SERIKATNEWS.COM – Para petani di Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto mengalami kerugian akibat gagal panen cabai. Hal tersebut berbanding terbalik dengan harga cabai yang sedang mahal saat ini.
Kerugian itu terjadi akibat tanaman cabai mengering sebelum sempat dipanen, seperti yang terlihat di Desa Pucuk, Kecamatan Dawarblandong. Hamparan tanaman cabai rawit di wilayah ini tampak mengering, padahal sebagian besar tanaman telah berbuah.
Dikutip dari Detik, salah seorang petani cabai di Desa Pucuk, Sugeng (63) mengatakan bahwa kemarau sejak awal Juni 2019 membuat dirinya kesulitan mendapatkan air untuk irigasi. Akibatnya, tanaman cabai miliknya mengering. Buah cabai yang masih muda pun terlihat layu sehingga tak bisa dipanen. Sugeng terpaksa mencabuti tanaman cabai yang telah mengering di lahan miliknya.
“Biasanya lahan saya 300 meter persegi kalau panen menghasilkan puluhan kilogram cabai. Ini karena kering tak bisa dipanen,” kata Sugeng, Jumat (19/7/2019).
Senada dengan Sugeng, Sunardi (46 mengatakan jika tak kesulitan air, rata-rata setiap hektare lahan menghasilkan 3-4 kuintal cabai. Dia mengatakan, uang yang dihasilkan pun mencapai Rp5 juta.
“Sekarang bisa dilihat sendiri tak laku dijual. Oleh sebab itu kami sengaja membiarkan cabai di pohonnya, soalnya sudah tak laku,” terangnya.
Akibat gagal panen, Sunardi mengalami kerugian Rp4 juta untuk setiap hektare lahan yang digarapnya. Kerugian itu akibat pengeluaran biaya tanam dan perawatan yang selama ini. Dia hanya bisa gigit jari melihat hamparan tanaman cabai rawit miliknya tak bisa dipanen. Terlebih lagi saat ini harga cabai rawit di pasar-pasar Mojokerto menembus angka Rp60 ribu/Kg.
“Mau bagaimana lagi, kami tak bisa berbuat apa-apa. Karena tanaman cabai sangat membutuhkan air untuk tetap bertahan hidup,” tutupnya.
SerikatNews.com adalah media kritis anak bangsa. Menyajikan informasi secara akurat. Serta setia menjadi platform ruang bertukar gagasan faktual.
Menyukai ini:
Suka Memuat...