Dupl(ikat) Ibnu Muljam Mengintai Indonesia

104
kafir
Ilustrasi (kiblat.net)

Ibnu Muljam dikenal sebagai orang yang taat dalam beribadah, salat, puasa, bahkan hafal Al-Qur’an. Tapi sayang bacaannya tidak masuk kecuali sebatas sampai batas kerongkongannya. Sehingga mudah termakan oleh berita hoaks yang telah disebarkan oleh kaum Khawarij.

Mereka menebarkan hoaks yang menyatakan bahwa Sayidina Ali bin Abi Thalib itu pemimpin yang munafik, kafir dan musyrik. Rupanya Ibnu Muljam belum puas terhadap jawaban Sayidina Ali yang menjawab kaum penentangnya, “Kalimatu haqqin yuraadu bihaa bathilun.” Artinya ungkapan yang diucapkan itu sebuah kebenaran tapi yang ditujunya justru sebuah kebatilan.

Jawaban Sayidina Ali itu dilontarkan setelah peristiwa Perang Shiffin sebagaimana dikutip oleh Al Hafidz Ibnu Katsir dalam kitab Al Bidayah wa Al Nihayah. Usai perang Shiffin, hoaks semakin tersebar. Kaum Khawarij meneriakkan, “Laa hukma Illa lillahi.” Artinya Tiada hukum kecuali untuk Allah SWT.

Kaum Khawarij menolak kekhilafahan Sayidina Ali. Ali dianggap tidak adil dan tidak menjalankan aturan Allah SWT. Hal itu menegaskan seolah-olah Kaum Khawarijlah yang paham hukum Allah. Tapi hakikatnya mereka tidak pernah paham bahwa perdamaian itu justru esensi dari ajaran Islam.

Diakui atau tidak, saat ini umat Islam di Indonesia sedang mengalami situasi yang meningkat ketegangannya dengan sesama muslim. Jika dipetakan secara jeli, kelompok muslim yang relatif tetap toleran dan sesuai dengan yang diajarkan para Wali Songo namun ada sekelompok kecil umat Islam yang mengklaim bahwa Islam ala mereka yang benar, (mungkin mereka lupa sejarah Islam masuk bumi nusantara). Meski kelompok itu kecil, tapi ributnya luar biasa. Ditambah persinggungan politik, makin menjadi-jadilah duplikat Ibnu Muljam versi Indonesia.

Ideologi Ibnu Muljam adalah ideologi yang menganggap orang yang tidak sepemikiran dengannya sebagai kafir (takfiri). Orang yang berbeda dengannya adalah sesat. Oleh karena itu, wajib dibinasakan. Dia selalu berteriak, “berpeganglah pada hukum Allah.” Padahal maksudnya, hukum Allah menurut versi kelompoknya. Jika orang berbeda versi tentang hukum Allah, Ibnu Muljam langsung menuding orang tersebut menentang agama. Dari sekadar seorang Ibnu Muljam, dia ingin menjelma menjadi Imam besar bahkan Tuhan.

Baca Juga:  Ada Apa dengan Alutsista TNI?

Kita tahu dari kelompok mana yang menuduh Presiden Indonesia yang jelas-jelas seorang muslim tapi dituduh komunis atau PKI kan? Kita tahu Ketua Umum PBNU yang jelas-jelas seorang nahdliyin tulen tapi diserang sebagai Syiah. Buya Syafii yang jelas-jelas mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ketika menyatakan dukungan ke Ahok dihujat habis-habisan oleh kader Muhammadiyah. Menteri Agama difitnah dengan berbagai kalimat saat mengeluarkan daftar 200 ulama yang recomendate untuk ceramah/tausiah. Ansor dan Banser disangka menjadi beking orang kafir saat melakukan pengamanan rutin tiap peringatan natal dan sebagainya.

Beberapa kelompok yang mudah kita definisikan sering melontarkan cacian, hinaan, fitnah, hasut adalah kelompok yang mengklaim paling Islami. Apalagi sejak berkembangnya organisasi HTI, isu tudingan pemerintah thogut makin mengerucut. Kelakuan-kelakuan model pemikiran Ibnu Muljam di Indonesia bisa dimaknai sebagai intoleransi hingga radikalisme. Pada level intoleransi penyebutan kafir, Syiah, pro China, komunis, aseng, LGBT, tidak Islami, dan tudingan lain mudah ditemui terutama di media sosial. Sementara pada tataran radikal, mereka para teroris yang melakukan bom bunuh diri. Versi kepolisian bisa disebut JAT (Jamaah Anshorut Tauhid), JAD (Jamaah Anshorut Daulah), JI (Jamaah Islamiyah), Kelompok Santoso dan masih banyak yang lainnya.

