DALAM beberapa tahun terakhir kita digiring dan dibina untuk menjadi manusia munafik dan ganas. Petualangan politik mengantarkan pada karakter terburuk dalam makna demokrasi. Istilah kader semi politisi (muda) konon menjadi brand keren untuk diucapkan dalam banyak forum: “Akulah politisi muda yang memiliki kendali besar dalam setiap kontestasi dan berjalannya organisasi”. Kira-kira seperti itu kalimat yang acap kali diucapkan oleh mereka yang merasa si paling-paling di organisasi wkwk, tentunya sembari membusungkan dadanya!
Kalau menurut idola saya Almarhum Prof Sahetapy, bilamana melihat situasi dan kondisi Indonesia masa kini, sudah ibarat “Rumah Sakit Gila” yang dihuni sebagian orang yang sudah “gila dan setengah gila” (gila kekuasaan, pangkat, dan jabatan) tidak memiliki moral dan integritas. Ya, rumah sakit gila itu kini adalah rumah kami. Bedanya tidak ada yang setengah gila di sini (semua gila).
Integritas organisasi serta moralitas demokrasi dihilangkan. Beberapa kader berkumpul dan berdiskusi menyimpulkan dengan pertanyaan paling sederhana, apa yang sedang terjadi? Kapan jotas jotos ini berakhir? Rasanya setiap momentum yang sama masalahnya pun sama pada intinya angkat senjata lalu perang. Tidak ada kata persaudaraan, lantang terdengar suara “you are my enemy”! hahaa.
Sebenarnya banyak yang ingin bersuara bahkan berteriak, tapi apa daya mereka tidak memiliki kekuatan. Dominasi mereka ada pada keberanian dalam memperjuangkan nilai-nilai, akan tetapi seringnya dibenturkan dengan kekuatan besar yang dikendalikan oleh sosok yang tidak terlihat wujud dan keberadaanya. Dalam istilah kuno disebut “manusia tak berpakaian/telanjang”. Ia tidak sadar bahwa sosoknya yang tidak terlihat itu justru menancapkan bayang-bayang di kepala banyak orang betapa terhinanya dia memakai pakaian lengkap, tapi terbayang seperti telanjang.
Ada banyak sekali ambisi-ambisi gelap yang diatur sedemikian rupa. Terstruktur, masif dan rapi menggunakan kekuatan kekuasaan. Dengan role model seperti ini mengingatkan saya pada zaman sang jendral “The Smilling General” (Pie enak jamanku to?) yang segalanya dikendalikan dengan kekuasaan. Nah, penting untuk saya sampaikan, kalau dulu mahasiswa berjuang menurunkan rezim “Orde Baru”, hari ini justru ada segelintir dari kita para mahasiswa yang melestarikan budaya “Orde Baru” wkwk. Aneh enggak? Sepertinya inilah bibit-bibit KKN… haha (just a joke). Sementara inikan baru ada istilah Neo Komunis, Neo Kapitalis, dan Neo Liberalis. Saya cetuskan istilah baru yaitu “Neo KKN” hahaa.
Munculnya banyak politisi amatiran yang bertingkah dan berlagak seolah paling penting dan berpengaruh sejagat raya seperti dinarasi awal adalah contoh salah satu kader yang pantas diberi sematan di atas politisi yaitu Politikus-kus-kus. Kalau udah gerak siapa pun lewat. Pokok e ngalah-ngalahi Presiden-lah wkwk. Cak-cek HP, telfon sana-sini dengan raut wajah kaku, rata dan serius. Lek Istilah dagelan jowone “macak gawat”. biasa ae poo lak iso sehh…cookkk? Wkwk. .
Oke kembali ke-kengawuran pembahasan. Eh, kayaknya cukup, sudah panjang ternyata wkwk. Gini-gini apa pun yang menjadi konflik hari ini adalah serangkaian kemeriahan yang tak berujung. Semua bergerak sesuai ambisi kekuasaan. Kalau kata orang Belanda “Terlalu banyak minum anggur di akhir tahun”, mabuknya enggak ketolongan.
Beberapa kader yang ideal mengharapkan ada yang memiliki moral meskipun dalam jumlah sedikit. Pesta demokrasi akhir tahun semoga menjadi ajang bersalaman dan berpelukan. Walau mustahil tidak ada yang salah dari sekedar memanjatkan.
“Tidak ada istilah Konstitusi bagi Penguasa, apa pun yang tidak sejalan dengan dirinya dan golongannya. Jangankan aturan, Tuhan pun akan mereka tentang!”
“Meskipun kejahatan lari secapat kilat, satu waktu kebenaran pasti akan mengalahkannya.” (Almarhum Prof Sahetapy)
Anggota Bidang Kaderisasi PMII Kota Malang
Menyukai ini:
Suka Memuat...