Connect with us

Opini

Jokowi dan Ma’ruf Amin Vs Prabowo dan Sandiaga Uno Mana yang Paling Banyak Saat Kita Mengklik Di Google?

Published

on

Jokowi dan Ma'ruf Amin Vs Prabowo dan Sandiaga Uno Mana yang Paling Banyak Saat Kita Mengklik Di Google?

Sejak masing-masing capres dan cawapres diumumkan secara resmi, sehari menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-73, saya mencoba meng-klik google untuk membandingkan siapa yang paling banyak beredar di dunia online? Hasilnya, meskipun tidak terlalu mengejutkan, membuat kita bisa meraba popularitas mereka. Sebagai bumbu-bumbu penyedap, saya mencoba mencari tahu juga popularitas orang-orang yang ikut naik daun pada saat pengumuman dua calon yang sama-sama punya penggemar fanatik ini. Inilah yang saya temukan.

Jokowi Maruf Amin vs Prabowo Sandiaga Uno
Jika Jokowi mendapat sekitar 75.200.000 hasil dalam 0,58 detik dan Maruf Amin mendapat 68.400.000 dalam 0,47 detik dijumlahkan, kita mendapatkan angka 143.600.000, sedangkan Prabowo (38.900.000) ditambah Sandiaga Uno (19.100.000) dijumlahkan, kita mendapat angka 58.000.000. Kita tentu tidak heran jika Jokowi plus Maruf Amin mendapatkan angka yang fantastis karena duanya sama-sama populer. Jokowi sang petahana pasti banyak diberitakan, sedangkan Maruf Amin sebagai Ketua MUI jelas mendapatkan liputan yang cukup luas.

Jika hanya Maruf Main dan Sandiaga Uno yang diperbandingkan, angkanya ternyata cukup mencolok: 68.400.000 lawan 19.100.000. Jadi, faktor cawapres untuk saat ini memang begitu menentukan. Bagaimana seandainya Mahfud MD yang dipilih Jokowi dan koalisi dibandinkan Sandiaga Uno? Mengagetkan juga karena angkat Sandiaga Uno lebih tinggi ketimbang Mahfud MD yang mendapatkan 8.780.000 sementara Sandiaga Uno seperti di atas, mendapatkan 19.100.000. Jadi tingkat kepopuleran Sandiaga Uno di dunia maya lebih tinggi daripada Mahfud MD.

Bagaimana dengan AHY?
Bagaimana pula seandainya Agus Harimurti Yudhoyono jadi dipasangkan dengan Prabowo? Berapa angkat yang didapat saat kita mengklik nama itu? Saya saja kaget karena hasilnya begitu rendah: 1.290.000. Kok bisa kecil begitu sih? Ternyata saat saya klik AHY, hasilnya fantastis, yaitu: 13.700.000. Mengapa bisa begitu? Rupanya nama AHY jauh lebih populer ketimbang nama lengkapnya. Maklum selama ini media dan juga baliho raksasa yang dipasang oleh partai Demokrat selalu menonjolkan nama AHY. Hal yang sama terjadi saat kita mengetik kata Ahok maka yang keluar angka 19.400.000, sedangkan kalau kita mengklik kata Basuki Tjahaya Purnama, kita hanya memperoleh angka 4.940.000. Kata Ahok jelas lebih populer dari nama panjangnya karena nama tionghoanya itulah yang sering disebut media massa maupun pendukungnya: Ahokers, bukan Basukers.

Baca Juga:  Mengobrol Mengenai Deontologi

Bagaimana pula Sandi?
Anda akan sangat terkejut saat mengetik kata sandi di google. Hasilnya sungguh mencengangkan: 88.500.000. Bandingkan dengan jika kita mengklik nama lengkapnya Sandiaga Uno. Kita hanya mendapatkan angka 19.100.000. Kok bisa begitu sih? Jelas, kata sandi bisa mempunyai arti lain selain nama. Bisa berarti rahasia.

Saya iseng-iseng meng-klik kata Xavier dan hasilnya fantastis: 189.000.000. Namun begitu saya ketik Xavier Quentin Pranata hasilnya hanya 12.900. Maklum, nama Xavier banyak sekali di samping nama kampus dan tentu saja yang paling populer adalah Profesor Xavier alias Profesor X di X-Man. Saat saya click Profesor X, yang keluar angka ini 121.000.000. Wow!

Fakta di balik angka
Kita yang hanya melihat angka-angka di atas, bisa menilai siapa yang elektabilitasnya tinggi. Namun, harap dicatat, popularitas di dunia internet belum tentu berbanding lurus dengan kenyataan di lapangan. Buktinya banyak survey yang gagal memprediksi pasangan yang menang dan yang kalah. Apalagi kalau lembaga survey itu abal-abal. Alias Asal Dibayar Pasti Ngegombal.

Meskipun begitu, ada hal yang lebih penting lagi untuk kita cermati. Promosi baik maupun buruk sama-sama membuat orangnya terkenal. Orang yang banyak haters-nya belum tentu lebih rendah perolehan angkanya ketimbang yang banyak fans-nya. Bisa jadi yang dibenci justru semakin populer. Dalilnya begini: siapa pun yang diberitakanburuk sekalipuntetaplah dipromosikan. Siapa yang paling banyak dibicarakandengan reputasi buruk punmenjadi sangat populer bukan?

Otak atik angka yang tampaknya tidak penting ini bisa jadi hiburan bagi kita. Siapa tahu jadi masukan bagi tim kampanye masing-masing untuk membuat tag line yang singkat dan menarik serta populer.

Advertisement

Popular