari Sabang sampai Merauke. Bukan hanya untuk kepentingan sesaat segelintir para elite yang menyebabkan tumbuh suburnya mafia bola. Adili dan Benahi.
Tinggal bagaimana konsentrasi PSSI segera merumuskan pengelolaan liga yang lebih profesional serta memberikan ruang yang lebih besar untuk melibatkan pesepak bola muda sejak dini.
Indonesia Controlling Community
Menyukai ini:
Suka Memuat...