JAKARTA – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengimbau masyarakat di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) untuk mengurangi aktivitas di luar rumah. Langkah ini menyusul kondisi kualitas udara yang berada pada kategori tidak sehat, sangat tidak sehat, hingga berbahaya di sejumlah provinsi.
Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Udara KLH, Edward Nixon Pakpahan, menyampaikan bahwa hingga Kamis (17/9/2026) pukul 15.00 WIB, kualitas udara di Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur berada pada tren buruk. Bahkan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan mencatatkan status kualitas udara berbahaya.
“Per hari ini, 17 September pukul 15.00, untuk daerah terdampak, mayoritas kualitas udara di provinsi terdampak mulai dari Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur itu mayoritas pada kelompok status kualitas udara tidak sehat, sangat tidak sehat, bahkan ada yang berbahaya,” ujar Edward dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta.
Sementara itu, BMKG memperingatkan bahwa potensi risiko karhutla masih akan tinggi hingga awal musim hujan yang diprediksi tiba pada akhir Oktober hingga awal November. Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, Marzuki, menjelaskan puncak musim kemarau Agustus-September diperparah oleh fenomena El Nino dengan suhu muka laut Pasifik Tengah dan Timur yang mencapai fase sangat kuat.
BMKG mencatat potensi pertumbuhan awan sepekan ke depan masih rendah, terutama di Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan. Meski demikian, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) tetap disiagakan di wilayah Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Bromo. BMKG juga memprakirakan sebaran polutan sisa pembakaran seperti karbon monoksida untuk tiga hari ke depan berpotensi berdampak di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, dan Jambi. (*)
SerikatNews.com adalah media kritis anak bangsa. Menyajikan informasi secara akurat. Serta setia menjadi platform ruang bertukar gagasan faktual.