Connect with us

Budaya

Konservasi Lontar Masih Terganggu Sikap Sebagian Masyarakat

Published

on

Konservasi lontar oleh penyuluh Bahasa Bali di Jembrana © Istimewa

SERIKATNEWS.COM – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jembrana tengah menggalakkan konservasi lontar, tetapi terkendala sikap sebagian masyarakat yang masih belum menyadari pentingnya konservasi warisan budaya berusia ratusan tahun tersebut.

Dilansir dari Radar Bali, Sabtu (1/8/2020), Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Ida Ayu Made Dharma Yanti Putra menduga bahwa warga Jembrana yang memiliki lontar di rumahnya masih banyak. Diperkirakan jumlahnya bisa seribu lebih lontar yang disimpan masyarakat, sehingga yang bisa dikonservasi hanya sebagian karena ada kesadaran dari pemiliknya.

“Padahal, kami ingin menyelamatkan lontar, bukan mengambil lontarnya,” kata Ida.

Dia mengatakan bahwa sejak upaya konservasi lontar dilakukan tahun 2016 lalu, sebanyak 596 cakep lontar dari warga yang menyimpan diserahkan pada dinas untuk dikonservasi oleh penyuluh bahasa Bali yang digandeng dinas untuk konservasi lontar.

“Namun, dari total lontar tersebut hanya 464 cakep lontar berhasil dikonservasi, sisanya sebanyak 132 cakep lontar rusak. Bahkan, ada lontar yang rusak parah, sebagian jadi debu,” jelas Ida.

Menurutnya, lontar merupakan warisan budaya yang harus dikonservasi. Karena dari lontar yang sudah usianya di atas seratus tahun tersebut tersimpan khazanah budaya dan keilmuan dari pendahulu. Seperti lontar tentang usada atau pengobatan yang sudah dipraktikkan sejak generasi tua dulu.

Pihaknya mengaku masih menelusuri keberadaan lontar yang masih tersimpan oleh warga. Karena berdasar penelusuran sebelumnya, setiap orang menyimpan lontar hingga 60 cakep.

“Melalui penyuluh bahasa Bali yang diajak bekerja sama melakukan upaya konservasi lontar, melalui pemerintahan desa juga mengimbau warga yang menyimpan lontar untuk dilaporkan pada dinas agar dikonservasi,” katanya.

Ida menambahkan, lontar yang sudah berhasil dikonservasi, sudah tersimpan di perpustakaan daerah agar bisa dijadikan bahan pelajaran bagi generasi sekarang. Warga juga dapat menitipkan lontar agar bisa dirawat dengan baik sehingga warisan budaya berusia ratusan tahun tersebut tidak rusak.

Baca Juga:  Antropolog Sebut Rendang sebagai Identitas Budaya

“Ke depan lontar akan diterjemahkan dan dibuatkan versi digitalnya,” pungkasnya.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular