Connect with us

Opini

Bersyukur dalam Masa Pandemi

Published

on

© CNBC

Telah kita lalui tiga puluh hari berpuasa di bulan Ramadan, sebagai sebuah kewajiban kita untuk menjadi orang-orang yang bertakwa. Puasa di tahun 2020 ini, insyaallah telah kita jalani dengan sebaik-baiknya dengan hakikat yang sebenar-benarnya, yaitu untuk mengembalikan fitrah sebagai manusia yang merupakan hamba Allah dan juga untuk membangkitkan kembali jiwa sosial dalam berempati dengan saudara-saudara kita yang kurang beruntung.

Allah memberikan didikan yang paripurna saat kita berpuasa di masa pandemi ini. Dia memberikan kesempatan untuk mengintrospeksi keberadaan kita di muka bumi ini, yang telah melakukan kerusakan pada alam semesta, baik disengaja maupun tidak disengaja. Allah pun memperbaiki kerusakan yang telah dilakukan kita sebagai manusia, membiarkan alam semesta kembali bernapas dengan lega tanpa polusi yang dibuat manusia.

Bersama dengan hal tersebut, Allah memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan waktu sebaik-baiknya. Beribadah dengan khusyuk dalam kesendirian, berkomunikasi dengan-Nya, hanya antara hamba dan pencipta-Nya. Dia memberikan kita waktu untuk berkumpul bersama keluarga, menyaksikan anak-cucu tumbuh dewasa dan memberikan kita kesempatan untuk berbagi pengalaman hidup dan pembelajaran bersama-sama.

Allah juga memberikan kita kesempatan untuk sebanyak-banyaknya berbuat kebaikan. Membukakan mata dan telinga kita pada kesulitan hidup sanak saudara, tetangga, teman, dan bahkan orang yang tidak dikenal sekalipun. Kesulitan mereka adalah ladang pahala dan keridaan Allah ketika kita bisa memberi dengan penuh keikhlasan, membagi sebagian rezeki yang dititipkan dalam rezeki kita.

Maha Kuasa Allah yang di tangan-Nya hidup kita berada. Pandemi ini bukanlah suatu azab, melainkan beribu kesempatan yang dapat kita pergunakan untuk memperbaiki diri. Terlebih lagi, pandemi ini berlangsung di bulan suci Ramadan, bulan pendidikan bagi umat Muslim untuk meningkatkan ketakwaannya kepada Allah SWT.

Baca Juga:  Indonesia Samudera Toleransi

Bila mampu mengambil hikmah, niscaya kita menjadi orang-orang yang menang. Menang dalam menaklukkan egoisme diri, menang dalam menaklukkan kesombongan sebagai manusia yang terpilih, dan mengembalikan khitah diri sebagai pemimpin bumi yang menghamba kepada Allah. Memahami diri bukan hanya sebagai manusia yang memiliki agama sebagai identitas, tetapi menaikkan kualitas diri sebagai manusia yang beriman, bertakwa, dan akhirnya ikhlas akan ketentuan dan kehendak Allah atas diri kita.

Dengan mensyukuri setiap kejadian yang berlaku atas diri kita dan lingkungan, kita akan senantiasa ingat bahwa Allah yang berkuasa atas setiap hal, sekecil-kecilnya. Tidak ada yang luput dari pengetahuan-Nya, meski kita sebagai manusia berusaha menutupi dan menyembunyikannya. Dengan demikian, kita berserah diri dan menyerahkan setiap keputusan mutlak milik Allah; dan kita menjalaninya dengan penuh kepatuhan sebagai makhluk ciptaan-Nya.

Bersyukurlah kepada-Nya, bahwa ia menciptakan kita dengan fitur akal pikiran. Dia memberikan bukan hanya ruh-Nya agar kita hidup, tetapi juga pengetahuan-Nya sehingga kita dapat membedakan setiap ciptaan-Nya, membedakan benar dan salah, dan kita kemudian juga mampu melakukan berbagai penemuan. Semua itu karena Allah ingin kita tidak hanya menumpang lewat di muka bumi ini, tetapi sejatinya kita harus meninggalkan jejak peradaban dan kebaikan.

Dari kebaikan yang kita torehkan dalam sejarah bumi dan manusia, maka setiap makhluk dapat menyaksikan kesempurnaan ciptaan-Nya yang bernama manusia. Ingatlah lagi bahwa kita diciptakan untuk menjadi khalifah, pemimpin dunia yang membawa kebaikan di muka bumi oleh karena kita juga adalah hamba Allah yang harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita di hari akhir nanti.

Kita juga mesti menjalankan fitrah sebagai manusia yang menjaga bumi, dan bukan sebaliknya. Setelah pandemi ini, seyogyanya kita berlaku seperti yang disebutkan dalam Firman Allah, Quran Surah Al-A’Raf ayat 56, “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.”

Advertisement

Popular