Apakah yang Kita Pilih Selain Hidup
Sepasang umang-umang terbang, sebatang pohon tumbang,
sealir sungai mati, perempuan bersanggul ular menari,
serdadu semut bermain gula, seorang perjaka menjaga kelaminnya,
sepotong kelam menjadi semesta; apa yang Anda bisa pilih puan dan tuan,
jika Anda berumah di kamar mandi pribadi?
Kubang Raya, Kemerdekaan Agustus 2021
Mungkin
Mungkin
pertemuan ini sebatas ingin
sekedar memecah dingin pada kening
…
Mungkin
pertemuan ini sebatas angin
sekedar mendedah ranting pada kering
Mungkin
pertemuan ini sebatas jiwa yang lepas
yang mulai memuai
Buih-buih napas
Pekanbaru 2011 – 2021
Sebagai Rindu yang Bingung
– bagi Mohammad Iskandar
Sebuah damar menyala, cahayanya hingga ke tepi hutan,
seorang lelaki kesepian, hatinya sampai ke lubuk pemandian.
ia rindu Jaka Tarub, ia rindu Nawang Wulan.
ia tidur berbantal tangan, mimpinya tinggi menggapai awan.
saat terjaga ia kecewa; seekor kelinci menggigit kakinya.
Alice, kaukah itu sayang? Aku khawatir dan mulai takut,
Cepat-cepat kulempari ia gumpalan doa. doa itu ada yang menjadi bintang,
ada yang menjadi binatang. yang bintang, kusuruh ia memandang ke langit malam.
yang binatang, kusuruh ia merawat kemanusiaan. ia bingung,
kusuruh ia bercakap-cakap dengan bingung. ia makin bingung,
kusuruh ia makan bingung. bingung telah ia makan,
maka ia kekenyangan karena bingung. ternyata kebingungan hanya akan padam,
oleh kebingungan-kebingungan baru.
2021
Kelahiran Paringgonan, 25 Mei 1988. Pemenang II Duta Baca Riau 2018. Menulis dan membaca puisi sejak 2006. Ia belajar Bahasa Spanyol dan bahasa Esperanto secara ototidak. Buku puisinya yang telah terbit ULANG DOKON-DOKON NA HUDOKON-DOKONI PALA DOKONKO NA HUDON-DOKONI.
Menyukai ini:
Suka Memuat...