Ditingkat masyarakat, intoleransi ala Ibnu Muljam mudah kita temui bahkan di kehidupan sehari-hari. Baik di lingkungan pergaulan maupun di media sosial. Dan rata-rata para duplikat Ibnu Muljam Indonesia itu dapat diasosiasikan ke kelompok-kelompok tertentu. Sepanjang Pilkada serentak 2018 hingga Pemilu 2019, mereka mulai mengelompok. Sejak awal mereka melawan dengan menggunakan tagar. Mengapa mereka dapat diidentifikasikan dengan merapat ke lawan petahana? Karena Presiden Jokowi sangat dekat dengan ulama-ulama besar dan mereka menyelinap dalam sebuah kepentingan. Mereka tahu ada kepentingan besar politik yang bisa mereka tunggangi sehingga mereka dapat merapat tanpa reserve.

Baca Juga:  Ketimpanpangan Ekonomi Dan Rekomendasi Munas-Konbes NU

Bukti nyata jelas saat Pilkada DKI 2017 lalu saat petahana Ahok melawan Anies. Kampanye hitam secara masif dikembangkan. Pertama, isu yang diangkat adalah bahwa muslim harus dipimpin gubernur/pemimpin muslim. Hal yang belum pernah terjadi dalam sejarah Pilkada di Indonesia selama ini. Jelas-jelas pengaburan makna dari tafsir (bukan terjemahan) Al Maidah 51. Isu ini dipertajam dalam turunan-turunan isu lain. Kedua, muslim pemilih Ahok tidak boleh disalatkan. Padahal jelas-jelas Rasulullah tidak pernah melakukannya namun hal ini diterapkan di DKI. Ketiga, pengusiran Wakil Gubernur Djarot yang jelas-jelas seorang muslim selesai salat Jumat. Keempat, demo-demo menolak Ahok menenteng kalimat-kalimat ala Ibnu Muljam seperti “seret Ahok”, “Gantung Ahok Di sini”, “Bunuh Ahok” dan lain sebagainya. Yel-yel serta orasi yang dilakukan persis seperti Ibnu Muljam yang ditulis di awal.

Ya, duplikat Ibnu Muljam di Indonesia itu tidak sekedar berjubah, berteriak takbir, ceramah di masjid, menyajikan dalil dan hadis, mengupas ayat, berkhotbah di mimbar Jumat, berjidat hitam, bertasbih dan segala atribut yang sama persis dengan muslim Indonesia kebanyakan. Bedanya hanya dalam akal pikiran, tutur kata, hati dan perasaan mereka. Mereka merasa paling benar, sedangkan yang lain kafir meski beragama Islam.

Kondisi ini terus dipelihara dan dikembangkan demi kepentingan Pilpres. Sudah terlihat narasi-narasi yang dikembangkan oleh duplikat Ibnu Muljam di Indonesia saat ini. Saat banyak Ulama besar yang santun, memegang Islam dengan benar, memiliki adab, berilmu tinggi justru malah tidak didekati. Mereka malah merapat ke ulama yang menganjurkan tidur di masjid dan salat di Monas. Mereka mengidolakan ulama yang bicara kotor seperti pantat China, biadab, anjing, dan caci maki lain. Mereka mendekat ke ulama yang memfitnah ke sesama muslim bahkan umaro.

Duplikat Ibnu Muljam baru kini makin banyak jumlahnya di sekitar kita, merekalah yang akan menjadikan agama rahmatan lil alamin ini menjadi ajaran kekejian. Merekalah yang setiap hari teriak-teriak dengan penuh kemarahan. Semakin mereka beribadah di masjid dengan pakaian yang tidak sewajarnya semakin menimbulkan pertanyaan bagi kita yang ada di dekatnya.

Baca Juga:  Hoax sebagai Propaganda Hitam Menuju 2019

Oleh karena itu, sebagai umat muslim terbesar di dunia kita menggaungkan dan kita rawat Islam yang rahmatan lil alamain. Dan menjadikan Indonesia menjadi negara yang baldatun toyyibatun waa robbun ghafur.