Connect with us

News

Butuh Protokol Tambahan untuk Sekolah Tatap Muka

Published

on

Ilustrasi masuk ruang kelas sekolah dengan mematuhi protokol kesehatan Covid-19 (Foto: Tempo)

SERIKATNEWS.COM – Epidemiolog UGM Bayu Satria Wiratama mengatakan bahwa keputusan untuk memulai pembelajaran tatap muka di sekolah perlu melibatkan sejumlah pihak, mulai dari Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan dan juga pakar epidemiologi.

Dikatakan, langkah-langkah yang perlu diambil di masing-masing daerah, mulai dari asesmen kesiapan hingga manipulasi infrastruktur, karena pengambilan keputusan tidak cukup didasarkan pada zonasi risiko Covid-19. “Zonasi kurang bagus akurasinya, perlu ditambah dengan parameter lain seperti positivity rate juga,” kata Bayu.

Diharapkan, positivity rate sendiri berada di bawah angka 5%. Namun, indikator ini perlu dilihat dari masing-masing daerah, bukan indikator secara nasional. “Dan ini salah satunya selain jumlah yang di-tracing, juga jumlah kasus aktif, jumlah kasus baru, ketersediaan tempat tidur di rumah sakit, dan lainnya,” jelasnya.

Menurut Bayu, keputusan pemerintah memperbolehkan pembelajaran tatap muka pada Januari mendatang dapat dikatakan belum tepat jika melihat data Covid-19 di Indonesia secara umum saat ini. Namun, untuk dapat menakar kesiapan hal ini perlu dilihat dari kondisi di setiap provinsi, kabupaten, atau kota. “Karena ada daerah yang memang kasusnya dari awal sedikit dan tergolong bagus, mungkin di situ bisa dipertimbangkan,” imbuhnya.

Di samping protokol umum Covid-19 seperti menjaga jarak, mengenakan masker, dan mencuci tangan, dalam konteks kegiatan belajar mengajar di sekolah diperlukan sejumlah protokol tambahan.

Protokol ini berupa pengawasan harian kondisi murid, guru dan orang tua murid, pengaturan jam kelas menjadi lebih pendek, pengaturan posisi duduk di kelas dan ruang guru, serta bagaimana memastikan setiap kelas memiliki ventilasi yang baik.

Dia menambahkan, perlu asesmen yang lebih detail untuk pembukaan sekolah pada jenjang SD dan jenjang pendidikan di bawahnya, karena lebih sulit untuk memastikan setiap siswa dapat tetap menerapkan protokol kesehatan. “Karenanya perlu upaya lebih, mulai dari kesiapan guru, edukasi ke anak-anak untuk persiapan mengikuti pembelajaran tatap muka, pengawasan saat belajar, hingga pengaturan jam belajar,” lanjutnya.

Baca Juga:  Presiden Jokowi Dukung Baiq Nuril Cari Keadilan dalam Proses Hukumnya

Anak usia SD ke bawah yang paling susah untuk menggunakan masker. Jadi, tingkat kesulitannya memang lebih tinggi dibandingkan dengan SMP dan SMA.

Sementara itu, terkait penerapan pembelajaran tatap muka di jenjang pendidikan tinggi, masing-masing perguruan tinggi bersama pemerintah daerah setempat perlu berkoordinasi dalam melakukan pengawasan terhadap mahasiswa yang akan memasuki daerah tersebut. Semua mahasiswa yang akan datang ke suatu daerah wajib melakukan karantina mandiri selama 14 hari.

“Kemudian jika memastikan akan melakukan perkuliahan, perlu mempersiapkan kondisi ruang kuliah, pengawasan mahasiswa terkait dengan gejala, komunikasi dengan Dinas Kesehatan, dan lain sebagainya,” pungkas Bayu. (*)

Advertisement
Advertisement

Terkini

Olahraga9 jam ago

Link Live Streaming Manchester United Vs Liverpool

SERIKATNEWS.COM – Pertandingan antara Manchester United dan Liverpool tersaji pada putaran keempat Piala FA 2020-2021. Pertandingan ini dilangsungkan di Old...

News15 jam ago

PLN Beri Layanan Gratis Penyambungan Listrik untuk Korban Gempa di Sulbar

SERIKATNEWS.COM – PT PLN (Persero) memberikan layanan penyambungan listrik gratis bagi korban gempa yang bangunannya rusak di Sulawesi Barat (Sulbar)....

News15 jam ago

Wisatawan Pantai Jayanti Cianjur Terseret Ombak

SERIKATNEWS.COM – Seorang wisatawan terseret ombak di Pantai Jayanti Kecamatan Cidaun Cianjur, Jawa Barat, Minggu (24/1/2021). Diduga, korban bermain terlalu...

Lifestyle1 hari ago

Susu Cair Bisa Suburkan Tanaman Hias

SERIKATNEWS.COM – Susu cair bisa dijadikan sebagai pupuk penyubur tanaman hias. Kandungan kalsium dan vitamin B dalam susu cair mampu...

News1 hari ago

Pasien Covid-19 di Kulon Progo Kembali Melambung

SERIKATNEWS.COM – Sebanyak 44 pasien baru terkonfirmasi positif Covid-19 di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Hal tersebut disampaikan oleh...

Potret1 hari ago

John Paul DeJoria, Seorang Tunawisma yang Jadi Miliarder Berharta Rp37 Triliun

SERIKATNEWS.COM – John Paul DeJoria adalah seorang pebisnis yang sukses menjadi miliarder di Amerika Serikat (AS). DeJoria adalah co-founder perusahaan...

News2 hari ago

Kawasan Wisata di Bintan Mendapat Apresiasi dari Sandiaga Uno

SERIKATNEWS.COM – Penerapan protokol kesehatan di Bintan mendapat apresiasi dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno. “Saya mengapresiasi sejak...

Populer

%d blogger menyukai ini: