Connect with us

Opini

Keadilan dalam Vaksinasi

Published

on

Ilustrasi: Reuters

DALAM teori keadilan, John Rawls memulai argumennya dengan eksperimen pemikiran: Veil of Ignorance. Sebuah selubung ketidaktahuan. Pertanyaan yang sulit untuk dijawab: Jika kita semua duduk di balik tabir, tidak tahu status sosial kita, prinsip atau struktur sosial seperti apa yang akan kita pilih untuk memastikan keadilan dalam masyarakat? Pertanyaan ini semakin relevan di tengah kondisi semua negara tengah berlomba untuk mencapai herd community dalam menghadapi pandemi Covid19.

Program Vaksinasi

Idealnya, setidaknya dibutuhkan lebih dari satu dekade untuk meneliti vaksin hingga mencapai efikasi terbaik dan aman untuk digunakan. Namun, kebutuhan mendesak akan solusi dalam memerangi pandemi Covid-19 telah menciptakan keajaiban. Rusia yang pertama memulai vaksinasi massal vaksin SputnikV, Inggris menyusul dengan vaksin Pfizer dan Amerika dengan vaksin Moderna yang di-claim memiliki efikasi 95 persen dan Johnson and Johnson yang cukup sekali suntik saja.

Hingga bulan September 2021, Singapura telah mencapai herd community dengan menyelesaikan vaksinasi lengkap sebanyak 82 persen dari total penduduknya. Percaya diri dengan kekebalan kelompok, sekolah dan perkantoran dibiarkan beroperasi dengan penerapan protokol kesehatan ketat. The Ministry of Health (MOH) Singapura mengkonfirmasi lonjakan kasus harian pada tanggal 30 September 2021 lalu sebanyak 2.478 kasus. Meski demikian, negara yang disebut B.J. Habibie sebagai “little red dot” itu mengaku tak risau karena mayoritas penderita Covid-19 hanya bergejala ringan.

Di Indonesia, dari target minimal 70 persen vaksinasi, saat ini baru mencapai 20 persen. PPKM sudah semakin dilonggarkan, bioskop kembali buka dan tak lama lagi konser musik mulai digelar. Di tengah positivity rate yang tak pernah kurang dari 8 persen (ketentuan WHO di bawah 5 persen), kebijakan-kebijakan tersebut diambil atas nama “agar perekonomian kembali pulih”. Belajar dari apa yang terjadi di negara-negara di Eropa usai menggelar pertandingan bola dengan penonton yang memenuhi bangku tribun, Jepang pasca Olimpiade Tokyo atau New Zealand pasca pergelaran konser musik yang dihadiri lima puluh ribu penonton, seharusnya Indonesia tak perlu latah membuat acara-acara serupa.

Baca Juga:  Karena Mendukung Jokowi, Rhenald Kasali Dikambinghitamkan

Pandemi belum usai. Banyak negara mengalami puncak kesekian yang membuat permintaan akan vaksin booster semakin meningkat. Beberapa negara kaya bahkan telah mengunci sebagian besar pasokan vaksin dengan menandatangani kontrak dengan pabrik farmasi atau laboratorium penelitian. Menurut laporan Associated Press, negara-negara tersebut telah membeli setengah dari vaksin yang ada di pasar. Ini artinya persaingan untuk mendapatkan vaksin utama, apalagi vaksin booster akan semakin ketat.

Vaksinasi di Indonesia

Pencapain target vaksin di Indonesia ibarat jauh api dari panggang. Belum semua tenaga kesehatan mendapatkan vaksin (suntikan pertama) sejumlah elit sudah beramai-ramai mendapatkan suntikan vaksin booster Moderna. Tidak ada angka valid yang dapat menunjukkan berapa tepatnya jumlah elit yang telah mendapatkan suntikan kedua Moderna karena dilakukan “di balik selubung”.

Di mana keadilan? Jika kita tidak yakin akan lahir di negara mana, apakah kita akan tetap setuju dengan prinsip pasar yang diterapkan pada vaksin Covid-19, di mana yang kaya mendapat perlindungan sementara yang miskin hanya bisa menunggu? Ketidaksetaraan dalam kondisi kedaruratan tampaknya akan semakin mengemuka. Dalam program dialog “CNN Prime Time with Cuomo”, Andrew Taylor, Asisten Direktur Duke Global Health Innovation Center memperkirakan Amerika Serikat mungkin akan memiliki lebih dari dua kali cukup untuk memvaksin total populasi mereka. Sementara Kanada akan memiliki lima kali lipat untuk populasi mereka.

Ini bukan hanya masalah moral, melainkan hak dasar manusia yang mendesak. Mengetahui bahwa beberapa orang di negara-negara miskin kemungkinan besar tidak akan divaksin sampai tahun 2023, sementara virus SARS COV2 terus berganti muka, menciptakan turunan-turunan baru.

Keadilan Distributif

Keadilan dalam pemerataan vaksin belum terjawab, Indonesia kini sedang dihadapkan dengan kejadian pasca vaksin. Mengutip majalah Tempo, lebih dari 10 ribu kasus Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) dilaporkan ke Komisi Nasional KIPI. Dari angka itu, lebih dari 10 orang meninggal. Meski Komnas KIPI menyatakan kematian itu tak berhubungan dengan vaksinasi Covid-19, keluarga korban meradang karena investigasi dan autopsi tidak transparan. Belum ada aturan kompensasi bagi peserta vaksin yang meninggal. Pemerintah seolah gamang menanganinya. Padahal diperlukan aturan yang jelas dan penanganan transparan untuk mencegah kampanye anti vaksin Covid-19 yang mulai merebak di mana-mana.

Baca Juga:  PHK karena Persekusi (Lawan !)

Konsep Rawls tentang “keadilan sebagai keadilan” menyatakan bahwa “Keadilan sebagai keadilan dimulai dari gagasan yang harus dipahami sebagai sistem kerja sama sosial yang adil”. Artinya, pengertian keadilan dalam konsepsi keadilan sebagai keadilan hanya cukup bermakna dalam konteks konsep kerja sama sosial dasar persamaan dan kebebasan. Konsep kerja sama yang mendefinisikan gagasan Rawls tentang keadilan dapat dipahami melalui tiga elemen spesifiknya. Ketiganya menentukan elemen yang mendefinisikan konsep kerja sama yang diadopsi oleh Rawls. Pertama, kerja sama dipandu oleh aturan yang diakui publik yang diterima oleh mereka yang bekerja sama sebagai pengaturan yang tepat dari perilaku mereka, dan berbeda dari aktivitas yang dikoordinasikan oleh perintah yang dikeluarkan oleh pusat otoritas. Kedua, kerja sama melibatkan syarat-syarat kerja sama yang adil, termasuk hak dan kewajiban dasar yang diterima oleh masing-masing dan semua peserta secara wajar. Ketiga, kerja sama menuntut setiap peserta memperoleh keuntungan rasional dalam hal kebaikan yang ingin mereka capai, dilihat dari sudut pandang mereka sendiri (Rawls-Revised Edition, 1999).

Konsepsi publik tentang keadilan harus dicirikan oleh syarat-syarat kerja sama sosial yang adil. Pertanyaan mendasar Rawls tentang keadilan politik adalah “Apa konsepsi keadilan yang paling tepat untuk menentukan ketentuan kerjasama sosial antara warga negara yang dianggap sebagai orang yang bebas dan setara?”. Mengejar pertanyaan ini membawa Rawls pada gagasan keadilan sebagai keadilan. Gagasan ini terlalu ideal, jauh dari apa yang sehari-hari kita rasakan dalam bernegara. Sementara itu dalam kerangka global, bukan keputusan yang sulit sebenarnya untuk memasukkan negara-negara miskin ke dalam program alokasi vaksin yang terjangkau dan setara. Kesehatan adalah hak setiap warga negara.

Advertisement
Advertisement

Terkini

Lifestyle44 menit ago

Tips Program Hamil Berkualitas

SERIKATNEWS.COM – Setiap pasangan suami-istri menginginkan untuk memiliki keturunan. Namun, sebagian yang baru menikah ada yang menunda. Ada pula yang...

Sosial-Budaya1 jam ago

Said Abdullah Resmikan Masjid Abdullah Syechan Baghraf Legung Timur

SERIKATNEWS.COM – Warga Desa Legung Timur, Batang-Batang, Sumenep tampak antusias dan bahagia menghadiri peresmian Masjid Abdullah Syechan Baghraf. Acara sakral...

Ekonomi7 jam ago

Gus Halim: Santri Berperan Gerakkan Ekonomi Desa

SERIKATNEWS.COM – Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar menyatakan, santri berperan besar dalam menggerakkan ekonomi desa....

Sosial-Budaya9 jam ago

Ketum PBNU Ajak Para Santri Refleksikan Kembali Sejarah Masuknya Islam di Indonesia

SERIKATNEWS.COM – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siradj mengingatkan bahwa Islam di Indonesia pada dasarnya...

News9 jam ago

Kejutan Hari Santri, Kemnaker Luncurkan Seribu Beasiswa Talenta Santri

SERIKATNEWS.COM – Pada gelaran Malam Puncak Amanat Hari Santri 2021, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah memberikan kejutan kepada para santri...

Sosial-Budaya9 jam ago

Peringatan HSN 2021 Banyak Diwarnai Kegiatan Akademik

SERIKATNEWS.COM – Sejak adanya keputusan Presiden nomor 22 Tahun 2015, Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU) selalu...

Sosial-Budaya9 jam ago

RMI PBNU Targetkan Pemetaan SDM NU yang Lebih Konkret

SERIKATNEWS.COM – Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU) menargetkan adanya pemetaan Sumber Daya Manusia (SDM) NU yang...

Populer

%d blogger menyukai ini: