JAKARTA – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mendorong seluruh perguruan tinggi di Indonesia untuk berani melahirkan inovasi yang berdampak langsung bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang punya cita-cita besar. Kita ingin Indonesia menjadi negara yang masyarakatnya sejahtera. Karena itu kita harus berusaha memimpin kemajuan melalui ilmu pengetahuan dan teknologi,” ujar Brian Yuliarto dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Mendiktisaintek menegaskan bahwa perguruan tinggi memegang posisi strategis sebagai motor penggerak peradaban. Oleh sebab itu, fungsi tridharma perguruan tinggi, khususnya riset dan inovasi harus diorientasikan untuk menjawab kebutuhan masyarakat, dunia usaha, dunia industri, hingga pemerintah.
“Kampus itu menjadi pusat-pusat kemajuan. Orang masuk ke kampus harus melihat sesuatu yang berbeda dari lingkungan sekitarnya. Kami ingin mensosialisasikan gerakan Kampus Berdampak, yaitu apa yang sudah bisa disumbangkan kampus untuk masyarakat, bangsa, dan industri,” imbuhnya.
Salah satu wujud konkret dari konsep Kampus Berdampak yang disoroti Mendiktisaintek adalah kepedulian akademisi terhadap kelestarian lingkungan, khususnya pengelolaan sampah terpadu berbasis sains dan teknologi.
Brian mengapresiasi keberadaan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang dimiliki Universitas Diponegoro (Undip) sebagai role model yang patut dicontoh oleh perguruan tinggi lain di Indonesia.
“TPST Undip merupakan contoh TPST yang dibutuhkan masyarakat. Saya minta kapasitasnya ditingkatkan agar dapat membantu masyarakat Tembalang. Kalau bisa ada pelatihan untuk masyarakat agar terbiasa memilah sampah, sehingga bisa diolah di sini dan menjadi percontohan bagi kampus-kampus di seluruh Indonesia,” tuturnya.
Ia menambahkan, penanganan isu lingkungan seperti sampah tidak bisa diselesaikan melalui satu sudut pandang saja, melainkan membutuhkan integrasi ilmu lintas disiplin.
“Pengelolaan sampah ini membutuhkan social engineering (rekayasa sosial), rekayasa biologi, dan engineering (teknik). Ini adalah kerja multidisiplin yang diharapkan menjadi percontohan dan memberikan dampak nyata,” tegas Brian. (*)